
Samar-samar kedua kelopak mata yang tertutup kini tampak bergerak, beberapa kali mata itu mengerjap guna menormalkan penglihatan yang agak silau.
Satu nama yang pertama kali ia ucapkan dengan bibir bergetarnya. “Adina…” panggilnya lirih.
Yah, Maya telah siuman saat ini. Dan ia ingat siapa nama yang selalu menjadi pikirannya selama ini. Tak lain adalah sang anak gadis yang begitu ia cintai.
“Nyonya, tunggu sebentar. Anda masih harus di periksa dulu.” sang suster yang baru tiba di ruangan itu pun tampak menahan pergerakan berlebih pada tubuh Maya.
Namun Maya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Sus. Saya mau ketemu anak saya.” Kekeh ia menolak permintaan suster untuk tidak banyak bergerak.
Bahkan jelas terlihat jika tubuh wanita paruh baya itu sangat lemas.
“Baiklah, akan saya panggilkan.” Sang suster pun keluar dan menatap satu persatu orang yang berjajar di kursi tunggu tersebut.
Mereka tentu keluarga pasien yang baru saja ia temui. Terlihat semua berdiri seketika.
“Yang bernama Adina?” panggil suster menatap satu persatu hingga tampak gadis cantik yang melangkah maju dengan tubuh tingginya.
Suster yang bertubuh mungil bahkan sampai menengadah. “Saya, sus. Ada apa? Bagaiaman Bunda saya?” tanyanya penuh kecemasan meski berusaha sekuat apa pun gadis itu berwajah datar. Nyatanya pertanyaan yang tanpa sadar ia lontarkan membuat sosok Candra menyunggingkan senyumannya.
“Pasien baru saja sadar. Dan beliau memanggil nama Adina. Anda boleh ikut ke ruangan sekarang.” terang suster dengan ramah.
Langkah lebar Adina pun seketika meninggalkan suster masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
__ADS_1
Manik mata Adina dan sang bunda saat itu saling bertaut. Tatapan keduanya begitu menyiratkan banyak kata yang tak mampu mereka utarakan saat itu.
Hanya bulir bening yang menetes di kedua pelupuk mata wanita yang terbaring lemah di ranjang pasien.
“Bunda…” panggil Adina lirih.
“Maafkan Bunda, Adin.” Maya meraih pergelangan tangan yang tampak dingin. Ia menariknya pelan dan memaksakan bangun demi memeluk tubuh sang anak.
Adina pasrah. Ia membalas pelukan dengan gerakan tangan yang ragu.
“Sudahlah, Bunda. Sekarang yang terpenting Bunda sehat dan segera pulang.” tutur Adina yang akhirnya untuk pertama kali gadis itu menjatuhkan air matanya.
Namun siapa sangka disaat itu juga, pelukan tangan sang bunda terasa terjatuh dan menggantuk di punggung Adina.
“Bunda,” panggil Adina yang mengerutkan keningnya bingung. Ia tampak mengernyit heran saat merasa bobot tubuh wanita di pelukannya bertambah berat.
Berjatuhan air mata serta bergetar bibir gadis itu. Adina menggeleng tak percaya. Pelan, ia peluk kembali tubuh wanita itu.
“Bundaaaa!” Teriaknya menggema dengan tangisan yang tak lagi ia tahan.
Adina benar-benar syok. Ia mengguncang tubuh wanita di pelukannya.
Pintu ruangan yang tertutup rapat pun terdengar kencang terbuka.
__ADS_1
“Adina! Apa yang terjadi?” pekik Candra sangat panik.
Matanya menatap wanita pujaan yang sudah tak membuka mata di pelukan sang anak.
“Maya…” tuturnya lirih.
Candra berjalan pelan mendekat sembari meneteskan air mata. Tubuhnya berguncang menangis.
Sementara Selvi yang berdiri di ambang pintu membekap mulutnya sendiri, ia tak menyangka sang adik secepat itu pergi.
“Ayah cepat panggil Dokter. Bunda baik-baik saja.” pintanya memohon. Dan Selvi segera bergerak memanggil Dokter.
Beberapa saat, Dokter tampak memeriksa pasien yang sudah kembali terbaring di ranjang pasien.
“Dokter, bagaiaman Bunda saya?” Adina menyerang sang dokter tanpa sabar.
“Pasien sudah tak tertolong lagi, Nona. Keadaannya sangat lemah sebelumnya. Bahkan kami tak menyangka jika pasien masih kuat untuk membuka matanya tadi. Maafkan kami, penyakit yang di derita pasien memang sudah tidak bisa di tindak lanjuti, hanya mampu untuk bertahan sementara.” Terang Dokter panjang lebar hingga Adina mengerutkan dahinya bingung.
Mata sembabnya menatap ke arah sang ayah yang tertunduk sembari terisak memegang tangan sang istri yang tak bernyawa.
“Ini terlalu cepat, Maya. Ini terlalu cepat.” ujar Candra berhambur memeluk tubuh pucat di depannya.
Di peluk, di cium kening dan bibir wanita itu. Ia guncang tubuh lemas itu, Candra menemukan keningnya dan kening sang istri. Di sana ia menumpahkan segala rasa sedih dan cintanya yang tak rela di bawa pergi bersama mendiang istrinya.
__ADS_1
“Aku belum siap, Maya. Kau pergi lagi…aku belum siap mengulangnya.” Adina ikut menangis memeluk sang ayah.
Tubuh tinggi gadis itu membuatnya membungkuk memeluk sang ayah yang duduk memeluk tubuh sang bunda.