
"Biarkan Aku sebentar memelukmu pagi ini sebelum aku berangkat ke Rusia," ucap Dewa.
"Tuan mau pergi ke Rusia?" tanya Michela.
"Iya, besok," jawab Dewa.
"Oh," jawab Michela singkat.
"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Dewa.
"Ha?" Michela Bingung. "jika aku bilang rindu dia bakalan narsis, jika aku bilang tidak, dia akan marah. Tuhaaaan, aku dilema," ucap Michela dalam hati.
"Kapan pulangnya?" tanya Michela mengalih pembicaraan.
"Mungkin 1 minggu," jawab Dewa.
"Kenapa tidak satu tahun saja sih," ujar Michela dalam hati.
"Oh lama juga," ujar Michela.
"Bagaimana jika kamu ikut aku saja ke Rusia," saran Dewa.
"Eh... mana mungkin saya harus kuliah Tuan," tolak Michela.
"Saya akan mengajukan cuti kuliahmu," ujar Dewa.
"Tapi saya tidak mau ketinggalan pelajaran," jawab Michela.
"Oh baiklah tapi antarkan saya ke bandara," pinta Dewa.
"Baiklah Tuan," angguk Michela.
Michela berusaha melepaskan pelukan Dewa dan berlari keluar masuk ke kamar sebelahnya.
Michela bersiap-siap berangkat ke kampusnya. Ia menonggolkan kepalanya untuk melihat apa Dewa mencarinya.
Melihat Dewa tidak nampak di rumah. Michela cepat-cepat keluar berlari menuju pintu utama untuk keluar.
__ADS_1
"Hey kamu! Kenapa lari seperti seorang pencuri!" panggil Dewa.
"Saya takit terlambat Tuan," jawab Michela beralasan.
"Saya hari ini langsung ke kantor ada urusan jadi tidak bisa mengantarmu ke kampus," ucap Dewa.
"Ya tuan," angguk Michela menurut. "Apa urusannya, pergi aja sana, ngapain cerita samaku dan lagi siapa juga yang mau diantar," ujar Michela dalam hati.
"Mari Nona, saya antar Anda ke kampus," ucap Doni.
Michela masuk kedalam mobil, sedangkan Dewa di antarkan oleh pengawal lainnya.
Belum sampai setengah jalan ke kampus Michela meminta Doni untuk berhenti.
"Kau turun di sini saja," pinta Michela.
"Kenapa Nona? Nanti saya di marah Tuan," ucap Doni.
"Nggak akan, dia nggak akan tau," ucap Michela.
Michela melihat ke kiri dan ke kanan, setelah aman, ia pun keluar.
Tanpa ia sadari seseorang menepuk pundaknya.
"Sedang apa kamu mengendap-endap di sini?" tanya salah satu seorang gadis bernama Mona.
"Eh tidak apa-apa," jawab Michela mengeleng. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Mona.
"Jangan bohong," ucap Mona.
"Nggak kok," jawab Michela pura-pura tak terjadi apa pun.
"Aku lihat tadi kamu keluar dari sebuah mobil mewah," ujar Mona menatap mata Michela.
"Ah, mana mungkin? Mungkin kamu salah lihat," jawab Michela beralasan.
"Apa kau seorang sugar baby?" tanya Mona menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Hey! Jangan sembarangan bicara oke!" terika Michela.
"Aku tau orang tuamu, kau bukan orang kaya, kenapa bisa naik mobil semewah itu?" tanya Mona mengintrogasi.
"Buka urusanmu," ucap Michela ketus.
"Wanita baik-baik aslinya malah seperti ini," ucap Mona mencibir.
"Kenapa? Kamu iri? Sana kamu lakukan juga jika kamu iri," ucap Michela kesal.
"Dasar wanita muna," ejek Mona.
"Hey... urus saja urusanmu, terserah aku mau pergi sama siapa dan di mana," ujar Michela membelalakan matanya.
Ucapan mona membuat Michela benci, ia langsung nyelonong pergi.
"Dasar sugar Baby, berapa hargamu 1 malam!" teriak Mona.
"Gratisssssss!" teriaknya dari kejauhan.
"Gartis? Apa dia tidak membutuhkan uang?" tanya Mona melipat tangannya.
Sesampainya Michela di kampus.
"Rona, sarapan yuk," ajak Michela.
"Ayo, kamu mau makan apa?" tanya Rona.
"Aku mau kan mi level 10," jawab Michela.
"Gila kamu, perasaan hari cerah-cerah saja, ngak mendung sampai makan selevel itu," ucap Rona kaget.
Bersambung
Jangannlupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1