
Tak lama mereka pun sampai di taman hiburan, karena malam, lampu menerangi tempat tersebut, lampu kelap kelip menghiasi tempat itu menghidupkan suasana hati yang sedang gundah.
"Aku sudah lama tidak ke sini, aku sangat rindu saat Ayah dan Ibu pernah membawaku ke sini, ini adalah hari pertama saat aku masih kecil," ucap Michela tersenyum melihat lampu yang berkelap-kelip.
"Jika kamu senang, aku akan membuatkan satu taman hiburan untukmu," ucap Dewa.
"Tidak, jika kamu membuatnya, di sana akan sepi, jika di sini sangat ramai, dan itu bisa membuat bahagia," ucap Michela menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, ikut katamu saja, jadi kita naik apa dulu?" tanya Dewa.
"Hm… bagaimana jika kita naik kincir ria saja," jawab Michela.
"Baiklah, aku akan membeli tiketnya," ucap Dewa mengantri.
Michela tersenyum. "Tidak menyangka, ternya dia juga bisa menjadi orang normal," ucap Michela.
Setelah mendapatkan tiket tersebut, mereka pun naik kincir ria itu.
Dewa menuntun Michela masuk ke dalam kincir ria itu dan menutup pintu tersebut.
Mereka pun duduk berhadapan, perlahan-lahan kincir ria itu berputar.
Michela melihat keluar sambil tersenyum. Dewa mengambil tangan Michela.
Michela kaget dan terdiam, Dewa pun pindah duduk di samping Michela. Dewa memeluk Michela dan meletakkan dagunya di kepala Michela.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, jadi kamu jangan tinggalkan aku ya," ucap Dewa memejamkan matanya.
Michela membalas pelukan Dewa dan memeluk erat.
"Hm… jadi jangan rahasiakan pernikahan ini ya," ucap Dewa.
Michela mengangguk pelan.
"Kalau begitu mari kita berfoto," ucap Dewa mengeluarkan ponselnya lalu memotret mereka berdua sambil memeluk Michela, sedangkan wajah Michela malah manyun.
Ckrek!
Ckrek!
"Hahaha wajah kamu kenapa seperti ini?" tanya Dewa tertawa.
"Tidak akan, aku sangat menyukai foto ini," ucap Dewa menyimpannya.
Kincir itu berputar hingga ke titik tertinggi. Michela menundukkan kepala dan berdoa. Dewa mengangkat alisnya melihat apa yang di lakukan Michela.
Setelah kincir itu berputar perlahan-lahan turun, Michela mendongakkan kepalanya.
"Tadi itu kamu sedang apa?" tanya Dewa penasaran.
"Katanya jika kincir ria berada di puncak maka doa kita akan terkabulkan," jawab Michela.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu do'akan?" tanya Dewa.
"Hm… tentu saja rahasia, jika di katakan maka doa itu tidak akan terkabulkan," ucap Michela tersenyum.
"Begitu ya, kalau begitu lain kali aku akan berdoa jika naik kincir ria," ucap Dewa.
Michela melihat ke arah Dewa yang sedang menatap keluar.
"Aku berdoa agar kita selalu langgeng, aku sudah membuka hatiku untukmu jadi aku tak mau hatiku terluka, Semoga kita kita tetap bersama selamanya," ucap Michela dalam hati.
Kincir itu perlahan-lahan turun dan berhenti. "Ayo turun," ajak Dewa mengulurkan tangannya dan Michela pun menggapainya.
"Hm… apa kamu ingin beli makanan?" tanya Dewa.
"Iya, aku mau makan telur gulung," ucap Michela.
"Baiklah, aku akan membelikan yang banyak untukmu, makan yang banyak nanti ya," ucap Dewa tersenyum.
"Baiklah, jangan coba-coba dengan perutku," ucap Michela membalas senyum Dewa.
Mereka berjalan menuju tempat penjual telur gulung sambil bergandengan tangan layaknya pasangan yang sedang berbahagia.
Michela tersenyum dalam diam, ia juga merasa sangat bahagia. "Semoga akan terus begini selamanya," ucap Michela dalam hati sambil melihat wajah tampan Dewa yang serius berjalan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih