DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI

DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI
BAB 29


__ADS_3

Esok harinya.


"Apa? Papa masuk rumah sakit? Serangan jantung?" ucap Gabriel saat menerima panggilan telepon masuk dari asisten pribadi papa nya.


"Sekarang, papa ada di rumah sakit mana? Baiklah, aku akan segera ke sana," kata Gabriel akhirnya. Gabriel segera menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari ruang kerja nya. Memang saat ini Gabriel berada di kantor pusat. Sedangkan papa nya saat ini ada di rumah sakit di luar kota.


"Pasti papa kecapean karena mengurusi cabang perusahaan di luar kota. Natasha?? Apakah aku harus memberitahu Natasha soal ini atau apakah mama tiri ku itu sudah lebih dulu mendapatkan kabar ini? Aku rasa asisten pribadi papa tidak akan memberitahu mama ku dan juga mama tiri ku," gumam Gabriel.


Gabriel akhirnya meluncur ke rumah kediaman utama orang tua nya untuk menjemput Natasha dan mengajak Natasha ke rumah sakit di mana Waode saat ini sedang di rawat. Saat sampai di depan pagar rumah kediaman orang tua Gabriel, Gabriel menghubungi mama tiri nya. Sepertinya dia tidak perlu masuk karena takut jika mama nya mengetahui kalau Waode saat ini terkena serangan jantung. Gabriel mencoba menghubungi Natasha melalui handphone nya.


"Natasha! Cepat turun, aku menunggu kamu di depan gerbang! Dan ingat, jangan sampai mama ku tahu kalau papa ku saat ini sedang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung," ucap Gabriel memberitahu Natasha.


"Sudah jangan ribut, Natasha! Jangan panik! Cepat turun aku tidak mau menunggu kamu lama!" kata Gabriel akhirnya.


"Apakah Natasha benar-benar mencintai papa? Dia terlihat kaget dan panik ketika mengetahui kalau papa saat ini sedang dirawat di rumah sakit," gumam Gabriel sambil menunggu mama tiri nya itu turun dan keluar rumah.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Natasha membuka pintu gerbang dan berlari kecil menuju mobil Gabriel yang diparkir di depan gerbang rumah itu.


"Gabriel!!" ucap Natasha sambil membuka pintu samping mobil itu. Terlihat Natasha dengan raut wajahnya yang panik, sedih, kaget, juga khawatir. Gabriel mendekati Natasha. Natasha pun melebar matanya saat wajah Gabriel sangat dekat dengan wajah dirinya.


"Kamu selalu lupa pasang sabuk pengaman! Kalau terjadi apa-apa dengan kamu, aku lagi nanti yang disalahkan," ucap Gabriel. Aroma maskulin dari tubuh Gabriel sempat tercium ke hidung Natasha. Ditambah bau nafas khas orang perokok pun tercium Natasha.


"Kenapa kamu?" tanya Gabriel yang melihat wajah Natasha yang gugup saat Gabriel begitu dekat dengan wajah nya. Natasha sempat menahan nafasnya karena posisi itu.

__ADS_1


"Eh, em tidak! Ayo, Gabriel kita harus melihat papa kamu. Aku takut terjadi apa-apa dengan mas Waode," kata Natasha. Gabriel diam tanpa menanggapi ucapan Natasha. Ada rasa cemburu saat Natasha penuh perhatian dengan papa nya.


"Apakah jika aku yang mengalami sakit, kamu juga akan panik dan khawatir seperti itu, Natasha?" tanya Gabriel. Natasha melebarkan matanya lalu melihat ke arah Gabriel yang saat ini sudah menjalankan mobilnya dengan cepat.


"Jangan bicara yang aneh-aneh, Gabriel! Saat ini papa kamu sedang berada di rumah sakit. Dan kita tidak tahu keadaan nya sekarang. Jangan menambah lagi rasa sedih aku, dong! Jika kamu sakit, siapa yang mengganggu aku? Eh???" ucap Natasha. Gabriel tersenyum mendengar pernyataan dari mulut mama tiri nya itu.


"Hehehe, jadi selama ini kamu suka jika aku mengganggu kamu?" sahut Gabriel.


