Di Kejar Cinta Bos CEO

Di Kejar Cinta Bos CEO
Menjadi pembantu di rumahnya


__ADS_3

"Tidak perlu bertanya karena tadi kau sudah setuju," jawab Dewa.


"Kapan aku menyetujuinya, dasar pria tak punya perasaan, aku sungguh meragukanmu, sebenarnya kamu manusia atau bukan," ucap Michela kesal.


"Kau sungguh berani ya, tunggu saja sampai di rumah, aku akan membereskanmu nanti," ucap Dewa mengengam erat tangan Michela.


"Awww… sakit, kau menyakitiku tau!" teriak Michela kesakitan.


"Jika tidak ingin sakit, du-duk di-am-diam," ucap Dewa.


Michela menghembuskan nafas kesal.


Michela pun memejamkan matanya, sambil berdoa di sepanjang jalan.


"Apa kau takut?" tanya Dewa.


"Tidak," jawab Michela manyun.


Tak berapa lama, mereka pun sampai di depan rumah Dewa, mulut Michela ternganga melihat kemegahan rumah tersebut, tapi pantas saja rumahnya semewah itu karena ia orang kaya nomor 1. Siapa yang menjadi istrinya pasti beruntung sekali.


"Silakan turun Nona," ucap pengawal membukakan pintu.


Michela pun turun dari mobil dan di sambut oleh puluhan pelayan yang berjejer rapi.


Dewa berdiri di depan para pelayan tersebut.


"Baiklah mulai sekarang, Michela akan menjadi asisten pribadi saya, yang bersangkutan dengan saya kasihkan saja ke dia," perintah Dewa.


"Baik Tuan," jawab para pelayan itu bersamaan.


"Dan Michela, kamar kamu ada di samping kamar saya," ucap Dewa.

__ADS_1


"Baik," jawab Michela, rasa hatinya tak terima, namun apalah daya, ia sekarang sudah masuk masuk kandang singa.


Ketika itu, Dewa pergi masuk ke dalam kamarnya yang di ikuti oleh Michela. Para pelayan mulai bergosip.


"Sungguh enak dia, baru masuk aja udah bisa tinggal di sisi Tuan," ujar salah satu pelayan di sana sambil mencibir.


"Iya, kita yang sudah lama masih kerja di dapur dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya," sahut yang lain.


"Iya, dia curang, entah apa yang dia lakukan pada Tuan, sehingga Tuan baik dengannya," jawab yang lain.


"Kita lihat saja nanti," sahut mereka mendendam.


Saat Michela masuk ke dalam kamarnya, telpon dalam kamar itu berbunyi.


Kring


Kring


Kring


"Masuk kekamar saya sekarang," ucap Dewa.


"Ya," jawab Michela singkat lalu membanting telpon dengan keras di kasurnya.


"Menyebalkan! Mau apa lagi sih dia," ucap Michela mengendus kesal.


Michela pun beranjak dari kamarnya, menuju kamar Dewa tetap yang ada di sampingnya.


"Apa yang harus saya lakukan tuan?" tanya Michela sopan.


"Siapkan air panas di bak mandi," perintah Dewa.

__ADS_1


"Ya," jawab Michela singkat lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


"Kenapa jawabanmu sangat singkat? Apa kamu tidak iklas?" tanya Dewa.


"Haish… saya sangat dengan senang hati melakukannya Tuan," ucap Michela membungkukkan badannya beberapa kali lalu kembali ke kamar mandi.


Michela pun menyiapkan air panas untuk Dewa, tiba-tiba Dewa masuk dan hanya mengenakan handuk.


"Apa sudah selesai?" tanya Dewa berdiri di belakang Michela.


"Eh, su-sudah," jawab Michela menundukkan kepalanya.


"Astaga orang ini, kenapa tidak mengenakan bajunya," ucap Michela dalam hati.


"Lalu untuk apa kamu berjongkok di sini?" tanya Dewa.


"Baik, saya akan keluar," ucap Michela berdiri.


"Siapa yang menyuruh mu keluar?" tanya Dewa membuat Michela binggung.


"Jadi? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Michela.


"Gosok punggung saya," perintah Dewa.


"Ta..tapi inikan tidak masuk dalam beberapa hal yang saya katakan," ucap Michela.


"Ketika kamu menginjak di rumah saya tidak ada kata tidak, kamu harus melakukan apa yang saya perintahkan," ucap Dewa tegas.


"Apa hebatnya menjadi orang kaya," gerutu Michela dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2