Di Kejar Cinta Bos CEO

Di Kejar Cinta Bos CEO
Dewa mabuk


__ADS_3

"Bagus jika dia pergi dari rumah ini," ucap ART itu yang sedang bersembunyi di balik pintu dapur.


"Iya, tidak ada musuh lagi," jawab temannya senang.


Michela pun keluar membawa kopernya.


"Silakan Nona," ucap Doni mempersilakan kembali Michela masuk ke dalam mobil.


Michela masuk ke dalam mobil meskipun hati sedikit tidak rela.


"Selamat tinggal rumah yang penuh kenangan manis, aku tidak bisa datang kesini lagi, aku akan melihatmu untuk yang terakhir kalinya," ucap Michela tersenyum.


"Karena dari awal, ini bukanlah tempatku?" ujar Michela pergi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf Nona jika saya lancang.


Tuan sangat mencintai Anda, kenapa tidak menerimanya?" tanya Donni.


Michela menarik nafas panjang.


"Sekeras apapun kami saling mencintai, sayangnya kami bukan berasal dari dunia yang sama. Aku tak mau menjadi bebannya," ujar Michela menatap ke luar jendela melihat lampu-lampu malam.


"Tidak ada yang tidak mungkin Nona, asalkan Nona mengerti Tuan," jawab Doni.


"Entahlah, aku menjauhinya juga untuk kebaikan dia," ucap Michela.


"Kebaikan dia adalah jika Anda bersamanya," jawab Doni cepat.


Michela diam, ia binggung mau bicara apa lagi.


Dewa sudah mengusirnya, berarti dia tidak menginginkannya lagi.


Sesampainya di rumah.


"Jika begitu saya permisi," ucap Doni pamit.


"Baiklah, terima kasih Doni," ucap Michela keluar dari mobil dan membawa kopernya.

__ADS_1


"Iya, sama-sama Nona," angguk Doni yang kemudian melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan kost'an Michela.


Michela masuk ke dalam kamarnya lalu ia pun mulai menangis.


xxxx


Paginya mata Michela bengkak, karena ia menangis ia juga tak tidur. Hari ini ia memutuskan akan tidak berkuliah karena kepalanya sangat pusing.


Tuuut...


Tuuut...


Tuuut...


Tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi dan Michela pun mengangkatnya.


"Halo," jawab Michela.


"Maaf Nona pagi seperti ini menganggu Anda, tapi bisakah Anda datang ke rumah Tuan," pinta Doni.


"Ada apa?" tanya Michela memegang kepalanya yang pusing.


"Terus?" tanya Michela tak peka.


"Tolong Anda datang sekarang, sepertinya Tuan sangat membutuhkan Anda sekarang," pinta Doni.


"Tadi malam kamu kan tau, jika dia sudah mengusir saya, Anda bisa mencari dokter," jawab Michela.


"Tapi…" belum sempat Doni mengabiskan pembicaraannya, Michela langsung memutuskan panggilannya.


Tut


Tut


Tut


"Aku tidak boleh melunak, aku harus keras pada diriku sendiri," ucap Michela menyakinkan dirinya.

__ADS_1


Tak terasa air Michela jatuh begitu saja.


"Ayolah Michela untuk apa kau menangis, dia bukan pria yang bisa kau gapai," ucap Michela menatap langit-langit kamarnya agar ia tak menangis.


Michela menyeka air matanya.


"Kenapa aku harus menangis? Sampai kapan aku begini," ucap Michela menenggelamkan wajahnya di bantal.


"Michela... Michela... kamu kenapa tidak menerimaku... apa aku sangat memalukan menjadi pasanganmu," ujar Dewa yang tidak sadarkan diri.


Doni segera menelpon Ferry dokter pribadi Dewa.


Tuuut…


Tuuut…


Tuuut…


"Halo," jawab Ferry.


"Maaf dokter, bisakah Anda datang sekarang," pinta Doni.


"Apa ada masalah?" tanya Ferry.


"Tuan sedang mabuk berat," jawab Doni.


"Baiklah saya akan kesana sekarang," ucap Ferry memutuskan panggilannya dan menuju rumah Dewa.


Sesampainya di sana, Ferry memeriksa tubuh Dewa.


"Saya akan memberikan obat untuk meredakan mabuknya, setelah itu biarkan dia istirahat," ucap Ferry.


"Baik dokter," angguk Doni.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2