"Eh?? Itu, itu, maksud aku,.. maksud aku tidak seperti itu," ralat Natasha.


"Bagi aku kalimat pertama yang kamu ucapkan itu merupakan sebuah kejujuran," kata Gabriel. Natasha diam tidak menanggapi anak tiri nya itu. Pandangan nya sekarang ini ke arah depan melihat jalan raya. Gabriel terlihat senyum-senyum sendiri sambil menyetir mobilnya.


*****


"Mari tuan muda Gabriel, nyonya muda! Tuan besar Waode sudah dipindahkan di kamar inap untuk sementara waktu butuh istirahat. Namun sebelum nya tuan besar tiba-tiba merasakan nyeri di bagian dada nya lalu tidak lama tidak sadarkan diri. Jadi kami segera melarikan tuan besar ke rumah sakit, takut terjadi apa-apa dengan tuan besar. Maaf kalau saya tadi menyampaikan hal yang berlebihan dengan tuan muda Gabriel bahwasanya tuan besar mengalami serangan jantung," jelas asisten pribadi Waode panjang lebar sambil berjalan menuju kamar VIP di mana tuan besar Waode sedang dirawat di sana.


"Kamu bikin kami panik dan takut, bang! Lain kali jangan buru-buru menyimpulkan penyakit seseorang apalagi tiba-tiba pingsan. Siapa tahu menahan lapar lalu pingsan," ucap Gabriel. Natasha yang mendengar nya jadi melirik ke arah Gabriel lalu serta merta menjulurkan lidahnya.


"Nah, ini kamar tuan besar Waode! Silahkan tuan muda, nyonya muda!" kata asisten pribadi Waode.


"Terimakasih, bang! Oh iya bang! Tolong belikan kopi gula aren dengan pisang coklat keju," perintah Gabriel sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan pada asisten pribadi Waode itu.


"Baik, tuan muda!" sahut asisten pribadi itu lalu berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


Natasha mendekati suaminya yang terlihat memejamkan mata. Mungkin tertidur setelah tubuh nya mendapatkan atau masuk obat dari dokter.


"Mas Waode!" gumam Natasha sambil mengusap punggung tangan Waode. Gabriel terlihat mengambilkan kursi untuk duduk Natasha. Natasha segera menjatuhkan pinggulnya ke atas kursi yang diletakkan Gabriel di sebelah papa nya yang saat ini terlihat sudah tenang dan beristirahat.


"Jangan mewek! Papa sedang tidur dan istirahat. Papa ku belum mati kok. Jadi masih bisa membuat kamu enak-enak buat anak," goda Gabriel. Natasha menatap tajam ke arah Gabriel. Kedua matanya itu terlihat membesar. Setelah itu kembali Natasha menjulurkan lidahnya ke arah Gabriel.


"Natasha, sayang! Kamu datang di sini? Siapa yang memberitahu kamu?" ucap Waode saat terbangun dan membuka matanya.


"Aku, pa! Papa harus berterimakasih dengan aku karena aku membawa istri muda kesayangan, papa," sahut Gabriel tanpa filter. Waode tidak memperdulikan omongan putra nya yang suka jahil dan ceplas-ceplos.


"Mas, mau minum? Atau mau makan? Biar aku ambilkan!" tawar Natasha penuh perhatian.


"Heem sayang aku! Kalau ada kamu di dekat aku, rasanya jadi semangat. Rasanya ingin hidup seribu tahun lagi. Kasih ciuman dikit, Natasha sayang," ucap Waode manja. Gabriel yang mendengar nya rasanya ingin muntah.


Natasha mengecup kening, kedua pipi Waode lalu bibir Waode itu. Waode tersenyum penuh kemenangan.


"Terimakasih, cinta ku," kata Waode membuat Gabriel terbakar api cemburu.


Kini Natasha mulai menyuapi Waode dengan telaten. Hal itu semakin membuat eneg Gabriel melihat nya.


"Huh dasar orang tua pura-pura sakit. Biar mendapatkan perhatian dari bini mudanya, huh," umpat Gabriel dalam hati.


"

__ADS_1


__ADS_2