
Malam pun mulai bergerak menyambut subuh, tepat pada pulul 02.00 pagi suara teriakan menggema bak petir yang menyambar.
Teriakan yang tentu sangat menjelaskan betapa sakit yang ia rasakan saat ini. “Argh!” Seiring dengan itu juga air mata menetes di masing2 kedua pelupuk mata ke empat pria tersebut.
Empat tubuh kekar tergeletak tak bergerak setelah jeritan panjang itu. Tak ada pergerakan sama sekali.
“Ketua!” Suara teriakan di iringi pintu yang terbuka paksa di sana.
Yah, sebelumnya keempat pria itu telah mengunci pintu ruangan saat masuk ke dalam barak tempat Adina melepaskan rasa lelah di tubuhnya.
“Ketua, apa yang terjadi? mengapa mereka di sini?” tanyanya menatap beberapa pria yang tak sadarkan diri.
Adina yang enggan menjawab memilih mengusir mereka semua. Tak ada gunanya menjawab pertanyaan itu, pikirnya. “Sudah, bawa mereka semua dari sini. Aku ingin istirahat. Jangan lupa jam 4 nanti bunyikan seluruh alarm barak.”
Tentu tak ada yang berani menyahut lagi, Adina menutup pintu usai memastikan semuanya telah pergi dari sana.
__ADS_1
“Dasar kecoak, berani sekali mereka.” umpat Adina membenahi posisi tidurnya yang meringkuk di tempat beralaskan pakaian kotor miliknya.
Hingga subuh itu semua kembali berlatih dengan baik. Sesuai dengan perintah Adina tak ada yang boleh membahas hal sebelumnya pada siapa pun. Karena ia tidak ingin membuat para anggota yang lain justru memiliki pemikiran tidak-tidak padanya.
Dan semua berjalan dengan lancar.
Sedang di tempat yang berbeda, Adina berhasil membuat satu keluarga datang ke mansion seorang Candra.
Lima mobil mewah telah parkir dengan rapi sesuai dengan urutan kendaraan mereka tiba. Jelas, di pagi buta seperti ini semua akan terkejut mendapati tamu yang tak di undang memenuhi halaman mansion mereka.
“Waduh siapa yah pagi-pagi begini ramai sekali? Apa itu teman-teman Nona?” Salah satu pelayan berlari mengintip di sisi kiri pintu dan kembali berlari menghampiri sang Nyonya yang tengah asik mendesain baju keluaran terbaru dari idenya.
“I-itu, Nyonya…Em…di depan ada tamu. Sepertinya teman-teman Nona Adin.” Sebut sang bibi dengan gugup.
Sontak kening Maya berlipat mendengarnya, namun sepersekian detik wanita cantik itu tersenyum memikirkan mungkin saja jikaa teman-temannya datang bersama sang anak.
__ADS_1
Sungguh Maya benar sangat mencemaskan keadaan sang putri, sampai berulang kali ia mendesain baju selalu saja tidak sesuai dengan keinginannya.
“Adina. Baik terimakasih, Bi. Pergilah panggil suamiku.” ujarnya.
Wanita dengan senyuman yang terus mengembang akhirnya tiba di depan pintu. Matanya menatap penuh heran siapa kiranya yang datang dengan penampilan rapi dan wajah sangat sempurna.
Selama ini ia tidak tahu siapa saja yang berhubungan dengan sang anak dan juga sang suami ketika di perusahaan.
“Sepertinya bibi salah. Ini bukan teman Adina, pasti teman Ayah di kantor. Tapi…” matanya menatap penuh tanya pada beberapa benda yang terbungkus indah dan berhiaskan bunga-bunga mawar putih segar di tangan masing-masing orang yang melangkah mendekat ke pintu utama mansion miliknya.
“Bunda,” Maya sampai berjingkat kaget mendapati sang suami memegang kedua bahunya dari arah belakang.
Namun, ia kembali menatap ke depan usai menatap wajah sang suami. Ingin bertanya ada apa dengan beberapa orang di depan sana, sayangnya sang suami justru ikut terkejut melihat langkah beberapa orang yang ia kenal satu di antaranya.
“Tuan, Leo…” lirihnya begitu sangat kaget.
__ADS_1
Mata hitam pria itu beralih pada pria yang menjadi pemimpin langkah beberapa orang tersebut. Pria tampan dan gagah perkasa jelas ia tau siapa calon pemiliknya kini.
Mengingat hal itu, Candra mengerjap dan meneguk kasar salivanya. Apa mungkin mereka datang untuk mempersunting seseorang? Yah begitulah pikir Candra dalam diamnya.