
Michela pun mendekat sedikit, kurang lebih 1 meter.
Melihat Michela hanya bergeser, Dewa pun pindah dari tempat duduknya ke samping Micheka, membuat Michela jadi gregetan.
"Ini orang kelamaan jomblo kali ya, sampai pembantu saja di dekati," ujarnya Michela dalam hati.
"Kenapa kamu bengong?" tanya Dewa.
"Eh... tidak apa-apa Tuan," ucap Michela mengeleng. "Aku bukan bengong, tapi mengataimu begok," ucap Michela dalam hati.
Dewa terus memainkan ponselnya dan meletakan tangannya di belakang pundak Michela.
"Astaga! Ni orang ngeselin banget sih," ucap Michela dalam hati.
"Lihat tuh dengan cara apa dia bisa di dekati Tuan," ucap ART itu bersembunyi di balik tembok dengan menongolkan kepalanya
"Tau tuh! Dasar ganjen," angguk temannya.
Ketika para pelayan masih mengintip, seseorang datang menepuk pundak mereka berdua.
"Sedang apa kalian? Oh lagi ngintip. Kalian tau jika Tuan tau kalian di sini dia akan berbuat sesuatu?" tanya Diana.
"I-iya, kami tau," jawab ART tersebut.
"Kalian sedang melihat mereka berdua, sepertinya kalian tidak menyukai wanita itu?" tanya Diana.
"Iya," angguk ART tersebut.
"Baiklah bagaimana kalau kita bekerja sama," saran Diana.
__ADS_1
"Bekerja sama? Untuk apa?" tanya ART itu tidak mengerti.
"Mengusir penganggu itu," ucap Diana menunjuk ke arah Michela.
"Ta... tapi bagaimana caranya?" tanya ART itu.
"Dua hari lagi Tuan akan terbang ke Rusia perjalanan bisnis jadi besok kita akan membahasnya bagaimana?" saran Diana mengangkat alisnya.
"Baiklah kami setuju," jawab ART tersebut.
Diana pun berjalan berlenggok mendekati Dewa.
"Tuan saya membawa berkas untuk anda periksa," ucap Diana.
"Baiklah, letakkan saja di meja," ucap Dewa.
"Baik Tuan," angguk Diana meletakkannya di atas meja.
"Ada apa lagi?" tanya Dewa.
"Tidak ada tuan," jawab Diana pergi dengan mengenggam tangannya karena kesal.
"Ehem... itu tuan aku pergi ke dapur dulu," ujar Michela beralasan mencoba untuk kabur.
"Kamu tetap di sini saja temani aku," ucap Dewa.
"Ta… tapi Tuan," ucap Michela.
"Kamu ingin membantah," ucap Dewa menatap Michela dengan tatapan mematikan.
__ADS_1
"Astaga bisa mati duduk aku di sini, di sampingku ada hewan buas kapan saja bisa memangsaku," keluh Michela dalam hati.
"Aku harus apa ya biar menjauhinya?" tanya Michela berpikir. "Aha, aku ada ide," ucap Michela dengan ide yang menurutnya akan berhasil.
"Tuan, aku ingin ke kamar mandi dulu," ucap Michela.
"Ayo aku temani," ucap Dewa.
Michela terbelalak matanya. "Apa aku seperti magnet, atau dia ekorku?" tanya Michela tak percaya dengan jawaban Dewa.
"Kenapa? Apa sudah tidak kebelet lagi?" tanya Dewa.
"Eh bukan begitu, kotoran saya sangat bau dan itu tidak nyaman untuk Anda," ujar Michela beralasan.
"Saya tidak ikut kamu masuk ke dalam, Saya akan menunggumu di luar pintu," jawab Dewa enteng.
"Buset ni orang, aku harus gimana?" tanya Michela mengaruk kepalanya.
"Ya udahlah," jawab Michela pasrah.
Michela masuk ke kamar mandi di kamarnya yang di ikuti Dewa.
"Tuan… Anda duduk di kasur saya, saya mau ke kamar mandi," ucap Michela.
Michela masuk ke kamar mandi dan Dewa duduk di kasur milik Michela. Dewa memandang seisi kamar Michela, kosong melompong yang ada cuma lemari dan kasur saja.
"Aku harus gimana nih?" tanya Michela kebingungan di dalam kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vite komen dan hadiah
Terima kasih