
Pagi yang cerah kini tak lagi tampak kala suasana berduka di kediaman Candra tampak mencekam.
Langit yang mendung bergerak lambat di sertai angin yang saling bertiup. Dunia tengah berduka pagi ini.
Seperti duka yang terlihat jelas di wajah cantik Adina. Gadis itu menatap jendela kamarnya dengan nanar. Hatinya sangat terpukul.
“Kenapa harus seperti ini jalan kita, Bunda? Salah paham antara kita bahkan belum terluruskan tapi Bunda sudah pergi lebih dulu?” Air mata terus berjatuhan di kedua pipi Adina. Sejak semalam gadis itu tampak menyendiri di dalam kamarnya. Ingin marah tapi ia tidak tahu marah pada siapa.
Semua yang terjadi sedikit banyak karena ia yang tampak acuh tidak pernah memberi kesempatan pada sang bunda.
Tok Tok Tok
Adina menoleh bersamaan dengan itu manik matanya bertemu dengan sosok di ambang pintu yang baru saja terbuka.
“Pagi ini aku mengampunimu karena tidak mempersiapkan sarapan untukku.”
Akhirnya setelah semalaman Kalyan memberikan waktu pada Adina menyendiri, pagi ini ia datang menyapa dengan wajah teduhnya.
“Kalyan,” Adina berlari menghambur memeluk Kalyan. Tak sanggup lagi untuk berucap apa pun, hanya nama itu yang bisa ia katakan.
Tubuh tinggi Adina begitu cocok pada tubuh tinggi Kalyan. Ia memeluk gadis yang bergetar tubuhnya di dalam dekapan.
__ADS_1
Kedua tangan Kalyan memeluk dan mengusap kepala rambut sang calon istri.
“Bunda sudah memaafkan semuanya. Jangan seperti ini, kasihan Ayah.” tutur Kalyan menenangkan Adina.
Untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana terpuruknya Adina di depan matanya sendiri.
“Bukan ini yang ku mau, Kal. Aku tidak ingin Bunda pergi. Tolong Kal kembalikan Bunda untukku.” mohon Adina menatap wajah sang pria setelah mengurai pelukannya dengan derai air mata yang semakin deras.
“Dina, aku bukan Tuhan. Hey ayo sadar, ini yang terbaik buat Bunda. Kasian Bunda kalau terus sakit, bukan?”
Adina menggeleng pelan. “Kal, aku sudah membuat Bunda benar-benar menderita. Bagaimana bisa aku terus menyakiti Bunda sedang Bunda sedang kesakitan menahan penyakit yang di deritanya? Aku anak tidak berguna, Kal. Aku tidak pantas jadi anak Bunda.” tutur Adina.
Perdebatan sedih nan memilukan terus terjadi, hingga akhirnya Kalyan sadar jika waktu sudah semakin cepat berlalu.
“Adina, ayo sekarang bersiaplah. Aku bantu, Bunda akan segera di makamkan pagi ini.” Kalyan mengelus lembut kepala Adina yang berambut jatuh itu.
Dengan rasa enggan, Adina melangkah menuju ruang kamar mandi sementara Kalyan hanya duduk di dekat jendela yang terdapat kursi dan meja santai.
Kamar yang sangat nyaman dan lengkap menurutnya.
Bahkan di dalam kamar mandi pun, Adina tampak sesenggukan menahan sesak dadanya. Ini benar adalah hari terakhir sang bunda berada di rumah tersebut.
__ADS_1
“Bunda…aku belum siap Bunda. Aku belum siap tanpa Bunda lagi.” tangis Adina pilu di bawah guyuran shower.
Di sisi kediaman bagian lantai bawah, begitu banyak tamu yang berdatangan. Sejak malam tak henti-hentinya para kerabat Tuan Candra, Maya, dan juga Selvi yang terus masuk ke halaman yang luas.
Bahkan di halaman depan rumah begitu banyak karangan bunga yang berjajar indah.
Jika semalam Adina menghabiskan waktu menangis di kamar, berbeda halnya dengan sang ayah. Candra bahkan tak beranjak sedikit pun dari tempat duduk di samping jenazah sang istri.
Prosesi demi prosesi pemakan pun akhirnya berjalan lancar tanpa hambatan. Tak ada lagi tangisan yang terdengar. Candra dan Adina sudah bisa menerima kenyataan dengan hanya berserah diri pada sang kuasa.
Kini semua telah usai dengan pemakanan, tampak tanah segar yang bertumpuk dengan banyaknya tebaran bunga indah di sana.
Adina berpelukan dengan sang ayah. Keduanya saling menguatkan untuk meninggalkan Maya seorang diri di pemakaman tersebut.
“Nak Kalyan, tolong bantu Adina.” pintah Candra pada sosok calon menantunya.
“Ayah…” lirih Adina yang enggan meninggalkan sang ayah seorang diri.
“Ayah akan segera menyusul, Adina. Pergilah bersama Kalyan.” Melihat anggukan kepala sang ayah, Adina hanya menurut tanpa perlawanan.
Di sini tinggallah Candra berlutut memegang nisan sang istri.
__ADS_1
“Sayang, aku pulang bersama anak kita. Maafkan aku tidak bisa menjagamu di sini dan menemanimu. Tapi aku berjanji doaku akan selalu ku kirim untukmu, istriku.” Di kecupnya nisan sejenak kemudian Candra mengusap sekilas taburan bunga dan berdiri menuju mobil yang sudah siap membawanya pulang kembali ke kediaman.