Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Impian Gila


__ADS_3

Semua keluarga berdiri kala melihat seorang pria berdiri di depan lift sembari menggendong seorang gadis yang tidak bergerak sama sekali.


Netra mata Aileen menajam serta tarikan napaf yang begitu dalam ia ambil. “Kalyan!” pekiknya marah.


“Lanjutkan makannya. Aku harus bawa dia istirahat.” Kalyan acuh dan menatap wajah tua di ujung jajaran para keluarga.


“Grandpa, Dina demam. Aku akan merawatnya.” Sebuah kalimat yang bermaksud sebagai ijin untuk membawa gadis pilihan sang kakek ke dalam rumah lebih tepatnya ke dalam kamar.


Leo mengangguk paham. “Biar bibi nanti yang bawakan perlengkapan untuk Dina.” lanjutnya.


“Perempuan tidak benar itu…Papah, ini tidak bisa di biarkan. Lihat bajunya? Badannya? Itu tidak bagus dengan Kalyan, Pah.” Aileen yang marah hanya bisa berusaha menjernihkan isi pikiran Leo.


Beberapa detik, tak ada respon apa pun dari pria tua itu. Ia justru duduk di meja makan bersama dengan yang lain.


“Heh lihat anak macam apa itu? Paling besok atau lusa sudah ada kabar hamil di luar nikah. Hihihi.” Elvisa meledek sembari terkekeh di depan Aileen.


Mata Aileen melotot tajam padanya. Tak lama kemudian, ia berjalan cepat menuju kamar sang anak.


“Kalyan!” Teriaknya menggedor pintu.


“Kalyan! Ini mommy, buka pintunya.” Tak ada sahutan apa pun dari dalam.

__ADS_1


Benar-benar, Aileen ingin menelan kembali anak durhaka itu. Bahkan keberadaannya di rumah ini seperti tak di anggak.


Semua keluarga makan dengan tenang tanpa perduli dengannya yang gelisah ingin memarahi Adina.


Di dalam kamar, Kalyan baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Rambut basahnya begitu menambah kadar ketampanan di wajah pria tersebut.


Sekali lagi tangannya menyentuh kening gadis yang berbaring menutup mata di atas tempat tidur miliknya.


“Dina, kau harus baik-baik saja. Aku akan menyesal kalau kau sakit karena ulahku, Din.” tuturnya dalam hati.


“Ternyata begini yah rasanya di khawatirkan sama orang yang kita harap? Hehehe jadi rela deh sakit-sakit biar si Kalyan ini perhatian terus.” Adina terkekeh dalam hati mendengar Kalyan begitu cemas padanya.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu di luar.


Tok Tok Tok


“Tuan, ini alat untuk kompres badan Non Dina, Tuan.” Mendengar suara pelayan, sontak Kalyan bergegas membuka pintu.


***


“Bun, ini Tuan Leo kasih kabar.” Candra menghampiri sang istri yang belum juga beranjak dari sofa ruang tamu.

__ADS_1


“Ayah, apa katanya? Apa itu tentang Adina?” Maya tampak tidak sabaran bertanya.


“Iya. Adina baik-baik saja. Sepertinya mereka dari jalan-jalan dengan Kalyan. Sekarang Adina tidur di sana. Katanya Kalyan gendong dari helikopter.” Raut cemas di wajah wanita paruh baya itu semakin jelas setelah mendengar penjelasan sang suami.


“Yah…bukannya tidak baik yah anak gadis itu tidur satu atap dengan pria itu? Sedangkan mereka belum sah?” Maya.


Candra tampak menghela napas. “Anak kita bukan hanya berdua kan di sana, Bun? Lagi pula Ayah percaya dengan keluarga mereka. Apalagi Tuan Leo.” tambahnya.


Akhirnya usai mengakhiri perdebatan pendek itu, keduanya baru memutuskan untuk tidur.


Tak ada yang tahu, jika di rumah ini Leo tampak tersenyum-senyum di ruang kerjanya.


“Hahaha aku ini pantas di sebut apa yah? Kakek? Grandpa? Rasanya tidak ada yang pantas. Dengan membiarkan cucuku dan cucu menantuku tidur satu kamar. Itu hal yang sangat gila. Hah…Tapi, ini kemauan Adina. Tidak mungkin aku gagalkan. Bahkan ini salah satu impiannya.”


“Please Kek, nanti ketika aku menjalankan rencanaku. Pokoknya satu impian Dina. Tidur satu kamar sebelum sah. Yah Kek? Kakek harus jadi pemeran pelindung.” Itulah permintaan konyol yang hampir membuat jantung Leonardo melompat seketika.


Semua keingina terus Adina lakukan, tanpa membuka mata gadis itu bergerak mengigau memanggil nama Kalyan.


“Kal, pergi dari ku. Aku benci kau.” ucapnya lirih.


Tentu mendengar ucapan Adina, Kalyan takut jika benar gadis itu akan membencinya. Sekuat tenaga ia memeluk tubuh Adina yang sudah di beri pakaian oleh sang bibi.

__ADS_1


__ADS_2