Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Persaingan


__ADS_3

Pagi yang mulai terasa terik seakan menambah rasa panas di ruangan yang cukup luas tersebut. Tampak beberapa pria dan juga satu wanita menatap serius ke arah layar monitor yang menyala masing-masing di depan mereka.


Jari kecil dengan kuku yang indah terus bergerak tanpa sadar menggigit sendiri kuku-kuku indah itu. Sebelah tangannya bahkan mengepal keras melihat bagaimana lajunya pergerakan grafik yang mereka pandang saat ini.


“Bagaimana ini terjadi? Sedangkan penjualan di pasar sangat pesat. Seharusnya grafiknya naik drastis bukan turus drastis seperti ini?” Suara pria dewasa yang tak lain adalah Candra.


“Ini sudah hal biasa, Ayah. Kita tunggu sampai titik terendah saja.” sahut sang anak yang tak lain adalah Adina.


Candra menatap anak semata wayangnya yang kini tengah sibuk menarikan jari jemarinya di atas keyboard laptop.


Begitu lincah dan meyakinkan. Tak ada sedikit pun keraguan dalam benak pria itu pada sang anak. Selagi Adina mengatakan tenang, berarti semua bisa teratasi olehnya.


“Cih…apa Kalyan berani bermain grafik seperti ini dengan perusahaan Ayah?” Adina terkekeh melihat daftar kode yang sudah berhasil ia retas nama perusahaannya.


Mendengar nama Kalyan di bawa-bawa, tentu Candra tidak percaya.

__ADS_1


“Kalyan? Apa kaitannya dengan calon suamimu itu, Nak? Ayah rasa ada kesalahan di sana.” tutur Candra.


“Ayo ikut aku. Dan kamu, dan dia awasi ini dan tetap dengarkan perintah saya dari earphone.” Adina menutup cepat laptop miliknya. Kemudian bergegas meninggalkan ruangan perusahaannya.


“Baik, Nona.” sahut beberapa pria yang tertinggal di ruangan tersebut. Mereka adalah bawahan Adina yang mengendalikan seluh sistem penjualan perusahaan.


Dua mobil melaju dengan cepat menembus padatnya jalanan siang itu. Yah, mentari sudah mulai meninggi saat ini.


Hal yang sama terjadi di beberapa perusahaan. Banyak wajah yang ikut menegang melihat layar yang saling bersaing di sana. Dua perusahaan yang saling berkejar grafik dalam persaingan penjualan saat ini.


“Apa ini? Siapa yang sudah membuat rancangan jas hujan seperti ini?” Amuknya dengan sang sekertaris kala itu.


“Saya juga tidak tahu, Tuan. Sepertinya ini bukan dari pihak kita.” Sekertaris itu menunduk setelah mendapat amukan sang atasan.


“Ini gila. Benar-benar gila. Mereka menjual barang yang sudah kita tahu itu barang proyek perusahaan Caya Group. Bisa batal nikah kalau begini.” Kalyan marah sekali.

__ADS_1


Segera setelah itu, ia menghubungi sang kakek yang kebetulan tak berada di kantor.


Sambungan telepon pun di angkat. “Ada apa?” Suara berat khas Leo terdengar dari seberang telepon.


“Grandpa, apa tujuannya ini menjual barang yang sama dengan proyek milik Tuan Candra? Apa jawabanku jika calon mertua kemari? Aku bahkan tidak pernah terpikirkan mengambil proyek semacam itu.” Kalyan bertanya dengan raut wajah penuh kecemasan.


Sontak kening Leo ikut melipat dalam. “Maksudnya apa? Proyek yang mana? Perusahaan kita tidak mengambil proyek apa pun? Kan kau tahu sendiri, Itu semua di kendalikan olehmu. Sedang perusahaan saat ini dalam masa penyelesaian proyek pembangunan.” papar Leo jelas tak ada yang ia tutupi lagi.


Benar, perusahaan mereka ada di bawah kendali Kalyan saat ini. Bagaiamana mungkin ia tidak tahu bahkan setelah proyek itu laku terjual.


Segera ia menutup panggilan telepon saat di rasa ucapan sang kakek memang benar. Akhirnya Kalyan menyuruh beberapa orang bawahannya untuk mengecep barang-barang yang sudah di produksi perusahaan.


“Cepat teliti, barang apa saja yang berhasil di produksi oleh perusahaan! Jika memang benar ada, berarti ada penyusup yang menggunakan fasilitas di sini dan lainnya.”


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


__ADS_2