
Pandangan tidak suka jelas Adina tunjukkan pada pria itu. Kesekian kalinya, ia harus kembali bertemu dengan pria yang sama sekali tidak ia inginkan kehadirannya.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi." Meski tak suka, Adina tetap saja berucap sopan berharap tidak menyakiti hati pria yang bersamanya saat ini.
Langkah kaki yang belum sempat melewati tubuh pria itu, seketika terhenti kala tangan besar nan kekar menggenggamnya.
"Mau sampai kapan kau seperti ini padaku? Apa aku masih kurang menunjukkan kemampuan ku jika aku mampu melindungimu, berlian ku?" tanyanya dengan tatapan penuh cinta.
"Aksa Barra, aku tidak pernah berubah pikiran hanya karena kau mampu melindungi ku. Aku tidak membutuhkan hal itu dari pria yang bersamaku. Aku ingin kau akan tetap seperti pertama kali kita mengenal. Sebagai guru dan murid di ring tinju. Tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Tolong berhenti mendekati ku..." Setelah mengatakan semua isi hatinya dengan tegas, Adina pun memilih segera pergi secepatnya.
Di hempaskannya kuat cengkraman tangan pria itu tanpa menatap wajah yang semakin kecewa.
Ini adalah tahun ke empat di waktu yang sama, Aksa Barra kembali mendapat penolakan dari gadis yang sama. Berharap perasaan yang sekeras batu akan segera berubah, namun tidak ada perubahan sama sekali sampai detik ini.
Sementara Adina yang merasa waktu sudah sangat larut, memilih segera pulang dan membersihkan diri di mansion sang ayah.
Seperti biasa, malam yang sunyi kembali menyapa gadis cantik itu. Tak ada kehidupan yang terasa di mansion megah tersebut.
"Selamat malam, Nona..." beberapa pelayan dan kepala pelayan pun kembali menyapa dengan sigap kala menyadari suara pintu terbuka otomatis dan mereka membawa masing-masing seluruh kebutuhan Adina. Mulai dari handuk mini untuk menyeka wajah, segelas air minum, dan beberapa di antaranya mengambil semua barang yang gadis itu bawa masuk.
Sungguh hidup yang sangat sempurna, tak perlu melakukan apa pun semua sudah datang dan pergi sesuai yang ingin ia lakukan.
"Aku ingin mandi segera." ucapan Adina tanpa menjelaskan lebih detail lagi sukses membuat pelayan berlarian ke arah kamar dan menyiapkan untuknya mandi.
__ADS_1
"Adina..." suara pria paruh baya sukses menghentikan sejenak langkah kaki Adina.
Ia menoleh tajam dan ingin melanjutkan langkahnya kembali. "Adina, Ayah ingin bicara." tutur Candra yang melangkah cepat mendekat pada sang putri keras kepalanya.
"Waktuku tidak ada, Ayah. Aku harus segera kembali menemui Kakek Leo. Kasihan dia menunggu ku." terangnya setelah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Mendengar penuturan sang anak, Candra menghela napas sembari menatap punggung sang anak yang menjauh dan hilang di balik pintu kamarnya.
"Ya Tuhan...apa salah doaku ketika membuatnya di dalam rahim istriku? Sampai aku mendapat anak yang sangat sulit di atur sepertinya. Huh...anak gadis tapi suka sekali menghabiskan waktu dengan aki-aki tua seperti si Leo. Apa yang membuat mereka cocok hingga mengabaikan ku seperti ini?" ucap Candra sampai terheran-heran.
Pasalnya ia tidak begitu yakin dengan perjodohan Adina dan cucu dari seorang Leonardo yang ia kenal sebagai rekan kerja sang anak. Hubungan Candra dan kakek tua itu memang cukup baik, namun tak sedekat hubungan Leonardo dan sang anak saat ini. Mereka hanya sebatas rekan kerja saja, tak pernah membicarakan hal di luar bisnis.
Beda halnya di lain sisi, Kalyan yang baru saja sampai di apartemen seketika menghilangkan senyumannya saat tangan besar itu memutar handle pintu apartemen miliknya. Senyuman yang sejak di perjalanan melebar langsung lenyap.
