Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kehadiran Teman SMP


__ADS_3

Semua pasang mata menatap heran kala mendengar ucapan pria yang mereka tatap sejak tadi.


"Lepaskan handuk mu!" ucap Kalyan jelas tanpa mengurangi sedikit intonasi suaranya.


Senyuman masih mengembang di sana tatapan matanya masih tampak menatap kosong ke depan.


Mendengar hal itu, sontak wanita yang menjabat sebagai sekertaris pria tampan itu kikuk. Melihat betapa banyak orang yang bersama mereka di ruangan meeting saat ini.


"Em, maaf." wanita itu dengan rasa tak enak hati meminta maaf pada semua yang hendak mendengarkan pemaparan dari atasan.


"Tuan, kita sedang meeting. Tuan!" ucapnya seraya menyenggol lengan sang atasan.


Sadar akan sentuhan mengejutkan, Kalyan sontak mengerjapkan mata dan seketika itu juga menajamkan pandangan matanya.


Ia hendak marah lantaran ada wanita yang berani menyentuhnya. Namun, menyadari keadaan mereka saat itu sontak membuatnya tergugu.


Kalyan bingung bukan main. Ia menoleh ke sana kemari mencari pembahasan apa kiranya yang bisa ia ucapkan untuk menetralkan rasa gugupnya. Tanpa ia tahu apa yang terjadi sebelumnya.


"Lepas handuk mu!" kalimat yang beberapa kali memenuhi pikiran semua orang di ruangan itu serta sang sekertaris juga.


Tentu kalimat yang bagi orang dewasa sudah menjurus ke hal yang berbau negatif tentunya. Suasana pagi tadi pun semakin menambah kesan negatif di pikiran mereka. Jelas bagaimana semangatnya seorang Kalyan saat memasuki kantor dengan wajah yang berseri-seri bak orang yang sudah mendapatkan suntikan vitamin tegangan tingkat tinggi.


Nyatanya tingkat adegan mereka hanyalah sebatas himpit menghimpit karena bagaimana pun jatuh hatinya Adina pada sang pujaan, gadis itu akan tetap tahu membatasi dirinya.


"Aduh kelewat dikit batasannya hehe tidak apa-apa mungkin. Maafkan Adina, Ayah." begitu ucap gadis cantik itu tadi pagi setelah tanpa sadar kedua tangannya membalas melingkar di tubuh Kalyan saat lagi-lagi ia mendapat serangan di meja makan dengan bibir lembut pria itu.


"Tolong bagikan ini," pintah Kalyan pada sang sekertaris.


Rapat pun di mulai dengan wajah serius seperti biasanya. Ia tak perduli bagaimana pendapat orang yang terpenting ia tidak akan terganggu dengan pikiran mereka semua. Seperti itulah sosok Kalyan sangat masa bodoh apa penilaian orang padanya.


Di sini, berbeda dengan suasana canggung di ruangan rapat tadi. Lapangan yang sangat terik membuat semua mata semakin menyipit menghalau silau mentari yang kian meninggi mensejajari kepala pelontos tubuh tanpa helai kain yang melindungi.

__ADS_1


Hal seperti ini sudah biasa bagi gadis yang berdiri di tengah-tengah mereka di lapangan itu. Setelah pemilihan pagi tadi usai, Adina melanjutkan dengan latihan fisik yang lebih ekstra lagi. Berbagai pemanasan hingga perkelehaian mereka lewati dengan banyaknya tetesan keringat yang jatuh.


Tak ada lagi ketertarikan mata pria-pria di sana padanya seperti pagi tadi.


"Gue kira bisa ngelirik ketua, ah ternyata..." keluh pria yang tak lain salah satu dari anggota IKP.


"Hehe jangankan ngelirik di tembak jadi pacarnya sekarang pun gue ogah. Bisa mati gue tiap hari di hajar sama dia. Tapi yah memang sih imbalannya tidak main-main. Wajah cantik, body udah bener-bener kayak gitar. Lihat pingganggnya beuh..." Dua pria itu asik berbisik tanpa mendengarkan arahan yang sedang Adina berikan di depan sana.


"Setelah makan siang selesai. Kalian bisa lanjutkan ke arah helipad di sana. Kita akan berangkat ke suatu tempat. Kalian mengerti?" suara lantang dan tegas Adian terdengar begitu menggelegar.


Wajah putih bersih kini sudah berubah memerah, ia bahkan tak perduli dengan itu semua. Karena ini adalah waktu yang sangat penting. Ada waktu yang sedang mengejar organisasi mereka, dan tentu itu sangat membuat Adina serius mempersiapkan semuanya.


"Mengerti, Ketua!" seru semuanya dengan antusias meski lelah begitu mendera tubuh mereka.


