Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Perencanaan


__ADS_3

Sepulang dari pemakaman, manik mata Adina menatap heran pada banyaknya orang yang berdiri di area pemakaman tampak memberi hormat.


Lamunannya seketika buyar, ia melihat banyak orang berbaris seperti pasukan khusus dengan pakaian serba hitam seluruhnya.


“Mereka adalah pasukanmu, Dina. Maaf aku yang melarang mereka mendekat padamu.” Kalyan mengatakan dengan mata yang juga menatap barisan orang yang hanya berdiri memberi hormat.


Air mata Adina jatuh sangat deras. Kaki yang semula ingin melangkah masuk ke mobil terhenti, ia menatap wajah tampan Kalyan di sisinya.


“Pergilah. Aku tidak akan marah. Mereka jauh lebih lama mengenalmu dari pada aku.” sahut Kalyan setelah menganggukkan kepalanya.


Sebelum Adina benar-benar melangkah, Kalyan sudah bersuara kembali. “Untuk saat ini saja Adina.” tuturnya namun Adina sudah tak bisa menahan kesedihannya lagi.


Ia berlari mendekat pada jajaran laki-laki yang berdiri dengan tangan menghormat padanya. Gadis cantik itu menangis memeluk salah satu yang paling dekat darinya, dan yang lain pun ikut berkerumun menumpahkan kesedihan mereka semua.


Kalyan menggelengkan kepalanya. “Calon istriku di peluk mereka, huh gila.” umpatnya lirih.


Dari kejauhan ia bisa melihat bagaimana eratnya tali persaudaraan sang istri dengan para anggotanya.


“Kami akan selalu ada untuk Ketua.” ucap salah satu dari anggota Adina.


“Yah, kami adalah milik Ketua.” sahut lainnya.

__ADS_1


“Kalian benar-benar luar biasa. Maafkan saya yang tidak bisa melindungi organisasi kita.” ucap Adina menangis sedih.


Ia tak menyangka jika di hari yang paling menyedihkan ini ia justru mendapatkan dukungan dari orang-orang yang selama ini ia latih dengan keras.


“Tuan Kalyan yang justru membantu ketua melindungi kami. Kami sangat bahagia jika Ketua bersatu dengan Tuan Kalyan secepatnya, Ketua.”


“Bagaimana mungkin aku memikirkan diriku? Sedang hari ini adalah hari dimana aku benar-benar sadar akan kesalahan terbesar yang ku lakukan?” Sungguh suasana yang memilukan.


Semua menitihkan air matanya. Tak pernah sekali pun mereka melihat Adina menangis atau pun selemah ini. Dan saat ini mereka jelas bisa melihat berapa banyak air mata yang berjatuhan di wajah Adina.


“Mereka benar, Nak. Bunda mu sangat menanti hari mu dan Kalyan. Segeralah menikah.” Suara seorang pria sontak membuka kerumunan para anggota sang anak yang sangat banyak.


Mereka bahkan tak perduli keberadaan Kalyan yang masih setia berdiri di sisi mobilnya.


“Ayah,” lirih Adina menoleh melihat sang ayah berjalan pelan dengan wajah merah sembab.


Adina melepaskan pelukannya dengan salah satu anggota yang sangat dekat dengannya.


“Kita pulang. Mari kita menatap jalan baru bersama. Ayah tidak ingin semakin membuat Bundamu bersedih. Ayo, Nak.”


***

__ADS_1


Hari yang kembali cerah, terasa tak ada artinya bari keluarga di kediaman Candra.


Suasana masih terasa memilukan. Tak ada lagi cahaya di rumah besar itu.


Beberapa mobil pun memasuki halaman megah tersebut. Adina yang sangat lemah mendapat bantuan dari Kalyan. Sedangkan Candra di temani oleh sang kakak ipar yang sudah seperti kakak kandung baginya.


“Candra, apa ini waktu yang tepat? Apa tidak terlalu terburu-buru?” Selvi tak tega jika harus melihat sang keponakan mendapat tekanan untuk menikah di saat hatinya belum pulih dari kepergian sang bunda.


“Aku tidak ingin membuang waktu lagi, Kak. Maya akan sedih jika Adina terus-terusan seperti itu. Aku yakin Kalyan akan mampu merubah sikap Adina. Setidaknya peraturan seorang istri yang harus tunduk pada suami menjadi cara kedua setelah peraturan anak tunduk pada orang tua tidak berlaku. Sebelum dunia terbalik, suami tunduk pada istri.” Candra bertutur kata panjang lebar dimana hampir membuat Selvi hampir lupa untuk menahan tawanya.


“Baiklah.” Selvi pun pasrah.


Semua keluarga berkumpul di ruang keluarga, meski di ruang tamu masih banyak para pelayat yang memberikan doa untuk Maya.


Leo sekeluarga dan Candra sekeluarga saling duduk hening di ruangan itu.


“Maaf, saya tidak bermaksud lain untuk menyampaikan hal ini di waktu seperti ini. Saya juga tidak bermaksud untuk minta di kasihani. Tapi ini atas wasiat dari mendiang istri saya.” Candra menarik napasnya dalam kemudian menghembuskan kasar.


“Nak Kalyan, bisakah acara pernikahan kalian di percepat? Sebelumnya kita sudah bicarakan ini. Tapi saya ingin di depan semuanya.”


Adina menatap sang ayah sangat terkejut. Benarkah ia akan menikah di waktu yang masih berduka seperti ini. Sungguh, Adina semakin merasa bersalah mengingat mendiang sang bunda yang ingin sekali melihatnya menikah.

__ADS_1


“Tuan Candra, ini masih hari istrimu meninggal. Apa anda yakin? Membicarakan hal seperti ini? Sungguh saya tidak habis pikir.” gerutu Aileen membuang wajahnya enggan menatap wajah Adina.


“Benar kata Ayah, apakah bisa kita segera menikah?” sahut Adina yang menyahut. Sontak suaranya mengejutkan semua mata yang di ruangan itu. Terutama sang calon mertua yang saat itu juga membulatkan matanya sadis pada Adina.


__ADS_2