
"Iya, aku minta maaf," ucap Dewa memegang tangan Michela.
"Jadi bagaimana? Apa kamu menerima lamaranku?" desak Dewa.
Michela terdiam, apa ia harus menerimanya?
"Baiklah, tapi dengan 1 Syarat," ucap Michela serius.
"Apa pun Syaratmu aku akan terima," jawab Dewa.
"Pecat semua ART-mu dan ganti yang baru, juga… pecat Diana sekretarismu juga," ucap Michela. Jika ia ingin berada di samping Dewa, ia harus menyingkirkan orang yang sudah jahat dengannya.
"Baiklah, tidak masalah, tapi kamu harus menjadi asisten pribadiku sekaligus istriku," ucap Dewa.
"Tapi… Aku harus kuliah," ucap Michela.
"Tidak apa-apa, kamu tetap berkuliah seperti biasanya, setelah pulang kuliah kamu langsung mampir ke kantorku," ucap Dewa.
"Tapi, untuk sementara aku minta, tolong jangan sebarkan dulu tentang lamaran ini, aku hanya ingin berkuliah dengan tenang sampai lulus," pinta Michela.
"Baiklah, permintaanmu di terima asalakan kau tetap berada di sampingku," ucap Dewa yakin.
Michela sengaja ingin merahasiakannya, karena seorang Dewa mana mungkin jadi miliknya seutuhnya, dia siapa? Dirinya siapa? Anggap saja ia sedang mengikuti arus permainan Dewa, karena suatu saat nanti, Pilihan Dewa bukanlah orang sepertinya yang jauh status darinya, Dewa kedepannya pasti berpikir jika nanti ia harus memilih wanita yang cocok dengannya dan saat itu, ia tak perlu menanggung isu-isu tentang dirinya.
"Aku akan mempersiapkan segala sesuatu untuk bertemu dengan keluargamu," ucap Dewa.
"Keluargaku?" tanya Michela pelan.
Michela terdiam sejenak, ia sendiri binggung, apa ia benar-benar punya keluarga? Jika ia punya, kenapa ia harus tinggal sendirian di kots'an kecil dan mencari uang sendiri untuk bertahan hidup. Keluarga yang mereka bilang itu seperti apa? Keluarga yang sudah mengusirnya dari rumah apa itu di sebut keluarga? Sejak ibunya meninggal, tiada tempat lagi ia menaung dan bersandar, ia sudah terbiasa hidup dan berjuang sendiri, meskipun ia tau, rumah tempat yang di tinggali Ayah dan ibu tirinya itu adalah milik ibunya.
"Tidak!" ucap Michela tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Dewa heran.
"Tentang masalah ini, kamu jangan memberi tahu kepada mereka, cukup jadi rahasia kita saja," pinta Michela.
"Tapi… aku ingin menikahimu secara resmi," ucap Dewa.
"Nikah ya nikah saja, tapi aku tidak mau orang lain tau masalah ini," ucap Michela.
"Baiklah, baiklah, aku tidak akan mempublisnya sampai kamu sendiri yang mengatakannya," ucap Dewa menurut.
"Doni, pecat semua ART di rumah ini dan ganti yang baru, juga buat surat pemecatan untuk Diana," perintah Dewa.
"Ha? Sekarang?" tanya Doni kaget, ini sangat tiba-tiba baginya.
"Iya," jawab Dewa.
"Baik Tuan, akan saya lakukan sekarang," jawab Doni menurut. Doni pun pergi turun ke bawah dan menyuruh pengawal lain untuk mencarikan ART yang baru.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu puas?" tanya Dewa.
Michela mengangguk pelan.
"Untuk semua ART di rumah ini, dengan sangat berat hati, dengan terpaksa kami memecat kalian semua, atas permintaan Tuan," ucap Doni di depan para ART.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kami harus di pecat? Apa kami sudah melakukan kesalahan?" tanya ART yang lain.
"Ini pokonya permintaan Tuan, kami tidak tau alasannya tapi ini adalah perintah," ucap Doni.
Mereka semua tak terima dan protes.
"Bisakah kami bertemu dengan Tuan, kami minta penjelasan kenapa kami harus di pecat," ucap ART itu tak terima.
"Maaf, Tuan sedang istirahat, kalian tidak bisa menganggunya, kalian bereskan barang-barang kalian," perintah Doni.
Mereka berjalan dengan lemah tak berdaya. "Apa jangan-jangan ini adalah perintah wanita licik itu?" tanya ART itu.
"Aku sangat yakin, wanita siluman itu yang mempengaruhi Tuan," jawab mereka yakin.
Tririrng
Tririrng
Triring
Ponsel milik Dewa berbunyi.
Michela mengambil ponsel tersebut lalu memberikan kepada Dewa.
"Dari siapa?" tanya Dewa.
"Dokter Ferry," ucap Michela.
"Halo Ferry, ada apa?" tanya Dewa.
"ART ku," jawab Dewa.
"Sudah di pastikan mereka ingin melakukannya untuk menyakitimu atau gadis bersamamu itu," ucap Ferry.
Dewa melihat ke arah Michela.
"Iya, aku sudah menyuruh untuk memecat mereka semua," ujar Dewa.
"Baguslah, jangan di beri ampun kepada mereka yang berani di daerah kekuasaan kita, saat gadis bersamamu itu sakit, aku dengar jika ia terkurung, aku sangat yakin jika ada salah dari mereka yang menjahatinya," ucap Ferry.
"Iya, aku mengerti maksudmu, terima kasih kamu sudah peduli dengan gadisku ini," ucap Dewa tersenyum.
"Tapi… kau tidak main-main dengannya 'kan?" tanya Ferry curiga.
"Tidak, aku serius dengannya," ucap Dewa.
"Hm… bukannya kau baru saja berkencan dengan banyak wanita yang malah lebih darinya sehingga kau mabuk berat?" tanya Ferry.
"Oh itu… karena… aku… aku…" ucapan Dewa terputus, ia binging menjelaskan kepada Ferry bagaimana karena ada Michela di sana.
"Hm… itu sih kembali padamu, jika kau ingin bermain-main lebih baik jangan kepadanya," ingat Ferry.
"Tidak, aku serius kali ini, aku benar-benar serius," ucap Dewa yakin.
"Baiklah jika begitu, ya sudah saya tutup dulu, ada yang lain ingin saya kerjakan," ucap Ferry.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu," angguk Dewa. Ferry pun memutuskan panggilannya.
"Besok kita ke capil," ucap Dewa.
"Untuk apa?" tanya Michela.
"Tentu saja untuk mendaftarkan pernikahan kita," jawan Dewa.
"Aku ingin pulang," ucap Michela.
"Kenapa? Kamu Di sini saja," pinta Dewa.
"Aku ingin menenangkan diriku, mempersiapkan diriku terlebih dulu," ucap Michela.
"Baiklah, Doni akan mengantarmu pulang," ucap Dewa.
Michela mengangguk dan membalikkan badannya.
Dewa menarik tangan Michela seolah dia tak rela Michela untuk pergi.
Dewa memeluk Michela. "Kamu janji ya jangan pergi dariku," ucap Dewa memeluk erat tubuh Michela yang mungil itu.
"Aku ingin lari ke mana? Ke mana pun aku pergi, kau pasti akan menemukanku," jawab Michela.
"Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu," ucap Dewa.
"Tidak, jemput aku besok saja," tolak Michela.
Dewa mengangguk. "Baiklah."
Michela pun pergi keluar dari kamar Dewa.
"Doni, tolong antarkan aku pulang," pinta Michela.
"Baik Nona," angguk Doni. "Kalian tolong jaga Tuan sebentar," perintah Doni kepada pengawal yang lain.
"Baik," jawab pengawal itu.
Michela pun masuk mobil dan Doni pun langsung tancap gas mobilnya menuju kost'an Michela.
"Bolehkah saya tau alasan Nona meminta Tuan memecat mereka?" tanya Doni.
"Karena para ART itu sudah mengurungku," jawab Michela.
"Baiklah, saya akan memberi tahu Tuan untuk menghukum mereka dengan berat," ucap Doni.
"Jangan! Memecat mereka saja sudah cukup, aku tak mau mereka menambah kebencian mereka kepadaku," larang Michela.
"Baik Nona," angguk Doni.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1