Semua pun bubar, begitu juga dengan Adina yang segera melangkah menuju ruangan pribadi di sisi barak tersebut.


"Nona, ini beberapa berkas yang harus anda teliti ulang. Saya sudah mengerjakan semuanya dan memeriksa kembali. Di sini, dan yang ini saja tanda tangan anda di perlukan." seorang pria bertubuh tegap sangat tampan dan memiliki tinggi sekitar 182 cm sangat cocok jika di sandingkan dengan sosok Adina, gadis cantik yang bertubuh sekitar 175 cm.


"Rod, tolong siapkan seperti biasa tepat pukul 18.30. Malam ini sepertinya aku tidak bisa kembali tepat waktu. Karena perusahaan kita sangat membutuhkan tenaga ini secepatnya." tutur Adina tanpa memandang wajah pria di depannya.


Tangannya sibuk meneliti di ikuti kedua matanya pada beberapa dokumen.


"Din, tubuhmu lelah." Suara sendu penuh perhatian terdengar dari pria yang bernama Rod itu. Ia melihat bagaimana banyaknya keringat di tubuh gadis yang sangat cantik ini. Namun, masih tak pernah terdengar jika bibir itu mengatakan tubuhnya lelah.


Semangat begitu berkobar dalam dirinya.


"Perhatikan tubuhmu sendiri saja. Aku baik-baik saja, bahkan orangtua ku saja acuh. Mengapa kau yang perduli? Pergilah! Semua sudah selesai ku periksa." ucapnya menyerahkan kembali dokumen setelah beberapa saat bibirnya bungkam mendengar penuturan sang sekertaris.


***


Di perusahaan, setibanya Rod dengan dokumen di tangan seketika itu juga sosok pria mengejarnya.

__ADS_1


"Rod!" panggilnya menggema di lobi depan lift.


Rod menahan langkah kakinya dan menatap siapa yang memanggilnya. Ia menunduk hormat.


"Iya, Tuan." sahutnya.


"Dari mana kau? Aku mencari kau dan Adina mengapa kalian tidak memberi tahu jika tidak di kantor?" wajah Candra begitu penasaran lantaran sang anak lagi-lagi menghilang.


Ia berpikir saat ini Adina pasti tengah sibuk mengejar cintanya. "Nona sedang di lapangan dan akan berangkat siang ini, Tuan. Saya hanya mengantar dokumen ini pada Nona." jawabnya berterus terang tanpa menatap wajah sang Tuan.


Candra hanya bisa memijat keningnya. "Ku pikir Adina sudah berubah. Kehadiran pria itu sekali pun tak mampu membuatnya berubah, ini benar-benar membuat ku gila."


Tak menjawab bahkan merespon, Rod justru berpamitan untuk undur diri. Karena tugasnya masih sangat banyak di kantor belum lagi tugas dari sang Nona sore nanti.


Candra dengan wajah lesu mengiyakan kepergian pria di depannya.


Berbeda hal nya dengan suasana kantor Kalyan saat ini, pria itu tengah mengamuk di dalam kantornya lantaran kelancangan seorang wanita yang dengan berani masuk ke dalam ruangan pria tersebut.


"Kau!" teriaknya menggeram kesal sembari memukul meja kerjanya. Sementara tubuhnya tengah menghimpit wanita itu di tembok serta tangan yang lain sudah mencengkram kuat rahang gadis bernama Elin.


"Siapa yang mengijinkan wanita luar masuk ke ruanganku? Hah!" teriak Kalyan menggeram.


"Kalyan, aku mohon. Aku butuh pekerjaan demi anakku. Aku mohon belas kasihmu, Kal." mohonnya berlinangan air mata.


Sungguh, Elin tidak ada niat untuk mengusik ketenangan pria itu. Namun, begitulah Kalyan kasarnya pada gadis yang sama sekali tidak ia inginkan hadirnya.


Tatapan tajam Kalyan begitu menakutkan. Ia meneliti semakin dalam mata wanita di depannya. "Aku menerobos masuk karena aku yakin aku yang hanya wanita biasa tidak akan bisa mendapat ijin bertemu denganmu, Kal. Aku mohon...kau teman SMP ku yang bisa memberikan ku jalan kehidupan. Karirku hancur, Kal karena mantan suamiku." air mata berjatuhan di kedua pipi wanita beranak satu itu.


Ia tahu Kalyan tengah mengerutkan kening lantaran wanita itu menyebut namanya dengan sangat akrab.


Elin begitu takut hingga tubuhnya tampak gemetar. Ia menatap dalam mata Kalyan dan mengatakan kembali, "Iya, aku Elin. Kita berteman saat SMP dulu, Kal. Kau pria satu-satunya yang berjasa dalam hidupku saat itu."

__ADS_1


__ADS_2