
"Aku tidak pernah menyangka jika nyonya Martha sudah berbuat curang dengan mas Waode," gumam Natasha.
Saat ini Natasha sedang berada di dalam mobilnya menuju perusahaan di mana Waode ngantor di sana. Natasha sengaja mendatangi Waode karena mengkhawatirkan kesehatan Waode apalagi baru saja Waode mengetahui kebenaran bahwasanya Gabriel bukanlah anak kandung nya. Tentu saja hal itu membuat Waode menjadi sedih.
Setibanya di perusahaan di mana Waode bekerja, Natasha segera berjalan ke ruangan kerja Waode berada. Karena asisten pribadi Waode sudah mengenal Natasha sebagai istri muda bos perusahaan itu, Natasha langsung melenggang bebas masuk menemui suaminya tanpa hambatan.
"Halo, sayang! Kejutan!!" ucap Natasha saat tiba-tiba masuk ke ruangan suaminya. Waode tentu saja terkejut dengan kedatangan Natasha. Waode bangkit berdiri dari tempat duduknya dan langsung menghambur memeluk pinggang istrinya. Kecupan manis mendarat di kening Natasha.
"Kok tidak bilang kalau mau ke sini, sih sayang?" protes Waode.
"Kalau bilang, namanya bukan kejutan dong mas!? Sudah makan belum, mas?" ucap Natasha.
"Hem, kebetulan belum nih. Kamu mau makan apa, biar aku pesankan," tanya Waode.
"Apa saja yang penting enak!? " jawab Natasha.
"Makanan kesukaan kamu saja yah sayang!?" ucap Waode. Dia segera menghubungi asisten nya untuk memesankan makanan dan minuman yang dia dan Natasha inginkan.
"Mas, apakah hasil tes DNA sudah jelas membuktikan bahwa Gabriel benar-benar anak kandung dari tuan Pras?" tanya Natasha.
"Entahlah! Gabriel belum memberikan kabar itu padaku. Aku sudah ikhlas akan hasilnya, sayang! Martha sudah jelas-jelas mengakui nya sendiri. Tanpa hasil tes itu aku sudah percaya dengan ucapan Martha. Sudahkah, jangan membahas itu lagi. Lebih baik kita bersenang-senang mumpung kamu datang di ruangan ini, hem?" ucap Waode yang segera mengeksekusi Natasha di ruangan kerja nya tanpa bisa menolaknya.
__ADS_1
*****
Tok.
Tok.
tok.
"Papa!" ucap Gabriel yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam ruangan kerja Waode. Ditangan Gabriel kini ada kertas hasil tes DNA. Gabriel menyerahkan lembaran itu pada Waode. Natasha yang masih di ruangan itu memperhatikan suami nya penuh rasa kekhawatiran. Takut jika suami nya kembali sedih jika menyadari bahwa Gabriel bukanlah putra nya.
"Papa! Walaupun hasil nya menunjukkan bahwa 99,99 persen aku dan tuan Pras adalah anak dan ayah, tapi dari lubuk hatiku yang paling terdalam, papa Waode tetap papa ku. Papa yang aku kenal sejak aku masih kecil. Dan mungkin saja papa Waode sangat mencintai aku saat aku masih di dalam kandungan mama Martha," kata Gabriel. Waode meletakkan kertas hasil tes DNA itu lalu memeluk Gabriel. Mata nya berkaca-kaca. Tentu saja ada hari di sana. Namun dada nya merasakan sesak saat menyadari kenyataan ini.
"Papa selalu menyayangi kamu, Gabriel? Dan itu tidak akan berubah walaupun kamu bukan darah daging ku," ucap Waode. Waode melepaskan pelukan nya terhadap Gabriel. Namun tiba-tiba saja Waode memegangi bagian jantung nya yang terasa nyeri dan seperti terhenti. Tentu saja Natasha dan Gabriel sangat terkejut akan hal itu.
"Mas Waode!" teriak Natasha saat tubuh Waode ambruk dan dengan cepat ditangkap serta dipeluk oleh Gabriel. Natasha histeris menangis. Dengan bantuan asisten pribadi Waode kini Waode di bawa ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Natasha menangis terisak. Entah kenapa kali ini Natasha benar-benar mengkhawatirkan Waode.
"Semoga mas Waode baik-baik saja!" gumam Natasha.
