Di Kejar Cinta Bos CEO

Di Kejar Cinta Bos CEO
Kebohongan menjadi kenyataan


__ADS_3

"Tidak ada," jawab Dewa.


"Aku nggak percaya," tukas Michela.


"Tak perlu di rayu, mereka datang sendiri kepadaku," jawab Dewa.


"Dasar pria mata keranjang," ucap Michela kesal.


"Aku bukan pria seperti itu, lihatlah waktu itu, kamus sendiri yang datang ke kantorku," ucap Dewa terkekeh.


"Kapan?" tanya Michela menekuk alisnya.


"Waktu pengambilan pin nama," jawab Dewa tersenyum.


"Hey... itu bukan keinginanku, bukannya waktu itu kamu yang menyuruh seluruh siswa yang kehilangan pin nama harus datang kekantormu, dan itu sangat membosankan karena harus seleksi dan seleleksi, permainanmu waktu itu tidak lucu," jawab Michela manyun.


Itu bukan permainan, tapi agar tidak terlihat saja, jika saya benar-benar mencarimu.


"Untuk apa mencariku?" tanya Michela.


"Ingin mengembalikan pin namamu," jawab Dewa.


"Alasan," ujar Michela mencibir.


"Aku hanya penasaran dengan wanita yang yang menganggap dirinya seorang pahlawan wanita," jawab Dewa menyengir.


"Kau mengejekku?" ucap Michela kesal.


"Aku tidak mengejek, aku hanya bangga seorang gadis kecil menjadi pahlawan sedang ia tidak bisa menjaga dirinya dengan baik," ejek Dewa tertawa.


Ketika Dewa ingin berbicara, Michela langsung memasukkan nasi di mulut Dewa


"Aduh!" teriak Dewa.


"Apa?" tanya Michela tak mengubris Dewa.


"Perutku sakit sekali," ucap Dewa memelas.


"Apa! Sebentar, aku panggilkan dokter," ucap Michela panik.


Michela langsung keluar kamar dan mencari Doni.

__ADS_1


"Doni cepat panggil Ferry, Dewa... Dewa dia sakit perut!" teriak Michela panik.


"Baik Nona," angguk Doni juga ikut panik.


"Tidak perlu, aku hanya berbohong," jawab Dewa tertawa.


Michela menatap geram ke arah Dewa.


"Kamu sangat lucu jika sedang panik," ucap Dewa tersenyum.


"Apa selucu itu? Apa kamu pikir ini suatu yang menyenangkan?


"Ya termasuk menyenangkan," jawab Dewa mengangguk.


"Menyebalkan," ucap Michela kesal.


Michela memukul Dewa dengan bantal dan tiba-tiba saja perut Dewa sakit.


"Aduh! perutku sakit sekali," keluh Dewa memegang perutnya dengan kencang.


"Jangan bohong! Kau sengajakan ingin mengerjaikukan?" ucap Michela manyun.


Michela masih saja memukul-mukul Dewa dengan bantal karena ia berfikir jika Dewa berbohong lagi.


"Kamu nggak bohongkan?" tanya Michela.


"Cepat telpon Ferry," pinta Dewa kesakitan.


Michela keluar dari kamar dan kembali memanggil Doni.


"Doni, cepat telpon Ferry dan segera angkat Tuan ke ranjangnya," pinta Michela.


"Baik Nona," angguk Doni.


Doni masuk kamar Dewa dan menganggkat Dewa ke atas ranjang, ia langsung menelpon Ferry.


Tuut…


Tuut…


Tuut…

__ADS_1


"Halo, apa ada terjadi sesuatu?" tanya Ferry.


"Ya Dokter, Tuan sakit perut, bisa kah Anda datang kembali ke rumah," pinta Doni.


"Baiklah, saya ke sana sekarang," angguk Ferry. Ferri langsung berangkat menuju rumah Dewa.


Ferry tergesa-gesa masuk ke kamar sahabatnya itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Ferry melihat sahabatnya itu menekuk kakinya kesakitan.


"Tidak tau, tiba-tiba saja dia sakit perut," jawab Michela menggeleng.


Ferry mengecek tubuh Dewa.


"Apa ada sesuatu yang dia makan?" tanya Ferry.


"Dia makan nasi ini tadi," jawab Michela menyodorkan sepiring nasi.


"Baiklah, ini obat asam mefenamat untuknya, berikan dia minum," perintah Ferry.


"Baiklah," angguk Michela.


Michela mengambil segelas air putih dan meminumkan ke Dewa beserta obatnya, lalu membaringkan Dewa kembali.


Perlahan-lahan sakitnya menghilang dan Dewa beristirahat di temani Michela.


Ferry mengambil beberapa butir nasi sebagai sampel untuk ia periksa.


"Jika begitu saya pulang dulu ya, ini obat cadangan jika ia sakit lagi," ucap Ferry.


"Baiklah," angguk Michela.


Ferry pun melangkahkan kaki keluar dari kamar Dewa.


"Apa masih sakit?" tanya Michela.


"Agak sedikit berkurang," jawab Dewa.


"Kamu juga, lain kali jangan main-main lagi," ucap Michela manyun.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2