
Sungguh begitu terkejutnya Adina melihat sosok yang datang padanya. Terkejut sekaligus bingung, apa motifnya menyerang barak yang ia pimpin saat ini.
"Satu kesempatan aku berikan padamu, Adina." ucapnya dengan tetap menodongkan senjata yang mematikan di tangannya.
"Aksa, apa-apaan ini? Kau jangan bercanda." Adina menatap tak percaya pada pria yang bernama Aksa Barra.
Yah pria yang tak lain adalah guru bela diri Adina. Pria satu-satunya yang mampu mengalahkan Adina. Karena ia tahu di mana letak kelemahan sang anak didiknya.
"Kau tahu, aku tidak pernah bercanda. Aku menginginkan mu, Adina. Aku mencintai mu. Aku sudah meminta dengan baik-baik pada mu. Tapi jika kau tidak bersedia, aku membunuhmu dengan suka rela. Siapa pun tidak boleh memiliki mu jika aku tidak bisa." ucap Aksa dengan wajah penuh amarah.
Mungkin di saat beberapa waktu lalu, ia bisa menahan amarah ketika lagi dan lagi Adina menolaknya. Namun kali ini ia sudah memantapkan hatinya kala menyusun rencana sekian lama untuk memaksa cinta gadis yang ia inginkan.
"Bunuh aku, jika itu membuatmu puas. Karena cinta sampai kapan pun tidak akan bisa di paksakan. Apa kau lupa jika aku sudah menganggapku sebagai kakak ku? Aku begitu percaya padamu untuk menjaga ku dan menjadi teman ku. Tapi tidak begini caranya." tutur Adina mencoba mengulur waktu untuk berpikir bagaimana caranya meruntuhkan kekuatan pria di depannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Adina, kemarahan Aksa semakin mencuat. Satu tangannya yang menggenggam pistol kecil tanpa ia tahan lagi seketika menarik pelatuk hingga mengenai bagian tubuh Adina.
"Ah," Adina tidak bergeming, justru suara itu terdengar dari arah belakang. Suara pria yang jelas menggema di lapangan tersebut.
"Adina!" teriaknya.
Sosok pria tampan dengan gagahnya memakai baju anti peluru berlari dan menendang salah satu gerbang penghubung antara lapangan dan juga barak yang sudah hancur. Dua kaki jenjang berlari hingga tak ada pergerakan dari Adina maupun Aksa, tendangan bertubi-tubi di gerakkan oleh Kalyan.
Sukses pria kekar terjatuh hingga senjata mematikan kini berpindah pada tangan Kalyan. Adina memegang lengan Kalyan dan menyaksikan apa yang terjadi di depannya.
"Kak Aksa," lirih Adina kala melihat serpihan tubuh pria yang menjadi gurunya selama ini.
Ada air mata yang jatuh di kedua pipi gadis tersebut. Tentu sedih dan kecewa rasanya, bagaimana mungkin pria yang sudah sangat berjasa padanya kini justru musuh utama yang paling ampuh membunuhnya.
__ADS_1
"Ayo, Dina. Pergi dari sini. Pria sepertinya tidak pantas untuk kau tangisi." tutur Kalyan menggenggam tangan Kalyan.
"Ketua!" teriakan seorang pria terdengar sembari berlari tunggang langgang mendekat ke arahnya dengan tubuh yang beberapa bagian penuh darah.
"Tendi, bawa mereka semua ke ruangan. Bantu aku merawat mereka." Adina berjalan meninggalkan Kalyan yang diam mematung.
Tak ada perbincangan antar keduanya. Kalyan bingung dan Adina gugup kala mengetahui sang pria berada di tempatnya saat ini.
"Dari mana Kalyan tahu tempat ini?" batin Adina bertanya-tanya tanpa berani bicara langsung pada orangnya.
***
"Dina benar-benar wanita luar biasa." ucap Kalyan sembari menatap bagaimana Adina sangat lincah bersama beberapa tenaga medis yang juga berada di bawah pelatihannya.
__ADS_1
"Pulanglah, kau tidak cocok berada di sini." usir Adina setelah selesai memasangkan infus di beberapa orang yang tidak sadarkan diri.
Melihat Adina melewatinya dengan acuh, Kalyan seketika berucap. "Akhir pekan kita menikah. Aku tidak ingin penolakan, Dina."