Gabriel menatap Natasha yang tidak berhenti menangis. Tentu saja dalam hal ini Gabriel merasa bersalah. Waode tentu saja menjadi sedih dengan kenyataan yang dihadapi. Walaupun bibirnya berkata ikhlas menerima kenyataan dan sikap nya yang tenang seolah tidak mempermasalahkan semua itu, tetap Waode seperti belum bisa menerima bahwasanya Gabriel yang ia besarkan dari kecil ternyata bukanlah darah dagingnya. Pengkhianatan yang sering kali dilakukan oleh Martha membuat dirinya selalu menelan pil pahit. Betapa teganya Martha selalu membuat dirinya kecewa. Namun sejak dahulu Waode enggan untuk bercerai dengan Martha walaupun sebenarnya mereka sudah lama pisah ranjang sejak terungkapnya pengkhianat yang dilakukan Martha pada laki-laki lain.
"Natasha!" gumam Gabriel.
__ADS_1
Natasha mengusap air matanya. Gabriel meraih tubuh Natasha dan membenamkan di dada bidangnya. Natasha semakin terisak. Dalam pikiran Natasha, dia begitu takut dan khawatir jika Waode tidak baik-baik saja dan semakin buruk keadaan nya. Hal kemungkinan yang ditakutkan Natasha akan terjadi. Itulah yang sangat ditakutkan Natasha. Dia sayang dengan Waode sebagai suami yang sangat mengayomi dan sabar terhadap dirinya yang masih muda tentunya banyak kemauannya.
"Tenang, Natasha! Semua akan baik-baik saja. Dokter akan menangani papa Waode. Papa Waode akan segera sadar dan pulih seperti sediakala. Jangan nangis dong!" ucap Gabriel seraya mengusap puncak kepala Natasha. Pemandangan itu tidak ubahnya seperti seorang kakak beradik yang menenangkan adiknya saat sedih karena mainannya hilang direbut kawannya. Benar! Gabriel seperti seorang kakak sedangkan Natasha seperti adik nya bukan mama tiri nya.
"Gabriel, kamu yang bertanggung jawab jika mas Waode semakin buruk keadaannya. Mas Waode kaget kalau kamu bukan hasil kecebong dia. Kamu ternyata hasil kecebong tuan Pras," ucap Natasha pelan.Gabriel menahan tawa. Dia hendak menjitak mama tiri nya itu tapi takut Natasha semakin menangis. Di saat suasana sedih itu sempat-sempatnya Natasha bicara konyol soal kecebong.
"Iya sudah jangan ribut! Semua sudah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kita berdoa supaya papa Waode bisa sehat kembali. Oke?" kata Gabriel. Natasha melepaskan pelukan Gabriel. Ingusnya dan air matanya sudah banyak nempel di kemeja biru muda yang dikenakan oleh Gabriel. Gabriel yang sangat pecinta kebersihan melihat itu basah kemeja nya jadi merasa risih. Kembali Gabriel rasanya mau marah dan menjitak kepala mama nya itu namun situasinya mama tiri nya memang lagi bersedih karena papa Waode saat ini masih ditangani di ruang UGD.
"Gabriel, aku lapar!" keluh Natasha sambil mengusap perutnya. Natasha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu belum makan?" tanya Gabriel. Natasha menganggukkan kepalanya cepat.
"Tadi sebenarnya mas Waode sudah memesan makanan. Tapi kami belum sempat memakannya," kata Natasha.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan makanan untuk kamu," ucap Gabriel.
"Apa saja yang penting bisa membuat aku kenyang," kata Natasha.
Gabriel membuka aplikasi di ponselnya. Dia dengan cepat memesan makanan secara online. Sedangkan Natasha kembali menangis teringat dengan suaminya yang masih kritis di tangani pihak medis.
"Gabriel! Bagaimana kalau mas Waode meninggal dunia. Bagaimana dengan aku kalau suami ku meninggal, Gabriel?" ucap Natasha. Sukses kalimat itu membuat jantung Gabriel berhenti sejenak. Gabriel tentu saja sangat takut juga bila apa yang diucapkan Natasha benar terjadi. Gabriel kembali merengkuh tubuh Natasha dan membenamkan di dada nya yang tadi basah karena ingus dan air mata Natasha yang menempel di sana.
__ADS_1
"Sudah tutup mulut kamu, Natasha! Jangan bicara sembarangan! Atau aku akan menutup. mulut kamu dengan lakban supaya tidak bicara omong kosong lagi," Gabriel.