
Candra yang masih berduka di ruangan sang istri kini menatap wajah sang anak satu-satunya. Begitu banyak kesedihan yang ia ingin lampiaskan saat ini. Namun, rasanya semua percuma.
Waktu telah begitu cepat berjalan. Kini ia tak ingin mengulur waktu lagi.
“Bundamu tidak salah, Adina. Tidak salah sedikit pun.” tuturnya sembari meneteskan semakin deras air mata itu.
Adina mengusap air mata dan menatap balik sang ayah. “Adina tidak perduli lagi, Ayah. Adina yang salah selama ini tidak mau menerima maaf Bunda.” Ia kemudian tertunduk mengusap pipi dingin nan pucat milik Maya.
Mendengar hal itu, Candra sontak menggeleng cepat. “Bundamu tidak salah, Nak. Bunda pergi meninggalkan kita karena penyakit ini. Ayah mengetahui hal itu dan membawa Bundamu kembali lagi pada kita. Tolong jangan salahkan Bunda atas kepergiannya dulu.”
Adina yang semula menangis kini tercengang mendengar ucapan sang ayah.
“Bunda di vonis kanker rahim yang cukup parah. Karena itu ia pergi karena tidak ingin menyusahkan Ayah yang sulit perekonomian. Dan meninggalkan mu adalah pilihan yang sulit, tapi apalah daya. Bunda tidak ingin membawamu dengan penyakitnya yang seperti itu.” Selvi pun terisak mendengar bagaimana cerita tentang adiknya yang ia tahu selama ini selalu menutupi semuanya dari sang anak.
“Lalu? Ayah mencari Bunda?” tanya Adina memeluk dan mencium wajah Maya.
Wajah mereka semua merah menahan kesedihan.
__ADS_1
Candra menggeleng pelan. “Ayah tidak mencari. Yang Ayah lakukan sama sepertimu. Membenci Bunda. Hingga suatu hari teman Ayah yang berprofesi dokter memberi tahu Ayah tanpa sengaja. Ayah sangat tidak menyangka, hingga Ayah menunggu waktu dimana Bunda mu akan pergi kontrol ke dokter lagi, saat itulah Ayah memergokinya.”
Candra terisak menahan tangisan dan Adina segera memeluknya.
“Ayah…maafkan Adina, Yah. Adina tidak tahu seperti ini kejadiannya. Adina bodoh, Yah.” Keduanya pun berpelukan menangis saling menguatkan.
Sedangakan Selvi berusaha kuat untuk mengurus semua keperluan kepulangan jenazah sang adik.
Begitu banyaknya hal yang harus di persiapkan hingga hari itu beranjak sore. Semua belum selesai. Langit pun tampak mulai gelap. Mobil ambulance baru saja tiba di kediaman Candra.
Beberapa kerabat pun sudah berdatangan setelah mendapatkan kabar dari pekerja di perusahaan.
Hanya anggukan kepala dan derai air mata yang ia perlihatkan tanpa bisa menjawab ucapan Leo.
“Tuan, yang sabar. Beliau sudah tidak sakit lagi. Kamu turut berduka.” Brandon memeluk dan menepuk punggung Candra sebagai ucapan kekuatan.
Sama seperti yang ia lakukan pada Leonardo. Candra tak mampu bersuara sedikit pun. Di sampingnya tampak gadis yang berjilbab hitam menangis tanpa suara.
__ADS_1
Kini hanya tersisa penyesalan yang terus menghantui pikiran sosok Adina. Tak ada hal lain yang mampu ia berikan pada sang bunda selain rasa sakit hingga mengantarkan sang bunda ke sisi sang kuasa.
“Pak, bisa saya bicara sebentar?” Kalyan yang saat itu di gandeng oleh sang Mommy berbicara setengah berbisik.
Candra mengangguk. Kalyan segera memapahnya menjauh dari ruangan itu.
“Ini, Pak.” Pria tampan di hadapan Candra menyerahkan ponsel yang tampak memperlihatkan isi pesan yang cukup panjang.
“Kalyan, Bunda boleh minta satu hal kali ini saja untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Bunda tahu sejak pertama kali melihat Nak Kalyan, Bunda yakin kau lah pria yang di kirim Tuhan untuk menuntun anak Bunda, Adina. Setelah Bunda pergi dan gagal menjadi penuntun anak Bunda. Kalyan, Bunda gagal menjadi seorang ibu. Bunda tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk anak Bunda. Boleh Bunda mohon dengan sangat pada Nak Kalyan? Nikahi Adina. Dia anak yang kurang kasih sayang, sebab itulah sifatnya selalu memberontak. Dia anak yang kurang perhatian. Dengan kalian menikah, Bunda yakin hidup Adina akan penuh perhatian darimu. Berjanjilah Kalyan, menikahlah dengan anak Bunda. Biar Bunda bisa tenang pergi dari sini.”
Maya.
Makin menangis Candra kala melihat isi pesan yang masih tidak bisa di balas oleh Kalyan.
“Rencananya malam ini saya akan ke rumah Bapak untuk menjawab isi pesan ini secara langsung. Tapi, maaf saya tidak tahu jika waktunya ternyata tidak sampai malam ini, Pak. Saya sangat menyesal.” Kalyan menunduk penuh sesal.
Begitu sakit ia merasakan kala permintaan yang nyatanya memang sesuai dengan keinginannya tak sempat terdengar oleh jenazah yang saat ini akan bersiap di makam kan esok hari.
__ADS_1
“Apa pun keputusan mu, silahkan Kalyan. Istriku tidak sempat mendengarnya, jadi jangan jadikan beban. Saya tahu bagaimana brutalnya anak saya. Rasanya untuk jadi seorang istri masih sangat banyak kurangnya.” Candra menatap dalam wajah tampan yang tertunduk di hadapannya kini.