
"Kamu kenapa jalannya seperti siput?" tanya Dewa.
"Aku tersesat," jawab Michela.
"Kenapa kamu tidak masuk saja di vila dan menungguku datang," ucap Dewa memeluk erat Michela.
"Mana aku tau kalau kamu datang lagi," ucap Michela dengan suara pelan.
"Apa kamu tau, aku mencarimu seperti orang gila," ucap Dewa khawatir.
"Siapa suruh ninggalin aku sendiri," ucap Michela dalam hati.
"Ayo pulang," ajak Dewa. Dewa mengendong Michela masuk ke dalam mobilnya.
Dan di dalam mobil, Dewa mengengam tangan Michela dengan erat.
"Kita mau ke mana?" tanya Michela.
"Pulang merumah ku," jawab Dewa.
"Tapi aku nggak mau pulang ke rumahmu," tolak Michela.
"Ya sudah kita ke hotel saja," ucap Dewa mengalah.
"Apa! Nggak ah! aku nggak mau," tolak Michela manyun.
"Ya sudah kita pergi ke vila tengah kota saja," ucap Dewa.
"Terserah," jawab Michela melihat ke luar jendela.
Akhirnya mereka menuju vila di tengah kota. Sesampainya di sana, lagi-lagi Michela terpukau dengan kemegahannya, apa lagi di malam hari, terlihat lamput berkelap kelip nan indah.
"Waaahh... mewah sekali dengan lampu berkelap kelip di atasnya, sangat indah di lihat di malam hari," ucap Michela kagum.
"Ayo masuk," ajak Dewa mengendong Michela.
__ADS_1
"Hey! Apa-apa'an ini!" teriak Michela merasa yak nyaman.
Para pelayan berdatangan dan menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan, Nona, mari masuk," ucap kepala pelayan vila tersebut.
Dewa mengangguk lalu membawanya duduk di meja makan.
Para pelayan menyediakan makanan yang sangat mewah.
"Silakan di nikmati Tuan, Nona," ucap kepala pelayan itu.
"Terima kasih," ucap Michela tersenyum.
Dewa dan Michela menyantap makanan tersebut.
"Silakan Tuan, Nona, makanan penutupnya," ucap kepala pelayan meletakkan dessert di atas meja ketika Dewa dan Michela selesai makan makanan utamanya.
"Makanan enak begini sia-sia di sisain," ucap Michela dalam hati dengan mata berbinar.
"Makanlah, aku sudah kenyang melihat kamu makan," ucap Dewa tersenyum.
"Hm… beneran?" tanya Michela mengangkat alisnya dengan sendok di mulutnya.
"Iya makanlah, makan yang pelan, aku ingin melihatmu lebih lama lagi," ucap Dewa menopang dagu dengan tangannya sambil tersenyum.
"Lebay," ucap Michela dalam hati.
Michela menghabiskan semua makanannya.
"Apa kamu mau makan lagi?" tanya Dewa
"Aku sudah kenyang," jawab Michela.
"Ayo, aku bawa kamu ke taman belakang," ajak Dewa
__ADS_1
"Aku udah nggak bisa jalan," jawab Michela kekenyangan.
Dewa beranjak dari tempat duduknya kemudian mengendong Michela.
"Hey! Hey! Apa-apa'an ini!" ujar Michela kaget tubuhnya terangkat dari tempat duduknya.
"Kamu nurut saja!" perintah Dewa.
Dewa membawa ketaman belakang yang penuh bunga dan lampu penerang.
Dewa mendudukan Michela ke bangku taman.
Michela tersenyum melihat keindahan taman tersebut.
"Kenapa kamu tidak mau ke rumahku lagi?" tanya Dewa duduk di samping Michela dan menatapnya.
Michela terdiam mendengar pertanyaan Dewa tersebut.
"Apa ada yang menyakitimu?" tanya Dewa mengengam tangan Michela.
Michela mengeleng pelan.
"Lalu kenapa kamu sangat tidak ingin ke rumahku?" tanya Dewa yang tidak menemukan jawabannya.
"Aku... aku hanya tak ingin dekat dengan orang di sekitar Tuan," jawab Michela menundukkan kepalanya.
"Panggil aku Dewa saja," pinta Dewa.
"Ha?" Michela mendonggakkan kepalanya melihat wajah tampan Dewa.
"Aku lebih nyaman kamu memanggil nama ku saja," ucap Dewa.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih