
"Apa kamu bilang?" tanya Dewa.
"Eh, maksud saya, saya tidur di sofa, Anda tidur di ranjang," ucap Michela mengulumkan senyumnya.
"Ayo cepat, pijit saya, badan saya pegel-pegel," perintah Dewa.
"Oh Syukurlah, hukumannya cuma di suruh pijat aja," ucap Michela lega.
Dewa langsung masuk kamar dan di ikuti Michela.
Dewa masuk kekamar mandi, karena Dewa belum mandi.
"Ngapain dia pakai mandi segala?" tanya Michela takut-takut.
Beberapa menit kemudian, Dewa pun selesai mandi dan keluar dengan handuknya.
"Aaaaaa…" terika Michela menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu jeritkan?" tanya Dewa dengan wajah tampak biasa saja.
"Tolong pakai baju Anda, oh tidak, saya harus keluar dulu," ucap Michela keluar dari kamar Dewa.
"Belum tua, tapi sudah pikun," ucap Dewa mengambil bajunya.
"Cerewet aja kamu ferguso," omel Michela dalam hati sambil menutup pintu.
"Sudah, saya sudah mengantikan pakaian saya," ucap Dewa.
Michela pun masuk dengan menundukkan kepala, takut kalau Dewa berbohong.
"Untuk apa kamu menundukkan kepalamu?" tanya Dewa.
"Eh... bukan itu, saya sedang menghitung jari kaki saya Tuan," ucap
"Nggak 'kan hilang jari-jari kaki kamu itu," ucap Dewa.
__ADS_1
"Eh iya Tuan," ujar Michela mengangkat kepalanya pelan-pelan.
"Syukurlah dia pake baju," ucap Michela lega.
"Ada apa? Sepertinya kamu dangat takut dengan saya?" tanya Dewa.
"Saya tidak takut Tuan, saya hanya takut," ucap Michela
"Apa bedanya," jawab Dewa
"Hehehe…," Michela menyengir.
"Ayo cepat pijit kaki saya," perintah Dewa.
Tangan Michela gemetaan h ketika memijat kaki Dewa.
"Kamu sedang sakit ya?" tanya Dewa.
"Eh, ti-tidak Tuan," jawab Michela mengeleng.
"Lalu? Kenapa tanganmu gemeteran?" tanya Dewa.
Dewa mengecilkan suhu AC-nya.
"Tapi kenapa tanganmu masih gemetaran?" tanya Dewa melihat tangan Michela.
"I-iya, mungkin saya memang sakit," jawab Michela.
"Jika kamu sakit bagaimana saya tenang pergi ke Rusia besok?" ujar Dewa khawatir.
"Eh, Tuan saya tidak sakit," jawab Michela langsung bersemangat.
"Pijit yang bener," pinta Dewa.
"Baik Tuan," jawab Michela.
__ADS_1
"Aku pikir dengan berpura-pura sakit dia akan melepaskanku, malah akan memperburuk keadaanku jika dia tidak pergi besok, sebel," ujar Michela dalam hati.
Dewa memandang Michela yang masih memijit kakinya. Tiba-tiba Dewa mengangkat Michela dan membaringkan di kasurnya. Michela sangat panik dan ketakutan
"Tu-tuan, apa yang ingin Anda lakukan?" tanya Michela panik.
"Biarkan saya tidur malam ini memelukmu, besok saya haris pergi, entah berapa lama saya di sana," ujar Dewa memeluk Michela.
"Semoga tidak kembali lagi," rutuk Michela dalam hati
Dewa tidur memeluk Michela dan memejamkan matanya.
"Dia ini seperti batu beratnya, gimana aku tidur, bagaimana jika dia melakukan sesuatu, tidak mauuuu, aku belum siap dan aku tak relaaaa...," jerit Michela dalam hati.
"Diam, jangan bergerak," ujar Dewa.
"Astaga! Dia belum tidur juga," ucap Michela merasa tidak nyaman.
Dewa kembali tertidur dan akhirnya Michela tidak tidur sepanjang malam.
xxxx
Ke esokan harinya.
"Tuan, hari sudah pagi," ujar Michela membangunkan Dewa.
Dewa melirik ke arah Michela
"Kenapa kantung matamu hitam?" tanya Dewa melihat bagian mata Michela cekung.
"Ini semua gara-gara kamu tau," ucap Michela dalamh hati dengan kesal.
"Tadi malam saya mimpi buruk jadi langsung ngak bisa tidur Tuan," jawab Michela beralasan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih