
Sedih terasa kala melihat wajah yang selalu menjadi penyemangat kini tak lagi menampakkan senyuman indahnya.
Begitulah cinta sejati tidak akan bisa menjelaskan bagaimana cinta bekerja saling melengkapi. Namun, perasaan bukanlah hal yang buta akan cinta yang ia dapatkan.
Hari yang penuh cinta, kini terasa begitu melemahkan bagi sosok Candra. Hatinya telah tidur bersama wanita yang ia cintai saat ini.
“Ayah, Bunda akan bangun. Kritisnya sudah terlewati. Tenanglah.” Gadis cantik yang mengusap punggung sang ayah adalah Adina.
Meski ada rasa sakit yang ia rasakan, gadis itu masih berusaha tegar demi harga dirinya. Ia berjanji, tidak akan mudah memaafkan sang bunda meski keadaan sudah sangat genting seperti ini.
Kerasnya hati gadis itu tentu semakin ingin memecah belah kepala pria yang duduk di sisinya saat ini.
“Bagaimana mungkin ayah bisa tenang, Adina. Bunda di dalam sedang bertaruh nyawa. Meski pun masa kritis sudah terlewatkan. Tapi tetap saja keadaan seperti ini atau jauh lebih dari ini bisa terjadi kapan saja.” Candra berujar dengan air mata yang terus berjatuhan di kedua pipinya.
Inilah hal yang paling ia takutkan pada sang istri. Dan tentu sedikit banyaknya Adina turut andil membuat sang istri terbebani pikirannya.
“Candra, ini sebaiknya kalian makan dulu. Adina, bawa ayahmu makan. Aunty sudah masak makanan untuk kalian.” Selvi menyerahkan sederet rantang pada sang keponakan.
Manik matanya bisa melihat jelas bagaimana sedihnya sang ipar saat ini. Sebagai seorang kakak tentu hatinya juga teriris melihat perjuangan sang adik yang melawan penyakitnya.
“Aku tidak lapar, Kak.” sahut Candra yang enggan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
“Anggaplah ini untuk Maya. Jika ia bangun mungkin akan jadi obat penyemangat jika melihat suaminya tersenyum segar.” Beberapa saat Selvi hanya memandang Candra yang menatap sang anak di sampingnya.
“Aunty benar, Yah.” sahut Adina. Perlahan ia menggenggam tangan sang Ayah dan menarik untuk ke kursi yang lebih panjang.
Sementara Selvi duduk menunggu di ruangan tunggu yang tak jauh dari keberadaan Adina dan juga Candra.
Makan dengar suapan sang anak, Candra masih sesekali terisak. Sungguh ia sangat takut kehilangan Maya. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya ketakutan.
“Minum, Ayah.” Segelas air di gelas plastik Adina sodorkan.
Keduanya makan dengan pelan, meski tak ada napsu makan. Namun mereka tetap memaksa agar tetap sehat.
“Keluarga pasien?” Seorang suster tampak keluar dari ruangan ICU.
Tanpa perduli dengan makanan yang masih terbuka di kursi sana.
“Bapak, pasien saat ini akan kami pindahkan ke ruang rawat. Untuk persyaratannya bisa langsung ke ruang administrasi yah, Pak?”
“Ba-baik. Suster.” Saat Candra ingin melangkah, Selvi sudah berdiri mendekat.
“Candra, biar saya yang urus. Selesaikan makanmu.” tuturnya dengan lembut.
__ADS_1
“Tapi, Kak…” Candra tak melanjutkan ucapannya kala melihat Selvi sudah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian wanita itu pergi menuju ruangan yang sudah di tunjukkan oleh suster.
Sementara di tempat semula, Candra yang berdiri mematung di depan pintu kembali di tarik Adina untuk duduk melanjutkan makan mereka.
“Kita harus cepat selesaikan makan kita, Ayah. Bunda jangan tahu kalau Ayah terlambat makan.” tuturnya dan di setujui oleh Candra.
Ayah dan anak gadisnya tengah makan dengan keheningan. Jelas terlihat Adina begitu lahap makan seperti biasanya.
Sesekali Candra menatap sang anak dalam diamnya.
“Adina…” panggil Candra lirih.
Tatapannya sungguh kosong. Adina menatap sang ayah dengan wajah datarnya.
“Apakah bisa pernikahan kalian akhir pekan di majukan lagi? Ayah akan tenang jika anak Ayah sudah menikah. Tolong jangan menolak, Adina. Ayah hanya minta itu. Tolong Ayah…”
Deg!
Adina menelan kasar makanannya yang belum terkunyah sempurna.
__ADS_1
“Apalagi ini, Tuhan?” batin gadis itu menjerit dalam hati.