
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kost'an Michela.
"Terima kasih Doni," ucap Michela.
"Iya sama-sama Nona," jawab Doni. Michela pun keluar dari mobil lalu langsung menuju kost'annya.
Mobil Doni pun melaju meninggalkan tempat tinggal Michela. Michela masuk dan mengempaskan tubuh di kasur tipisnya.
"Aduh! Sakitnya!" teriak Michela kesakitan. "Astaga kasur ini tipis sekali. Tapi… apa aku benar-benar siap menikah dengan Dewa? Kenapa aku langsung menerimanya begitu saja? Apa aku sudah benar-benar mencintainya? Atau hanya kasihan padanya? Astaga!! Aku sangat di lema saat ini. Apa aku sudah siap jika suatu hari nanti dia tiba-tiba meninggalkanku? Bagaimana ini, aku sudah menyetujuinya. Aaaaaaa…!" teriak Michela menghempaskan kepalanya ke atas bantal lalu memantulkan kepalanya berulang ke atas bantal itu.
"Eh suara apa itu? Aku mendengarnya dari kost'an gadis yang tinggal sendirian itu," ucap salah satu ibuk-ibuk.
"Iya, aku juga mendengar suara jeritan, apa terjadi sesuatu pada gadis itu?" Tanya salah satu warga yang sedang bergosip.
Mereka pun datang ke kost'an Michela lalu mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi, apa terjadi sesuatu?" Tanya warga yang sudah berdiri di depan pintu kost'an milik Michela.
__ADS_1
Michela kaget, ia pun berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Ada apa buk?" Tanya Michela heran.
"Tadi kami mendengar suara jeritan dari dalam, kamu nggak kenapa-napa 'kan?" Tanya ibuk itu.
"Oh itu... maaf membuat kalian khawatir, tadi kepala saya tak sengaja kejedut tembok, karena sakit jadi saya menjerit," jelas Michela meskipun ia berbohong, ia tak mau mereka tau yang sebenarnya.
"Oh begitu ya, kami pikir kamu melakukan sesuatu yang di luar kendali, ya sudah jika kamu baik-baik saja, kami tidak menganggu lagi," ucap ibuk-ibuk tersebut.
"Iya, terima kasih sudah datang," ucap Michela kembali menutup pintunya kembali.
Michela berdiri di balik pintu sambil melihat sekeliling. Ia pasti merindukan tempat ini nantinya karena jika ia menikah, sudah pasti ia akan tinggal di rumah lelaki yang akan menikahinya.
Michela merangkak menuju tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur tipisnya itu menatap langit-langit kamarnya.
Ia mencoba untuk memejamkan matanya, untuk melupakan sejenak tentang hidupnya yang tiba-tiba saja berubah itu. Hanya saja gadis sepertinya malah bisa kenal dengan pria yang berkuasa dan di ajak menikah sungguh membuat ia benar-benar kalap.
xxx
Ke esokan paginya. Michela masih tidur karena malamnya ia tak bisa tidur memikirkan tentang pernikahannya.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
"Michela! Michela! Sayang!" panggil Dewa dari balik pintu yang masih tertutup rapat itu.
Namun tidaka ada sahutan. Dewa kembali mengetuk pintu membuat Michela terbangun.
"Astaga!" teriak Michela langsung duduk. Michela pun berdiri dan langsung membukakan pintu.
"Hm… ada apa?" tanya Michela bangun dengan mata sipit, rambut berantakan sambil mengaruk-garuk kepalanya.
"Kamu baru bangun?" tanya Dewa kaget melihat calon istrinya yang semerautan.
"Iya, tadi malam aku nggak bisa tidur karena… Astaga!" teriak Michela baru sadar jika hari ini dia akan mendaftar pernikahan.
Michela pontang panting lari masuk ke kamar mandi, sesampainya di sana ia lupa mengambil handuk dan ia lari lagi menyambar handuknya dan ia pun mandi.
Dewa tersenyum, sangat jarang melihat Michela yang seperti itu.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih.