Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Suasana Pagi Yang Mendung, Ceria, dan Menegangkan


__ADS_3

Yang terjadi pada kehidupan manusia di muka bumi ini tak luput dari kuasa dan rencana yang telah tersusun rapi dari sang kuasa. Meski saat ini menurut kita sangat tidak baik untuk kita atas apa yang di berikan, namun di suatu waktu yang tepat mungkin justru kita bisa mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga karena rencana sang kuasa tak pernah melesat sedikit pun.


Hanya Dia lah yang tahu apa yang terbaik dan apa yang tepat untuk kita.


Usai perdebatan singkat di meja makan pagi itu, Leonardo keluar meninggalkan meja makan tanpa berkata apa pun. Matanya begitu nyalang menatap sang anak yang selalu membuat darahnya mendidih seketika.


Ada tatapan kerinduan pada sosok yang selalu menjadi penguat hidupnya namun sayang beberapa waktu belakangan ini sudah menjadikan hatinya benar-benar membeku.


Pria tua berjalan dengan langkah tegas bersama satu tongkat kesayangan yang selalu setia mengantarnya pergi kemanapun.


Kaca mata hitam ia dudukkan sempurna pada hidung tinggi miliknya. Cerahnya mentari pagi kala itu tertutupi sudah dengan gelapnya kaca mata miliknya. Tak ada yang tahu, ada rapuh yang begitu mendalam ia rasakan saat ini.


Mobil sport mewah pun melaju keluar dari halaman mansion miliknya.


"Lihat usia bahkan hanya menghitung angka saja masih kekeh menyetir mobil sendiri." gerutu Aileen yang mengatur napas sesaknya setelah mendapat teriakan sang papah.


Di meja makan tak ada yang bersuara kecuali lirikan dan senyuman licik dari sang ipar. Jelas ia tampak masa bodoh pada ucapan sang kakak ipar.


"Mom, Dadddy ke kantor dulu bersama Deon." pamitnya pada sang istri dengan suara ragu.


Ia tak ingin sang istri kembali bersuara tinggi padanya di depan keluarga yang masih berada di meja makan tersebut.

__ADS_1


Ternyata dugaan Brandon salah, justru sang istri hanya meliriknya tajam lalu melangkah menuju mobil yang sudah siap mengantarnya ke kantor. Seperti biasa, ia akan enggan berangkat dengan sang suami.


"Sabar, Kak." ucap Deon menyemangati sang kakak ipar.


Sebagai adik pun ia tak pernah satu pendapat dengan sang kakak. Justru sebagai pria, ia sering kali merasa kasihan pada kakak ipar yang begitu tak bisa berbuat apa-apa pada istrinya.


"Kami berangkat dulu, Mah." pamit Deon pada Elvisa.


Dua pria yang pernah mengisi hatinya Elvisa kini berangkat satu mobil menuju kantor. Ada tatapan sedih kala melihat apa yang terjadi pada sang mantan kekasihnya kini.


Tatapan nanar menemani kepergian dua pria itu. Elvisa bersandar di sisi pintu menatap punggung pria yang telah memasuki mobil.


"Kemana ketegasan mu dulu, Brandon. Bahkan pada ku, kau sering kali berucap tegas tanpa bisa ku lawan. Tapi dengannya, kau justru lebih lemah dari seorang perempuan."  ucapnya dalam hati.


Margareth Shyna, nama indah seindah wajah wanita yang selalu terlintas di ingatan sosok tua Leonardo setiap kali hatinya sedih.


Wajah tua yang selalu saja menampakkan ketegasan tiba-tiba berubah sendu. Pria tua tampan itu tertunduk sembari memegang nisan yang tertuliskan nama sang mantan istri tercinta.


"Shyn, bagaimana kabarmu disana? Kau lihat betapa kacaunya aku tanpa kau di sini? Aku gagal. Aku gagal mendidik anak kita." keluh Leo menunduk sembari meneteskan air matanya.


Bukan kali ini saja, sering kali Aileen selalu berbuat ulah semenjak sang istri tiada ia begitu kesulitan menghadapi sikap arogan sang anak. Rasa sayang yang ia berikan justru membuat Aileen merasa ia bisa berbuat semaunya.

__ADS_1


Berbagai kesedihan pria itu tumpahkan di sana sampai tak mampu menahan kaca mata yang menutupi matanya lagi. Leo melepas benda berwarna hitam tersebut.


Menangis, mengusap nisan mengusap atas makam yang tertutup dengan bangunan indah yang ia siapkan sejak lama, kini Leo memeluk nisan kokoh tersebut. Kesunyian serta hembusan angin segar menemani pria itu bertegur sapa dengan sang istri yang sudah lama tak pernah ia temui lagi dalam mimpi.


Tak ada yang tahu jika di sini pria tua itu tengah bersedih menahan rasa rindu yang sudah bergejolak, meski sadar sampai kapan pun tak akan ada pertemuan indah lagi di bumi ini pada wanita terindahnya.


Berbeda halnya dengan sosok Adina yang tampak mengadakan penyeleksian di organisasi pertahanan miliknya. Wanita cantik itu tengah memilih beberapa anggota yang benar-benar lulus menurutnya untuk bisa masuk ke bagian anggota mereka.


Yah, selama ini Adina telah mendirikan suatu organisasi pertahanan untuk melakukan pembelaan apa pun yang bersangkutan dengan kebenaran. Siapa pun yang berlaku curang di negara tersebut bahkan di beberapa negara akan ia selesaikan tanpa sisa.


IKP (Ikatan Kepedulian Perlindungan) Organisasi yang sudah berdiri sejak tiga tahun ini atas bantuan sosok Leonardo tentunya.


Tak ada yang tahu sekali pun keluarga mereka, oleh sebab itu Leo maupun Adina tak banyak yang tahu di luar karena memang sosok mereka tidak begitu ingin bertemu orang yang menurut mereka tidak penting. Hanya beberapa orang tertentu saja yang mengenal sosok dua misterius tersebut.


Adina begitu fokus dan sangat profesional. Wajah cantik miliknya sering kali menjadi daya tarik bak magnet pada kaum pria yang sedang ia seleksi usai menjalani pendidikan beberapa bulan di barak.


Tanpa ia tahu, di kantor kini tampak pria yang tengah tersenyum-senyum sendiri membayangkan badan langsing putih bersih tanpa ada satu titik noda pun tertinggal di tubuh indah itu. Balutan handuk mini yang menyembulkan dua gundukan di atasnya membuat mata Kalyan semakin tak tentu arah.


Pagi menunjukkan pukul 09.00 sedang ada meeting penting pembahasan tentang lanjutan proyek yang baru saja ia ambi alih dari perusahaan lain.


Namun, sepertinya tak berjalan sebaik yang di harapkan.

__ADS_1


"Tuan," sapa wanita dengan setengah berbisik.


Tak ada respon, senyuman semakin mengembang kala tubuh tegap itu berubah menjadi bergoyang-goyang di sandaran kursi sembari sebelah tangannya ia gigit karena geli membayangkan kejadian yang baru saja ia lewati. Kedua matanya terpenuhi dengan sembulan dada yang membuat sesuatu di bawa sana menyembul sempurna tegang tak main-main.


__ADS_2