"Dia mungkin berpindah tempat di kamar saat ini..." lirihnya berusaha memberi semangat pada dirinya.
Ia pun melangkah setengah berlari menuju kamar, benar. Adina tak ada terlihat. Lemas. Kalyan membuang kasar napasnya dan bersandar pada dinding kamar.
Sekecewa ini perasaan pria itu kala tak mendapat kabar seharian dari sang gadis yang membuatnya jatuh hati pada pertemuan pertama mereka.
"Dimana aku harus menemuinya? Adina...ada apa denganmu? ku pikir sikap beranimu akan membuatku stres bulan-bulanan. Ternyata kau tidak setangguh itu." tuturnya mencibir seolah ingin membuat Adina terkontak batin dengan ucapannya dan menantang untuk datang kembali mengganggunya.
Dengan lemas, Kalyan menuju meja makan, perut yang sangat lapar sejak tadi ia tahan berharap akan makan bersama dengan Adina kembali seperti malam kemarin. Harapannya pun sirna, ia memilih menyeduh segelas mie instan yang sudah ia siapkan.
__ADS_1
Malam ini sesuai janji, berhubung Leonardo telah pulih. Ia menepati janjinya untuk bertemu dengan sang calon cucu menantu.
Adina melangkah memasuki sebuah klub malam yang terkenal sebagai tempat pertemuan terjamin privasinya.
Jika orang lain yang melihatnya pasti berpikir yang tidak semestinya pada keduanya. Satu, wanita yang sangat cantik dan sempurna terbilang masih sangat muda. Dan satunya lagi seorang pria tua yang sudah bau tanah. Seperti banyak kejadian yang terjadi saat ini, wanita cantik yang menjajahkan dirinya pada seorang pria kaya yang hampir berjumpa dengan pemakaman.
"Adina..." sapa pria tua itu tersenyum bahagia melihat gadis cantik yang melangkah mendekat usai di bukakan pintu salah satu pelayan di club itu. Tak ada yang tahu mereka berdua akan bertemu karena Leonardo telah memesan satu lantai yang menempati salah satu ruangan vvip tersebut. Sungguh sangat privasi.
"Kakek," Adina menjadi gadis yang sangat sopan di depan pria tua itu. Ia mencium punggung tangan sang kakek dan duduk di hadapan pria tua itu.
"Apa benar Kakek baik-baik saja? maafkan Adina yah, Kek soal kemarin siang. Adina benar-benar mengacaukan semuanya. Sepertinya Adina perlu berlatih kesabaran untuk mertua satu itu hehehe..."
Leonardo yang senyum-senyum mendengar penuturan Adina semakin menggelengkan kepalanya terkekeh. Gadis ini sangat memiliki jiwa humoris yang sangat tinggi jika bersama dengannya. Berbeda jika bertemu dengan yang lain, ia akan berubah cuek, nakal, bahkan sangat ketus dan tidak sopan.
Pasalnya Adina tahu, ia akan bersikap baik pada siapa yang pantas mendapatkan kebaikannya.
"Adina, bagaimana perkembangan kalian? Kakek berharap semua sesuai perjanjian kita di awal. Kakek sudah menaruh harapan yang besar padamu. Kalau sampai kau menyerah, Kakek akan memilih segera di kuburkan saja." Sangat cerdik, Leo bertanya padanya dengan nada yang baik namun penuh ancaman.
"Sudah Kakek tak perlu mengancam seperti itu...Kalyan adalah jodoh yang Tuhan ciptakan untukku, semua pasti akan baik-baik saja. Kami memang berjodoh dari sananya, Kek. Lihat saja beberapa hari ini, cucu tampan Kakek itu pasti akan kebakaran jenggot." tuturnya setengah mengejek.
Leo tertawa menggelengkan kepala. Sebenarnya ada perasaan tidak enak yang ia rasakan karena sikap sang anak yang sangat terang-terangan menolak gadis itu.
"Kakek benar-benar sangat menyayangkan sikap Aileen padamu, Dina. Entah dari mana sifatnya berasal, Kakek akan berusaha keras padanya setelah ini. Apalagi melihat betapa tidak berpikirnya dia berani membayar orang untuk mencelakaimu."
__ADS_1