Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Mandi Bersama


__ADS_3

Aliran darah yang semula pelan kini mendadak terasa seperti berlarian kesana kemari memberontak. Kulit putih bersih bertabur busa sabun seketika memerah menahan gejolak yang sangat menggelisahkan hati.


"Ya Tuhan, jika seperti ini terus usiaku bahkan bisa lebih pendek dari Grandpa." keluh Kalyan menatap linglung gorden di depannya yang terisi gadis tengah mandi dengan shower.


Berusaha baik-baik saja meski sesuatu di bawah sana sudah tegap berdiri.


Tanpa Kalyan tahu di dalam sini Adina tersenyum-senyum sendiri mendapati dirinya yang bersenandung ria sembari mengguyur seluruh tubuhnya dengan air segar.


"Hahaha...maafkan aku, Kek. Cucumu ku latih dulu sebelum jadi suamiku. Jangan sampai dia mudah terjerat gadis lain." ucapnya dalam hati.


Hingga beberapa menit pun berlalu dengan cepat.


Adina keluar dengan handuk mini yang semalam sudah ia pakai. Dengan gerakan tanpa dosa ia berjalan menuju keluar melewati sosok Kalyan yang juga baru selesai dengan mandinya.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" pekiknya terkejut mendapati tangan kiri miliknya sudah tercengkeram oleh tangan kekar milik cucu Leonardo itu.


Tubuh langsing Adina pun terhempas pelan pada tembok kamar mandi yang tampak basah di sana. Yah, Kalyan mendekatinya dan menghimpit tubuhnya ke tembok.


Satu kata yang Adina lontarkan dalam hati, Tampan. Sungguh wajah yang rupawan dengan tetesan air dari rambut pria itu membuat jantungnya ingin melompat berteriak saat itu juga.

__ADS_1


Jelas, Kalyan bisa melihat dada putih yang tertutup tidak begitu sempurna oleh handuk miliknya bergerak naik turun sangat cepat. Adina sangat gugup saat ini, bahkan matanya tak berkedip sedikit pun menatap mata sang pujaan.


Tak puas sampai di situ, Kalyan menarik tubuh wanitanya dan kembali menghimpit di bawah guyuran shower yang ia nyalakan barusan.


Mandi bersama tepat mereka lakukan. "Hentikan, Kal. Ini tidak benar." ucap Adina yang memberontak dalam himpitan dan menggemaskan itu.


"Mengapa? bukankah ini sama saja dengan tadi? Kita mandi bersama? Ini tidak masalah bukan?" Tatapan mata Kalyan seolah menghunus sangat tajam hingga ke dasar hati sang gadis.


Wajah yang semula berhadapan sangat dekat, kini Adina arahkan ke samping demi menghindari bibir dan hidung yang hampir bersentuhan akibat ulah pria di depannya.


"Rasakan ini!" Saat suara dan gerakan tangan Adina bergerak hendak memelintir kepala pria itu dengan tangannya, dengan gerakan lebih cepat Kalyan bahkan mampu memutar tangan Adina menjadi ke belakang. Dan satu tangan kekar pria itu melingkar di leher depan sang gadis.


Beberapa detik, tak ada jawaban yang terlontar dari bibir Adina. Namun tampak matanya seperti menahan sesuatu.


Hening. Hanya suara gemericik air yang masih menyala membasahi tubuh keduanya. Sapuan lembut di ceruk leher yang putih berhiaskan anak rambut tak mampu membuat Adina berpikir logis. Seluruh tubuhnya menegang merasakan sentuhan lembut dan menggairahkan dari indera perasa sosok Kalyan padanya.


Memabukkan, ini adalah pengalaman pertama keduanya.


Hingga saat Adina tersadar, ia segera melepas cengkraman tangan Kalyan dan berlari keluar tanpa perduli dengan handuk yang ia pakai sudah sangat basah.

__ADS_1


Beruntung tidak tembus pandang. Mendapati hal itu, Kalyan hanya tersenyum devil. Permainan yang ia lakukan tak membuat harga dirinya jatuh. Pasalnya semua yang terjadi karena ulah Adina pertama. Ia hanya sebagai pemain yang melanjutkan saja.


Di tempat yang berbeda, tampak beberapa orang tengah menikmati sarapan di meja makan pagi itu. Meski udara sangat dingin sehabis hujan panjang semalam, sama sekali tak menyurutkan semangat mereka untuk memulai rutinitas kerja mereka seperti biasanya.


"Aileen, Papah minta berhenti memberi orang di apartemen Kalyan. Anakmu sudah dewasa. Jangan membuat harga dirinya rendah sebagai lelaki." tutur Leonardo memecah keheningan setelah sarapan pagi usai semua.


Mendengar nama sang anak di sebut, tentu sebagai ibu yang sangat menyayangi, Aileen seketika mendelik kesal.


"Justru jika ia bersama wanita itu, Pah harga dirinya akan rendah. Gadis bar-bar tengil sepertinya sangat membuatku mual." sahutnya ketus.


"Tapi, Len. Seperti apa pun gadis yang kau pilih tidak bisa membuat putramu itu baik. Dasarnya pembangkang yah tetap pembangkang. Buktinya dia sama sekali tidak menghargai kita, dengan memilih tinggal di apartemen seperti orang tidak punya keluarga saja. Atau dia memang tidak ingin menganggap kita keluarga sebenarnya?" tambah Elvisa, istri dari Deon adik Aileen.


Aileen mencebik kesal mendengar penuturan iparnya. "Anakku mandiri, tidak seperti anakmu yang hanya ingin menumpang di sini seperti parasit. Sama seperti kalian juga. Taunya hanya menumpang. Sok menjelekkan anakku lalu membela anak sendiri. Cih apa kau pikir aku tidak tahu niatmu menikah dengan adikku itu apa? Hah!" Hardik Aileen seketika meradang melihat iparnya yang dengan berani merendahkan sang putra kebanggaannya pagi itu.


"Jika saja ku tahu kau mantan suamiku, sampai kapan pun tidak akan ku biarkan kau dan kau masuk ke dalam keluargaku!" Tunjuk Aileen pada Brandon dan juga Elvisa sang ipar.


"Aileen, cukup!" Leo berteriak sekeras mungkin melihat tingkah anak perempuannya yang begitu kurang ajar.


Semua terjingkat kaget.

__ADS_1


"Hargai suami mu, Aileen." tutur Leo pada sang anak.


__ADS_2