
Adina tampak memutar matanya malas. Sudah bisa di tebak pasti semua ulah Kalyan. “Sudahlah kembali bekerja.”
Motor besar melaju dengan kecepatan tinggi. “Semoga saja anda tidak berakhir di jalanan, Ketua. Kasihan nasib Tuan Kalyan.” tuturnya sembari menggelengkan kepalanya memasuki kantor.
Sedangkan di sisi yang berbeda, kembali di suasana kediaman Candra.
“Em, Pak saya bisa bicara serius?” tanya Kalyan menatap pria yang duduk berhadapan dengannya.
Mata Candra sontak menatap sang istri dengan dalam. Maya tersenyum lembut pada sang istri.
“Katakanlah, Nak.” ujar Candra dengan senyuman.
Tarikan napas terlihat jelas di tubuh Kalyan. “Akhir pekan saya berniat menikahi Adina, Pak. Saya yang akan mengurus semuanya keperluan pernikahan kami.”
__ADS_1
“Akhir pekan ini? Apa tidak mendadak? Apa Adina berbuat sesuatu di luar sana, Nak? Haduh kami bingung menghadapi anak itu.” gerutu Candra menduga jika semua terjadi karena sang anak.
Kalyan seketika menggeleng. “Tidak, Pak. Saya sudah menyelesaikan urusannya di luar sana. Maka dari itu pernikahan kami tidak ada lagi halangannya. Saya kita tak ada lagi alasan Adina menolak untuk menunda pernikahan kami.” terang Kalyan dengan yakin.
“Itu sangat bagus. Lagi pula Ibu juga setuju jika pernikahan kalian di cepatkan. Nak Kalyan pasti bisa merubah anak kita, Ayah.” Maya segera buka suara dengan wajah tersenyum puas.
“Tapi Ayah takut jika Adina menolaknya, Bunda. Begini saja, bagaimana kalau hal ini kita bicarakan dengan Adina dulu, Nak Kalyan?” ucap Candra dengan sopannya.
“Tidak masalah, Pak. Tapi hal ini sebenarnya sudah saya bicarakan semalam dengan Adina. Dan semua yang urusannya yang menjadi alasan untuk menunda pernikahan sudah saya selesaikan juga.”
Sedang di kediaman Leonardo justru peperangan terjadi antar mulut.
“Papah tolonglah sekali ini saja beri aku kekuasaan mengendalikan anakku. Kalyan putraku, Pah. Aku ibu yang melahirkan anakku.” Aileen berusaha dengan cara halus untuk menyentuh hati sang ayah.
__ADS_1
“Tidak, Aileen. Keputusan Papah sudah bulat. Anakmu minta di nikahkan akhir pekan ini. Dan itu artinya semua saham beralih padanya. Dan semua hak mu juga akan pindah padanya. Kecuali saham yang ku beri untuk kalian anak-anakku.” Sesuai dengan perjanjian beberapa bagian saham yang di kelola oleh Aileen akan di berikan sepenuhnya dengan pemilik perusahaan kembali.
Karena memang itulah asal muasal saham dari usaha Leo. Sedang 10% saham yang di atas namakan dua anak Leonardo itulah hak mereka.
Sungguh Aileen mati kutu kali ini. Hidup tanpa kekuasaan yang besar baginya hidup seperti tanpa oksigen. Menyesakkan dada.
“Wanita itu. Adina kau benar-benar membuat hidupku seperti di neraka.” tuturnya dalam hati penuh kebencian pada calon menantu yang tak di inginkannya.
“Aku bersumpah akan membuat rumah tangga kalian seperti di neraka. Tidak akan ku biarkan kau bahagia dengan anakku. Enak saja…kau tidak pantas untuk anakku, Kalyan. Dia terlalu berharga untuk wanita seperti mu. Ini gila…bagaimana bisa aku hampir menyerah kemarin untuk mengalah. Tidak. Anakku tidak boleh bersama wanita itu terus. Apa pun caranya akan ku lakukan nanti.”
Sungguh, Aileen masih tidak bisa berdamai dengan pikirannya sendiri.
“Aku pergi bekerja dulu.” Brandon yang saat itu menghampiri sang istri membuat Aileen terkejut.
__ADS_1
Wajah pias wanita di depannya sungguh memuakkan di mata Brandon. Namun, bagaimana pun dia adalah istrinya. Wanita yang sudah setia merawatnya dalam keadaan sehat mau pun sakit.