
"Baiklah, ayo kita ke restoran," ajak Dewa memeluk pinggang Michela membawanya masuk ke dalam mobil.
"Aaaaaa… aku benar-benar patah hati!" teriak salah satu karyawan itu menangis.
"Aku mau bunuh diri saja, untuk apa aku hidup jika dia saja sudah menikah, aku tidak terima," ucap yang lain.
Dan akhirnya para karyawan pria kewalahan memegang para wanita agar tidak bertindak gegabah.
Mobil mewah itu menuju ke salah satu restoran mahal.
"Ayo keluar," ajak Dewa memegang tangan Michela.
Michela juga turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran mahal itu.
"Selamat datang Tuan Dewa, nona, silakan duduk, Anda mau pesan apa?" tanya salah satu karyawan yang sudah mengenal Dewa, karena Dewa sudah menjadi langganan di sini.
"Saya ingin satu ruang VIP," ucap Dewa.
"Baik Tuan, mari saya antar," ucap Karyawan itu yang berjalan terlebih dahulu.
Dewa dan Michela mengikuti karyawan tersebut masuk ke dalam sebuah lorong menuju ruang VIP.
"Silakan masuk Tuan Dewa dan Nona," ucap Karyawan itu.
"Terima kasih," ucap Michela.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut yang hanya ada 2 tempat duduk romantis dan di tengah-tengahnya ada lilin.
"Tuan dan Nona pesan apa?" tanya karyawan itu menyerahkan buku menu tersebut.
__ADS_1
Dewa mengambilnya lalu melihat isi dalamnya lalu menutupnya kembali buku tersebut.
"Apa secepat itu dia memilih makananya?" tanya Michela dalam hati.
"Tolong berikan makanan pasangan," ucap Dewa.
"Baik Tuan, harap menunggu," ucap Karyawan itu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu bukalah maskermu, di sini tidak ada orang lagi," ucap Dewa.
Michela membukan maskernya hingga terlihatlah wajah cantiknya.
"Kamu sangat cantik, aku ingin kita seperti pasangan normal lainnya," ucap Dewa.
"Tapi aku tidak bisa," jawab Michela mengeleng.
"Aku bukanlah tipemu, bagaimana nanti jika kamu menemukan wanita idamanmu, kau pasti meninggalakanku," ucap Michela menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Dewa menekuk alisnya.
"Tentu saja, kau menyukaiku saat ini hanya karena penasaran saja, setelah nanti kau pasti mencampakkanku," jawab Michela.
"Pikiranmu sangat tidak logis, aku mencintaimu dan sangat menyukaimu, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu adalah nyonya di rumah kita, aku tidak akan mencampakkanmu, aku akan terus menjagamu," ucap Dewa memegang tangan Michela.
"Kau jangan memberi harapan yang tinggi padaku, aku mencoba untuk mengiklaskanmu jika suatu saat nanti jika kau sudah tak butuh aku lagi," ucap Michela.
"Baiklah, baiklah, kita bicarakan ini nanti di rumah saja, saat ini kita makan dulu ya," pujuk Dewa yang memilih mengalah.
Tok!
__ADS_1
tok!
Tok!
"Permisi, kami pengatar makanan," ucap karyawan itu.
"Silakan masuk," ucap Dewa.
Karyawan itu membawa masuk ke dalam ruangan lalu menatanya di atas meja.
"Sialakan di makan Tuan, Nona," ucap karyawan itu tersenyum ke arah Dewa.
Michela membuang wajahnya sambil memanyukan mulutnya.
Karyawan itu pun keluar.
"Ayo makan," ajak Dewa meletakkan makanan di depan Michela.
Michela mengambil sendok lalu memakannya dengan lahap tanpa mempedulikan cara makannya yang buruk.
Dewa tersenyum. "Makanlah yang banyak, kau tampak kurus bahkan tubuhmu seringan kapas, aku ingin kau sedikit lebih berisi biar aku bisa memelukmu," ucap Dewa.
"Apa dia bilang! Agar enak memelukku, sungguh menjijikan," umpat Michela dalam hati sambil menuangkan makanan ke dalam mulutnya.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1