
"Mobil Dewa bahkan tidak di miliki oleh kota manapun, karena desainnya sendiri," ucap Michela dalam hati.
"Bukan urusanmu, terserah aku mau pilih yang mana. Ayo Rona kita pergi," ajak Michela meninggalkan
"Heh! Hus! sana jauh-jauh, nanti lengket bau laki-lakinya," ejek Mona.
"Apa kamu tidak apa-apa? Apa kamu tidak mau cerita denganku?" tanya Rona.
"Aku tidak apa-apa, tapi... aku binggung menceritakannya bagaimanna denganmu," ucap Michela.
"Ya sudah jika kamu tidak mau menceritakannya. Tapi jika ada sesuatu hal kamu harus bilang sama aku ya," ujar Rona.
"tentu saja, cuma sekarang aku belum siap aja, biar aku mempersiapkan diri dulu untuk menceritakan padamu ya," jawab Michela.
"Hehehe... dan pada saat itu kamu pasti akan lupa," ujar Michela dalam hati sambil tersenyum.
xxxx
Saat pulang kuliah.
Tuuut…
Tuuut…
Tuuut…
"Halo Nona," jawab Doni.
"Doni, aku hari ini tidak tidur di rumah Tuanmu, aku tidur kot'sanku," ujar Michela.
"Tapi, bagaimana jika saya di marah Tuan," ucap Doni.
__ADS_1
"Asalkan kamu nggak bilang sama Dewa," ucap Michela.
"Baiklah," jawab Doni setuju.
Michela pun menuju ke kost'annya.
"Ah… tempat tidurku yang paling nyaman," ucap Michela menghempaskan tubuhnya di atas kasur tersebut.
"Tapi… kerjaan ku sudah di bereskan oleh Dewa, bagaimana aku mencari kerja lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupku, mungkin jika Dewa ada setidaknya aku bisa makan," ucap Michela menatap langit-langit kamarnya.
"Astaga!! Kenapa aku malah bergantung hidup dengannya!" teriak Michela kembali duduk. "Baiklah, aku akan cari pekerjaan kembali, atau aku coba balik lagi tempat kerjaan lama, mana tau mereka masih terima orang. Haishh… si Dewa ini memang pandai membuat masalah untukku," ucap Michela kembali merebahkan tubuhnya.
xxx
Ke esokan paginya.
Michela langsung berangkat kuliah, yah seperti biasa gosipnya bukan mereda, melainkan tambah panas, karena foto Michela keluar dari mobil mewah di foto oleh Mona di tempelkan di mading kampus.
Michela merobek foto tersebut dan langsung melabrak Mona yang sedang mengobrol ria dengan teman-temannya.
"Mona!" panggil Michela kesal.
"Ha?" Mona melihat ke arah Michela.
"Ini apa maksudmu?" tanya Michela tak terima.
"Maksud? seharusnya kamu tau maksudku, perempuan sepertimu tidak layak berkuliah di sini," ucap Mona ketus.
"Apa maksudmu? jadi perempuan yang seperti apa yang layak untuk berkuliah!" teriak Michela.
"Tentu saja perempuan seperti kami," jawab Mona enteng.
__ADS_1
"Siapa yang tau, bahkan kau lebih parah dariku," ucap Michela marah.
"Hey! Hey! Apa maksudmu?" tanya Mona membelalakan matanya.
"Heh! kamu sengaja menyebar rumor ini agar memojokanku untuk menutupi rahasiamu yang sebenarnya kamu perempuan malam juga," ucap Michela memebelalakan matanya.
Mona melihat le kiri dan kanan seperti ia takut orang lain mendengar ucapan Michela.
"Kamu jangan mengada-ada ya," ucap Mona dengan suara pelan tapi mengeram.
"Heh! Jangan-jangan ucapanku benar," ucap Michela tersenyum menyengir.
"Jangan sembarangan kamu," ucap Mona membulatkan bola matanya.
"Hehehe… sepertinya benar," ucap Michela menyengir.
"Jaga ucapanmu! Kau jangan memfitnahku," teriak Mona memanas.
"Aku tidak memfitnah, aku juga punya bukti bahwa kamu juga perempuan malam," ucap Muchela.
Michela mengoyangkan hpnya yang tidak punya bukti apapun, dia hanya berbohong.
"Kamu…" ucapan Mona terputus.
Mona langsung menyambar Ponsel Michela Namun Michela menariknya kembali, dan...
Bersambung
Jangan lupa like komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1