
Begitu cemas tergambar jelas di wajah Kalyan kala tak mendapati di mana pun keberadaan sang gadis yang pergi meninggalkannya tanpa kata.
Baling-baling helikopter sudah bergerak cepat mengelilingi kota yang padat kala itu. Dengan gagah Kalyan duduk di tepi di temani satu alat teropong untuk mencari di mana keberadaan wanita yang membuatnya sangat khawatir saat ini.
Satu persatu mobil dan motor yang berlalu ia lihat dengan jelas tak ada yang mendekati tanda-tanda target.
"Cepat pindah arah!" titah Kalyan lagi.
Di tempat yang berbeda, kini padatnya jalanan hari itu tak menggoyahkan kelincahan seorang Adina mengendarai motor besar miliknya.
Motor besar yang sudah di persiapkan oleh salah satu anggota yang terus sedia di belakangnya kapan pun tanpa ada yang tahu.
Dengan lincahnya, ia melewati beberapa pengendara hingga membuat pengguna jalan lainnya terkagum-kagum. Jika di lihat dari penampilan kepala, itu adalah seorang pria. Namun, saat menatap bagian leher ke bawah jelas itu wanita dengan body yang sempurna.
"Tunggu sebentar lagi. Bertahanlah." teriak Adina dengan earphone yang ia tempel selalu di kedua telinganya.
"Ketua, semua anggota hampir kelelahan. Mereka banyak sekali," lapor seorang pria di seberang telpon.
__ADS_1
Melihat keadaan, Adina pun bergerak menatap kilometer motor besar miliknya saat itu. Dengan sekali putaran tangan, benda beroda dua melaju dengan cepat dari sebelumnya. Tak sadar jika dari arah atas ada dua pasang mata yang membelalak melihat hal itu.
"Hah? Apa itu?" tanya Kalyan terkejut bukan main. Ia kembali mencari jejak kendaraan yang baru saja lewat kilat dari pantauannya.
Tak ada ia temukan. Kalyan kembali meminta helikopter untuk menuju arah jalanan yang selanjutnya.
"Cepat, ikuti motor itu!" teriak Kalyan menggema.
Kini dari arah atas, pria tersebut terus mengikuti lanju motor yang bagai kilat petir cepatnya.
"Adina, ada apa ini? astaga mengapa kau seperti itu liarnya, Sayang?" batinnya dengan rasa khawatir yang teramat.
Keringat dingin terus mengucur tanpa sadar di keningnya. Berbagai pikiran buruk terus menghantui pikiran Kalyan saat itu.
Perjalanan yang semula ramai kini berubah sunyi. Hanya ada beberapa pengguna jalan yang melintas. Hal itu tentu membuat gadis dengan motor kesayangannya semakin menambah kecepatan lebih tinggi. Jalanan yang luas dengan keadaan pegunungan dan juga kiri kanan begitu banyak jurang yang dalam tak membuat Adina takut sama sekali.
Kiri kanan terus ia belokkan dengan lihai sesuai dengan tikungan yang ia lihat dengan jeli. Dari arah jalanan, matanya bisa melihat dengan jelas beberapa kepulan asap yang memenuhi salah satu arah di mana barak mereka berada.
__ADS_1
Pepohonan yang nyaris kering di sisi jalan ini berganti semakin rindang dan semakin rindang selama Adina memasuki area yang jauh dari jalan utama.
Setelah hampir dua jam berkendara, akhirnya ia tiba di salah satu titik yang menurutnya paling aman sesuai dengan arahan anak buah di telepon barusan.
Helm dan motor ia banting begitu saja. Adina berlari dengan kedua tangan yang sudah memegang pistol. Tampak anggota yang ia didik sedang bertarung dengan beberapa anggota dari penyerang.
"Siapa mereka?" batin Adina mengernyitkan dahi kala melihat seragam yang sangat asing.
Satu persatu orang yang melakukan perkelahian mulai tumbang. Adina pun ikut melawan banyaknya serangan dari musuh. Tembakan ia terus tujukan dan sukses mengurangi musuh.
"Wah wah sudah berani rupanya?"
Dor! Terakhir Adina mendaratkan peluru pada satu orang anggota yang menyerang mereka. Ia menoleh dengan waspada ketika mendengar suara seorang pria.
Seketika keadaan siaga Adina berubah tegang melihat orang yang berjalan mendekat ke arahnya dengan satu alat yang bernama MG-42. Yah, tentu Adina mengetahui alat tembak tersebut. Alat yang sangat sulit di produksi dan hanya orang tertentu yang bisa memilikinya.
Satu-satunya tembakan yang bisa menembakkan 1.200 butir peluru dalam hitungan permenit. Adina terdiam dengan kedua tangan yang turun ke bawah lemas. Bagaimana pun hebatnya dia, tidak akan mampu mengalahkan kecepatan benda tersebut untuk membunuhnya.
__ADS_1
"Kau, bercanda kan?" lirih Adina menatap seseorang yang tengah meluruskan dengan sempurna benda mematikan itu padanya.