Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kegelisahaan Kalyan Fin


__ADS_3

Sejak kepergian Adina pagi itu, Maya mengurung diri di kamar. Wajah sedihnya membuat Candra, sang suami tak berani untuk berpamitan pergi bekerja.


Perlahan langkah kaki pria itu mendekat ranjang di mana sang istri duduk bersandar menatap kosong ke depan. Satu kecupan lembut pun ia dapatkan dari sang suami.


Tak ada percakapan sama sekali. Akhirnya rumah kembali sunyi meninggalkan sosok Maya yang menyendiri. Hatinya pilu melihat sikap penolakan sang anak. Semua perhatian yang ia berikan tak ada satu pun yang bisa menyentuh hati sang anak, Adina.


Gadis itu sungguh benar-benar sulit di ambil hatinya. Jika anak gadis lain akan sangat suka di lengkapi seluruh kebutuhannya. Di beri perhatian yang sangat banyak. Namun tidak dengan Adina. Ia yang sudah terbiasa tanpa sosok bunda lebih memilih cuek. Hanya sang tante yang selalu ia inginkan perhatiannya.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan di depan pintu kamar.


"Nyonya!"


"Sudah waktunya kita berangkat, Nyonya." suara sang sekertaris terdengar dari luar pintu.


Tak lama setelahnya, Maya berdiri dan membuka pintu lalu berkata, "Pergilah ke butik. Hari ini aku tidak bisa kesana. Cek semua data penjualan akhir bulan kemarin."


Pintu pun tertutup kembali setelah sang majikan berucap dengan wajah ketus.


***

__ADS_1


Pagi yang cerah kini menerangi hati sang pria tampan yang bersiul dengan merdu di depan cermin kamar apartemennya. Tak tahu saja ia jika di sisi yang berbeda hati sang pujaan rahasianya tengah mendung melawan cerahnya sinar mentari.


"Aku harus sempurna setiap waktu. Yah, Kalyan gadis yang kau miliki itu aneh. Sosoknya seperti jelangkung. Datang jika ia mau kapan pun itu."


Setelah memastikan penampilannya sempurna dari atas sampai bawah, belakang sampai depan barulah Kalyan benar-benar pergi dari apartemen kesayangannya menuju kantor.


Di kantor yang sang gadis miliki, justru Adina menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya. Mood kerjanya mendadak rusak lantaran sang bunda.


"Huh...tak habis pikir aku memiliki Bunda seperti itu. Datang setelah Ayah sukses dan anaknya besar. Enak sekali hidupnya cih." gerutunya kala mengingat wajah sang bunda yang benar-benar memohon maaf darinya.


Sampai beberapa saat, Adina mendengar suara ketukan pintu di luar ruangan kerjanya. Senyuman pun seketika terbit di wajah cantik nan elegan. Sudah bisa ia duga jika yang datang adalah aunty kesayangannya.


"Hah bodohnya aku...coba tahu dia akan kembali secepatnya dulu aku menjodohkan ayah dengan aunty hihihi..." ia tampak cekikikan sebelum tangan mungilnya membuka pintu ruangan.


"Adin, ada apa? Apa yang lucu? Dengan siapa di dalam?" pertanyaan beruntun dari sang tante membuat Adina terasa begitu disayangi.


"Ah...Aunty, kau semakin membuat ku menyesal karena begitu perhatian padaku." rengek Adina memeluk sang tante dengan manja.


"Menyesal?" pertanyaan bingung Selvi membuat kepala Adina mengangguk cepat.


"Ya, coba saja Ayah menikahnya denganmu. Pasti aku adalah anak yang paling bahagia sedunia." terangnya jujur dan membuat kedua mata Selvi membulat sempurna.

__ADS_1


Sungguh pernyataan sang keponakan sama sekali konyol menurutnya. "Kau sudah benar-benar hilang akal. Ayo cepat makan, Aunty harus segera pergi ke panti asuhan sebentar lagi." Di beikannya rantang susun pada sang keponakan yang sudah ia buka.


Adina pun kembali menggeleng pelan dan menatapnya. "Suapin." tuturnya.


Tak bisa menolak, seperti biasa Selvi akan menuruti semua keinginan sang keponakan. Kecuali yang satu tadi, yaitu menikah dengan ayahnya.


Melihat betapa senangnya Adina makan masakannya, Selvi bingung bagaimana caranya menyatukan kembali sang adik dengan keponakannya ini. Keras kepala Adina dan kegengsian Maya benar-benar sulit untuk di satukan.


Hingga akhirnya pagi sampai siang pun semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bahkan Adina yang sibuk tak sempat memikirkan sosok Kalyan sang pujaan hati yang sudah berhasil ia buat jatuh hati hanya dalam pertemuan ke dua.


Dan kini tanpa ia sadari, sikapnya yang begitu frontal sukses membuat anak dari pasangan Aileen dan Brandon sang uring-uringan menunggu pesan darinya.


Sedari pagi sampai di kantor, pikiran Kalyan terus tertuju pada wajah gadis cantik yang sudah dua kali datang padanya.


Satu kali ketikan di laptop satu kali pula ia menoleh ke arah pintu ruangan yang terasa ada putaran handle.


"Hah...ada apa ini?" desahnya frustasi lantaran tak bisa mengontrol pikirannya yang seperti kedatangan Adina mendadak.


"Kalyan Fin, gadis itu pasti tidak akan datang. Ayo fokuslah bekerja..." ucapnya menenangkan dirinya sendiri.


Hingga di detik berikutnya benar, terdengar suara dari pintu. Namun bukan putaran handle, melainkan ketukan pintu tiga kali.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Seketika wajah pria tampan itu pun tersenyum begitu sumringah.


__ADS_2