Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kedatangan Di Kediaman Leo


__ADS_3

Angin yang mulanya teduh berubah menjadi kencang karena baling-baling helikopter begitu kuat berputar. Di atas sang pengemudi mengerutkan kening kala melihat dua sosok di bawah bertarik-tarikan tangan.


"Kalyan, aku ingin pulang. Hentikan atau kau akan ku hajar." teriak Adina melepaskan tangan Kalyan yang berhasil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang langsingnya.


"Adina, masuk ke rumah. Cepat!" titahnya berteriak tak kalah keras dari Adina.


Adina kesulitan saat melepas tangan pria itu, namun Kalyan kembali menangkap tangannya saat Adina hampir berlari mendekat pada helikopter.


"Tidak. Kau yang masuk. Aku ingin pulang." bantah Adina menatap marah pada Kalyan.


Tarik-menarik terus terjadi tanpa ada yang bisa melerai keduanya. Cacian dan teriakan dari keduanya pun terus bersahutan.


Sepersekian detik, tiba-tiba saja terdengar bunyi robekan yang begitu nyaring namun hanya di telinga mereka.


Sreeeeett!!!


Dua pasang mata membulat sempurna bersamaan dengan dua mulut mereka yang terbuka lebar karena syok.


"Kalyan!!!" Adina menjerit melihat dua bongkahan miliknya terpampang separuh karena kain buatannya robek dan tergantung di tangan kekar milik Kalyan. Wajah merah yang penuh amarah gadis itu hampir membiru menahan rasa malu. Tak ada lagi kain yang bisa ia gunakan di saat itu juga.

__ADS_1


Adina sontak memeluk tubuh Kalyan yang sedari tadi sudah menegang seperti manekin.


"Sialan! Kal, lepas baju kamu sekarang juga." pintah Adina tanpa mau melepaskan pelukan yang erat itu.


Hening, masih tak ada jawaban.


"Kalyan!" Teriak Adina lagi tepat di telinganya.


"I-iya. Ada apa?" tanya Kalyan tergugup merasakan kesadarannya yang baru saja hampir hilang kala melihat indahnya dua benda yang baru saja ia lihat dengan leluasa di luar tanpa pelindung apa pun.


Degup jantung terasa begitu berpacu sangat cepat. "Enak, Dina? Hangatyah?" tanyanya seketika tersenyum nakal merasakan bagaimana posesifnya pelukan wanita di depannya kini.


Mendengar bagaimana Kalyan merespon pelukannya, tanpa permisi Adina segera merobek baju di badan Kalyan. Dan menyimpulkan kembali di dadanya yang tidak sempurna tertutup.


Kata-kata yang ia lontarkan terasa begitu receh untuk Adina, ia pun acuh dan memutar bola matanya malas lalu melangkah meninggalkan Kalyan menaiki helkopter.


Tanpa mereka tahu jika mata dari sudut yang berbeda bahkan sudah hampir meloncat dari kelopak matanya.


"Laailahaillallah...ini dosa atau berkah yah? Aduh mati aku bisa mandi basah malam-malam gini." rutuk si pengemudi helikopter di atas yang paling tajam menatap pemandangan indah di bawah sana.

__ADS_1


Hingga ia pun tersadar kala sepasang mata dari Kalyan menatapnya penuh amarah. "Aduh Tuan Kalyan bisa membunuh saya ini." lanjutnya segera menundukkan kepala.


Di bawah sana Kalyan tampak berlari mengejar Adina yang naik ke helikopter dengan pakaian minim. Sumpah demi apa pun ia tidak rela, calon istrinya mempertontonkan tubuh yang tidak tertutup sempurna pada orang lain selain dirinya.


Malam itu nampak begitu tenang. Keduanya terdiam tanpa suara setelah helikopter tersebut membawa mereka terbang mengudara.


Sesekali Kalyan menatap wajah cantik yang semula memerah perlahan tampak pucat samar-samar tersorot cahaya minim. Yah, Adina kedinginan karena selain tidak memakai kain tertutup, ia memiliki perasaan malu yang luar biasa hingga membuatnya gugup.


Membayangkan dua pria sempat menonton pertunjukkan tubuhnya yang hampir nyaris polos. Sungguh memalukan.


"Hah! Kalo Kalyan aja sih nggak apa-apa. Ini ada si orang itu lagi. Aduh nggak habis pikir rasanya dada ku di lihat orang lain." rutuknya dalam hati mengumpat kesal.


Hingga di saat suasana semakin terasa dingin, tiba-tiba Adina merasakan pelukan hangat menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Tangan kekar Kalyan melingat pada punggung dan juga perutnya. Adina hanya diam, ia tidak merespon atau menolak sedikit pun.


Lagi pula pelukan itu membantunya lebih nyaman selama perjalanan. Keadaan pun tampak damai sedikit saat itu. Sedang Kalyan tampak tersenyum kecil melihat pelukannya ampuh mengendalikan sang wanita yang seperti cacing kepanasan. Sulit sekali di kendalikan.


Perjalanan yang tidak begitu lama, akhirnya mengantar mereka tiba di kediaman Leonardo.


Helipad yang berada di lantai paling atas kediaman Leonardo mencuri perhatian seluruh keluarga mendengar ada helikopter mendarat. Setahu mereka tidak ada keluarga atau tamu yang membuat janji.

__ADS_1


"Siapa itu, Pah?" manik mata Aileen mendelik pada sang ayah penuh tanya.


"Mungkin suami mu." tutur Leo meneguk teh hangat tanpa berniat penasaran.


__ADS_2