
"Dia bicara waktu itu, hanya bohong belaka, ucapan orang kaya seperti dia tak bisa percaya," ucap Michela mendengus kesal.
"Aku benci Devan..... aku benci dia.... dia pembohong besar, dia bilang ingin pulang cepat, nyatanya masih sempat dia berkencan dulu," ucap Michela meninju bantalnya.
"Pantesan dia ngak bawa sekretarisnya, ternyata sudah ada yang nemani dia. Untuk apa dia pulang jika dia masih berkencan. Sana kencan sampai kenyang, aku tidak akan memperdulikannya lagi," ucap Michela mengambil bantalnya lalu membaringnya.
"Aaaaaaaa... ini membuatku kesal sekali. Pria brengsek, dia sudah punya pasangan kenapa dia menyuruhku bekerja di rumahnya!" teriak Michela seperti orang gila.
"Tapi jika di ingat-ingat itu adalah perempuan misterius waktu di dekat rumahku. Jadi itu pacaranya," ucap Michela mengingat-ingatnya kembali.
"Lalu kenapa dia mengejarku, aaaaaaaa... ini membuatku hilang akal!" teriak Michela lagi sambil membentur-benturkan kepalanya.
"Astaga, ada apa denganku ini?" tanya Michela menyadarkan dirinya.
"Huh! Lebih baik aku tidur," ucap Michela kembali merebahkan tubuhnya.
xxxx
Ke esokan paginya.
Tintin…
Tintin…
Tintin…
"Siapa yang menelpon pagi begini?" tanya Michela meraba ponselnya.
"Halo," jawab Michela menjawab dengan mata terpejam.
"Halo," sapa Dewa
__ADS_1
"Astaga!" teriak Michela kaget.
"Apa aku menelpon membuatmu kaget?" tanya Dewa.
"Ehem… tidak Tuan, ehem ada apa Pak Dewa?" tanya Michela.
"Diakan bukan Tuanku lagi untuk apa aku memanggilnya Tuan," kata Michela dalam hati.
"Panggilan yang sangat manis," ujar Dewa tertawa.
"Astaga! Huh dia sungguh menyebalkan," ucap Michela dalam hati.
"Ada apa?" tanya Michela.
"Jemput aku di bandara," pinta Dewa.
"Aku bukan pembantumu lagi," jawab Michela.
"Apa maksudmu?" tanya Dewa tak mengerti.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk berhenti," jawab Dewa tegas.
"Tapi aku mau berhenti, aku lelah," ucap Michela dengan nada tinggi.
"Jika kamu lelah, kamu tidak perlu bekerja, cukup temaniku saja," bujuk Dewa.
"Untuk apa aku menemanimu. Aku ingin sendirian," jawab Michela ketus.
"Tapi aku ingin kamu menemaniku," ujar Dewa lembut.
"Tuan Dewa yang terhormat, Anda bisa minta temani dengan wanita kencan Anda, untuk apa Anda masih menyuruhku, apa aku ingin kau jadikan makanan nyamuk," ucap Michela manyun.
__ADS_1
"Wanita kencan? Siapa?" tanya Dewa tak mengerti.
"Siapa? Bukankah Anda tidak membawa sekretaris Anda karena ingin berkencan dengan artis yang sekarang sedang naik daun ke rusia dengannya. Anda bilang membahas tentang pekerjaan, rupanya Anda membohongi kami semua," ucap Michela mengejek.
"Berkencan? Saya tidak berkencan. Saya memang benar-benar mengurus suatu masalah," jawab Dewa berusaha menyakinkan Michela.
"Lalu kenapa Anda bawa artis itu ikut serta?" tanya Michela mengangkat alisnya.
"Aku ingin membawamu tapi kamu tidak mau," jawab Dewa melemah
"Oh, jadi Anda malah membawanya," ucap Michela tersenyum sinis.
"Apa kamu cemburu?" tanya Dewa tersenyum.
"Aku tidak cemburu sedikitpun," ucap Michela tegas.
"Baiklah, baiklah. Tapi kamu harus menjemput ku," pinta Dewa.
"Untuk apa aku menjemputmu, aku bukan pembantumu lagi," tukas Michela.
"Baiklah jika kamu tidak ingin menjadi pembantuku, maka jadilah istriku," ucap Dewa yakin.
"Untuk apa aku menjadi istri seseorang yang sudah punya pasangan, apa kau ingin menjadikan aku selirmu?" tanya Michela membelalakkan matanya.
"Aku tidak berkencan dengannya, ini sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan lewat telpon.
Aku akan menjelaskan nanti jika aku sudah sampai di rumah," jawab Dewa.
"Aku ingin kuliah," ujar Michela.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih