
Michela terdiam lalu menundukkan kepalanya.
"Aku... aku benar-benar tidak ingin pulang kerumahmu Tuan, jika kamu ingin menghukumku, carilah tempat yang lain," ucap Michela pasrah.
Dewa membawa Michela masuk ke dalam mobilnya.
"Ke vila," perintah Dewa.
"Baik Tuan," jawab Doni.
Doni pun melajukan mobilnya menuju vila milik Dewa.
Sesampainya di sana, Vila milik Dewa sangat indah membuat setiap yang melihatnya terpukau.
"Waw… sangat indah," ucap Michela kagum dengan kemegahan vila tersebut.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Dewa tersenyum.
"Menyukai kepalamu, bagaimana aku menyukainya jika aku di hukum di sini," ucap Michela dalam hati.
Michela memilih diam.
"Jika kamu menyukainya, akan saya berikan untukmu," ucp Dewa.
"Ha?" Michela binggung.
Michela sangat kaget, apa Dewa ini sedang bercanda?
__ADS_1
"Kenapa kamu bengong? Saya memberikan padamu dan tenang saja, saya tidak akan mengambilnya darimu," ucap Dewa.
Ini adalah pemberian yang sangat mengiurkan, kembali lagi, dia bukan siapa-siapa Dewa, melainkan pembantunya, jika ia menerimanya, pasti banyak yang mengatakan jika dia adalah wanita simpanan, dan Michela tak mau ia di anggap wanita simpanan.
"Ini sangat indah, tapi… Maaf Tuan, aku tak busa menerimanya," tolak Michela.
"Kenapa? Apa ini tidak cocok untukmu? Baiklah kita akan mencari yang lebih mewah lagi;" ujar Dewa.
"Tidak Tuan," ujar Michela mengeleng kepalanya dengan pelan.
"Jadi kamu mau apa?" tanya Dewa tidak mengerti.
"Aku tidak mau apa pun, aku hanya mau Anda menjauhi aku," ucap Michela menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Michela, Dewa langsung mematung.
"Baik Tuan," angguk Doni.
Doni dan Dewa masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Michela sendiri di vilanya.
Michela menangis berjongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangannya di depan Villa Dewa.
Michela tak mengerti, kenapa ketika melihat wajah kecewa Dewa, ia sangat sakit. Michela menangis sesengukan. Ia hanya ingin bebas dan menjalani kehidupan normalnya saja.
"Maaf Dewa, aku tidak bisa menerima pemberianmu. Aku tak mau orang menganggap aku adalah simpananmu," ucap Michela.
Pelan-pelan, Michela melangkahkan kakinya meninggalkan vila mewah Dewa sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Kenapa aku menangis, seharusnya aku senang saat mengatakan sesuatu membuat ia marah dan meninggalkanku," ucap Michela tak bisa membendung air matanya.
"Aku yang sangat ingin meninggalkannya kanapa ini malah terasa sakit?" tanya Michela memegang dadanya tidak luka tapi kenapa terasa sakit sekali.
Tanpa sadar ia berjalan entah kemana yang ia tuju, sepertinya ia tersesat.
"Eh, aku di mana sekarang?" tanya Michela melihat sekeliling yang asing baginya.
Micela kebingungan dan berusaha mencari jalan pulang dan menanyakan alamat jalan rumahnya, tapi mereka bilang tidak tahu.
"Aduh gimana ini? Apa aku jalan terlalu jauh?" tanya Michela binggung.
Dan untunglah Michela menemukan seorang yang tau alamat kampusnya dan ia pun meminta petunjuknya, bapak itu menuliskan denahnya.
"Syukurlah, aku dapat petunjuk," ucap Michela lega.
Michela berjalan cepat agar ia cepat sampai, namun kaki ini lelah sekali dan ia berhenti di tepi jalan.
"Huh bagaimana ini? Ini sudah hampir gelap, aku harus cepat-cepat pulang," ujar Michela khawatir dengan keadaannya saat ini.
Dari kejauhan Michela melihat sinar mobil menyilaukan mata, setelah mendekatinya, tiba-tiba Dewa turun dan memeluk Michela.
Michela kaget diam mematung.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih