
Cklek!
Pintu terbuka.
Karena melihat Michela tertidur, Dewa pun baring di sampingnya.
"Apa yang berat ini? Apa aku bermimpi?" tanya Michela.
"Bangun aku mau makan, apa kamu sudah memasak untukku?" tanya Dewa.
"Astaga! Aku melupakannya," ucap Michela teringat.
Michela langsung lari ke dapur dan mencari bahan-bahan untuk ia masak.
Karena buru-buru, akhirnya masakan Michela gosong semua, tapi dengan pedenya ia tetap menghidangkannya.
Dewa duduk dengan semangat, namun ketika ia melihat makanan yang gosong wajahnya langsung berubah.
"Kamu ingin membunuhku dengan makanan yang gosong ini?" tanya Dewa menatap Michela.
"Eh bukan… Tapi hanya ini yang bisa saya masak," ucap Michela.
"Apa jangan-jangan kamu tidak rela saya pergi ke Rusia, makannya kamu ingin membuat saya sakit, benarkan?" tebak Dewa menyengir.
"Mual, ingin muntah rasanya, Dia sangat kepedean sekali," ujar Michela dalam hati.
"Hehehehe… hanya bisa tertawa melihat dia sangat narsis," ucap Michela pelan.
Dengan terpaksa, Dewa tetap memakan masakan gosong yang di masak oleh Michela.
"Uhuk! Uhuk!" Dewa mendelik matanya karena makanannya sangat pahit.
"Eh, hehehehe… Maaf, ini minumannya," ucap Michela menyerahkan segelas air putih kepada Dewa.
__ADS_1
"Sudah, jangan di makan lagi, aku akan ngambil makanan yang layak makan untuk Tuan," ucap Michela.
Michela langsung kedapur dan mengambil makanannya.
"Ini Tuan, silakan di makan," ucap Michela meletakkan di atas meja.
"Suapi aku," pinta Dewa.
"Ep?"
"Ep apa? Ayo suapi aku," ujar Dewa.
Dengan terpaksa Michela menyuapinya.
Dewa tersenyum melihat Michela menyuapinya, membuat Michela merinding melihat senyum Dewa.
"Kamu kenapa?" tanya Dewa tertawa.
"Senyuman Tuan itu sangat mengerikan," ucap Michela.
"Eh Tuan, bukannya Anda masih lapar, bagaimana saya akan menyuapi Anda jika saya ada di sini," ujar Michela merasa tidak nyaman.
Michela berusaha untuk berdiri namun di tahan oleh Dewa.
"Biarkan saya memelukmu, karena besok saya akan pergi, bisa saja saya merindukanmu di sana," ucap Dewa tengelam dalam pelukannya.
"Sepertinya Tuan ini butuh istri," ucap Michela dalam hati.
"Tuan, Anda bisa saja mencari istri di sana, saya yakin pasti banyak yang menyukai Anda," ujar Michela.
"Apa kamu tidak menyukai saya?" tanya Dewa.
"Bu... bukan begitu Tuan, tapi sepertinya anda butuh seseorang yang mengurusi hidup Anda," ucap Michela gagap.
__ADS_1
"Saya sudah ada yang mengurusi, yaitu kamu," ucap Dewa enteng.
"Astaga! Dia tak mengerti apa tang aku maksudkan," ucap Michela dalam hati.
"Maksud saya anda butuh seseorang yang menemani anda di waktu malam," jelas Michela.
"Kan kamu sudah menemani saya," jawab Dewa.
"Astaga!" Michela menepuk jidat, bingung mau menjelaskannya bagaimana.
"Bukan itu maksud saya Tuan, saya rasa Anda butuh seorang istri," jelas Michela.
"Jika begitu kamu saja yang menjadi istri saya," saran Dewa tersenyum.
Michela langsung berdiri dari pangkuan Dewa.
"Maaf Tuan, Anda masih banyak wanita yang mengantri di belakang Anda, saya bahkan tak masuk hitungan," ucap Michela menundukkan kepala.
"Jika saya menginginkanmu bagaimana?" tanya Dewa.
"Eh... anu... itu tidak mungkin Tuan," jawab Michela mengeleng.
"Kalau iya pun, aku menolaknya," ucap Michela dalam hati.
"Malam ini saya akan tidur denganmu," ujar Dewa.
"Apaaa!! Tuhaaan tolong aku… aku tidak mau," jerit Michela dalam hati.
"Punggung saya sangat lelah, tolong pijitkan," pinta Dewa.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih