
Sesampainya di penjual telur gulung, para pembeli semuanya melihat ke arah Dewa.
"Astaga! Apa aku mimpi? Bukannya dia adalah Tuan Dewa Ginanjar CEO besar itu?" tanya salah satu pembeli dengan mata terbelalak.
"Benar-benar, dia benar-benar Tuan Dewa, Tuan Dewa bisakah aku meminta tanda tangan Anda?" tanya pembeli itu berharap.
Dewa melihat ke arah Michela. "Jika kalian ingin meminta tanda tanganku, kalian harus minta persetujuan dulu dengan istriku," ucap Dewa tersenyum ke arah Michela.
Michela memanyunkan mulutnya. "Kenapa harus bertanya kepadaku?" tanya Michela.
"Apa Anda serius ini adalah istri Anda? Kapan Anda menikah?" tanya pembeli itu kaget.
"Baru kemarin," jawab Dewa.
"Kenapa Anda menyembunyikan pernikahan ini?" tanya pembeli yang lain terlanjur penasaran.
"Kami tidak menyembunyikannya, kami akan mengadakan pesta pernikahannya nanti," ucap Dewa.
"Benarkah? Apa Anda akan mengundang kami?" tanya mereka.
"Hm iya, tapi maaf ya istriku ingin makan dulu, harap jangan mengganggunya," ucap Dewa.
Mereka pun minggir dan memberi jalan kepada Dewa.
"Buk aku mau telur gulung 30 tusuk," pinta Michela.
"Baik tunggu sebentar," ucap ibu penjual itu, dengan sigap ia menggoreng telur tersebut lalu menggulung di tusukan sate.
"Ini satenya Nona," ucap penjual itu menyerahkan telur gulung yang di masukkan ke dalam plastik.
__ADS_1
"Terima kasih, berapa ini buk?" tanya Michela.
"30 ribu Nona," jawab ibu itu. Dewa mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan selembar uang merah.
"Ini buk, ambil saja kembaliannya," ucap Dewa.
"Wah terima kasih banyak Tuan, semoga rezeki Tuan dan Nona lancar ya," ucap ibu penjual itu kegirangan.
"Terima kasih doanya Tuan," ucap Michela tersenyum.
Michela dan Dewa pun meninggalkan tempat tersebut, tak berapa lama tempat itu di serbu banyak orang sehingga ibu penjual itu kalap
"Mau?" tanya Michela menyodorkan telur gulung itu di mulut Dewa. Dewa membuka mulutnya lalu memakan telur yang di sodorkan oleh Michael.
"Gimana? Enakkan?" tanya Michela.
Dewa mengangguk sambil mengunyah telur di dalam mulutnya.
"Hm… aku ingin istirahat, bagaimana jika kita pulang saja," pinta Michela.
"Baiklah, ayo kita pulang," ucap Dewa yang terus mengandeng tangan Michela.
Mereka pun menuju mobil. Perlahan-lahan mobil itu meninggalkan taman hiburan tersebut.
Sesampainya di rumah, Mereka pun masuk ke dalam kamar, namun tiba-tiba Michela berhenti di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Dewa saat melihat Michela yang mematung di depan pintu.
"I-itu, bisakah aku tidur di kamar sebelah?" tanya Michela menaikkan sedikit sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kita sudah suami istri kok malah tidurnya pisah?" tanya Dewa.
"Itu… karena…" Michela tak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Kamu takut aku menganggu tidurmu?" tanya Dewa.
Michela menundukkan kepalanya. "Aku… aku belum siap," jawab Michela pelan.
"Tenang saja, aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu kapan kamu siap saja," ucap Dewa memeluk Michela.
"Terima kasih," ucap Michela juga membalas pelukan Dewa.
"Katanya kamu ingin tidur, ayo istirahat," ajak Dewa. Michela mengangguk dan menuju ranjangnya.
Michela pun baring di kasur yang super empuk itu. Dewa memeluk Michela dari belakang.
"Kita akan melangsungkan acara di mana?" tanya Dewa. Mereka melakukan percakapan layaknya suami istri.
"Terserah kamu saja, aku di mana pun tidak masalah," jawab Michela.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan Hadiah
Terima kasih
Jangan lupa juga mampir ke novelku yang lainnya
[Cinta Riko dan Laras]
__ADS_1
[CEO Bilow you love me]