Di Kejar Cinta Bos CEO

Di Kejar Cinta Bos CEO
Dewa sadar.


__ADS_3

"Baiklah, tapi saya minta tolong jangan biarkan pembantu masuk jika bukan ada keperluan dan di butuhkan," pinta Michela.


"Baik Nona," angguk Doni.


Michela menjaga Dewa sesekali Dewa memanggil nama Michela terus.


"Apa kamu sebegitu mencintaiku?" tanya Michela menatap Dewa.


"Tapi aku harus apa? Apa aku harus membalaskan cintamu juga?" tanya Michela binggung dengan perasaannya.


"Cepat sembuh Dewa," harap Michela mengelus rambut Dewa.


Tanpa sadar Michela tidur di sisi ranjang Dewa karena lelah dan mengantuk


Dewa terbangun, namun tangannya tertahan oleh sesuatu.


Ternyata itu adalah tangan Michela yang memegang tangannya.


Dewa tersenyum lalu mencium tangan Michela.


"Apa ini adalah mimpi? Kau datang kepadaku dan menjagaku, apa ini benar-benar kamu?" tanya Dewa tersenyum lalu mencium kening Michela.


"Aku sangat merindukan kamu," ucap Dewa mengelus rambut Michela.


"Apa kau tau, aku sangat mencintaimu dan kau menolakku dan itu membuatku frustasi, akhirnya kau datang dengan sendirinya ke sini. Aku sangat senang," ucap Dewa kembali mencium tangan Michela.


Tak lama Michela bangun dengan mata sayup. Ia mengucek-ucekkan matanya.


"Sudah bangun," ucap Dewa tersenyum.


"Kamu sudah sadar?" Michela balik bertanya.


Dewa tersenyum, namun Michela malah manyun.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Dewa.


"Tuan mau makan?" tanya Michela berdiri.


"Aku tidak suka kamu memanggilku Tuan, aku senang ketika kau memanggil dengan sebutan kamu yang baru saja kau ucapkan," pinta Dewa.


"Saya tidak terbiasa," jawab Michela menundukkan kepalanya.


"Biasakan, nanti kamu juga terbiasa," ucap Dewa.


Michela diam tidak menjawab ucapan Dewa.


"Aku ingin datang kerumah orang tuamu," ucap Dewa tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Michela menekuk alisnya.


"Melamarmu," jawab Dewa tersenyum.


"Apaa!!" teriak Michela kaget.


"Ada apa kaget seperti itu? Kau tidak menyukainya?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Aku belum siap," jawab Michela.


"Jika orang tuamu merestuinya, maka kau akan siap nanti," jawab Dewa.


"Pria ini emang tak bisa di lawan," ucap Michela dalam hati sambil memanyunkan mulutnya.


"Tapi… aku…" ucap Michela terputus.


"Aku apa? aku akan datang ke rumah kamu," ucap Dewa.


"Apa! Tapi kamu masih sakit," jawab Michela.


"Tidak apa-apa, aku sudah kuat kok," jawab Dewa mengerak-gerakkan tangannya.


Dewa berusaha bangun dari tempat tidurnya namun masih pusing.


"Dalam keadaan begini kau ingin melamarku? Lebih baik kau istirahat dan sembuhkan dirimu lebih dahulu," ucap Michela.


Dewa kembali baring dan memegang kepalanya yang pusing.


"Kamu lebih baik istirahat saja dulu, biar aku yang ambilkan makanan untukmu," ucap Michela.


Michela membalikkan badannya ingin pergi le dapur. Namun Dewa memegang tangan Michela.


"Untuk apa Nyonya rumah ini pergi ke dapur, suruh saja pembantu mengantarkannya, apa mungkin mulai sekarang kamu belajar mengurusi suami?" ucap Dewa tersenyum.


Michela menatap Dewa dengan tatapan tajam.


"Siapa nyonyamu," ucap Michela ketus.


"Doni, tolong bawakan makanan untuk Tuan," pinta Michela.


"Baik Nona," jawab Doni mengangguk.


"Bawakan juga untuk dia," perintah Dewa.


"Baik Tuan," angguk Doni.


Doni pun pergi menuju ke dapur.


"Bawakan makanan untuk Tuan dan Nona," perintah Doni kepada para ART.


"Untuk apa membawakan dia makanan?" ucap ART itu kesal.


"Jangan membantah, bawakan saja untuknya," perintah Doni dengan nada sedikit tinggi.


"Huh menyebalkan," ucap ART itu memanyunkan mulutnya.


"Apa kita kerjai saja dia?" tanya temannya.


"Ide bagus, tapi apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.


"Taraaaa…" salah satu ART itu mengeluarkan sebotol obat.


"Ayo sini biar aku masukan, aku benar-benar geram dengan perempuan itu, rasain semoga kamu ngak bisa beranjak dari kamar mandi," ucap ART itu geram.

__ADS_1


ART itu memasukan makanan di dalam salah satu makanannya lalu membawanya menuju kamar Dewa.


"Ini kami sudah membawakan makanannya," ujar ART itu.


"Letakkan di sana," perintah Doni.


"Baik," angguk ART itu.


ART itu meletakkan makanan di atas meja, sebelum pergi ia sempat memandang sinis ke arah Michela. Michela menatap ART itu sayup.


Michela mengambil piring yang berisi makanan di atas meja tersebut.


"Ini makanlah," ucap Michela menyodorkan piring itu ke arah Dewa.


"Aku tidak mau yang ini, aku mau yang di sana," pinta Dewa.


Dengan manyun Michela mengambil makan di atas meja dan menggantikan dengan piring di tangannya.


"Nih?" ucap Michela menyodorkan piringnya.


"Suapin," pinta Dewa dengan manjanya.


"Apa?... Tangan kamu 'kan baik-baik aja," ucap Michela menekuk alisnya.


"Apa ini cara kamu memperlakukan orang sakit?" tanya Dewa.


"Aku bukan dokter yang mengurusi orang sakit," tolak Michela.


"Tapi aku sakit dan membutuhkan bantuanmu," ujar Dewa memelas.


"Yang sakit itu badanmu, bukan tanganmu," bantah Michela.


"Tangan juga bagian tubuh manusia, ini juga terasa sakit," ucap Dewa memperlihatkan tangannya lemas.


Michela menatap tajam ke arah Dewa.


"Ayo lah, apa kau tega dengan orang yang sedang sakit, saya benar-benar sakit," Michela menyuapi Dewa, sedangkan Dewa tersenyum.


"Uhuk! Pelan-pelan," ucap Dewa tersedak.


Michela mengambil tissu dan menyodorkan kepada Dewa.


"Kalau aku mati keselek, kamu akan jadi janda nanti," ucap Dewa terkekeh.


"Aku cari yang lain," ucap Michela enteng.


"Tidak ada yang sesempurna aku dan tidak ada orang yang setia selain aku yang mencintaimu?" tanya Dewa dengan bangga


"Ya ya ya... Sudah berapa perempuan yang kamu rayu dengan kata-kata itu?" tanya Michela membelalakkan matanya .


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2