DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI

DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI
BAB 41


__ADS_3

Pagi hari tiba.


"Gabriel! Bangun sayang! Apakah kamu tidak pulang ke apartemen kamu, nak? Apakah kamu juga tidak pergi ke kantor?" tanya nyonya Martha yang mendapati Gabriel masih tidur di samping nya. Gabriel pelan-pelan membuka matanya.


"Mama, aku di sini menunggu mama. Menunggu pagi hari ini. Banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan pada mama. Mama harus menjelaskan dan menjawabnya. Aku tidak mau aku dalam keraguan dan kebimbangan atas semua yang aku dengar ini dari orang lain," ucap Gabriel. Nyonya Martha menyipitkan bola matanya.


Tentu saja nyonya Martha sudah sangat tahu dan yakin, pertanyaan apa yang akan diutarakan oleh Gabriel. Pasti untuk menegaskan apakah benar bahwasanya ayah kandung Gabriel adalah Pras.


"Apakah tuan Pras sudah menyampaikan hal itu kepada kamu, nak? Kalau itu benar! Semua yang dikatakan oleh tuan Pras adalah benar adanya. Mama lah yang sudah menyampaikan kebenaran itu pada nya. Dia adalah ayah kandung kamu, nak! Maafkan mama sudah mengecewakan kamu, nak!" jelas nyonya Martha.


"Astaga, mama! Berapa banyak lagi kebohongan yang sudah mama lakukan terhadap papa Waode. Dia sebagai suami sudah baik. Tapi kenapa mama dulu selalu membuat kecewa papa Waode?" tanya Gabriel.


"Karena saat itu mama dan papa Waode menikah lantaran perjodohan. Mama berusaha belajar mencintai papa kamu Waode. Dan tentu saja belajar menjadi istri yang baik. Namun mama juga butuh bahagia dan punya cara untuk bahagia itu sendiri," sahut nyonya Martha.


"Walaupun yang mama lakukan adalah hal yang merugikan mama sendiri? Bermain judi, berteman dengan orang-orang yang tidak memiliki pandangan hidup dan prinsip. Juga bersenang-senang dengan melakukan pengkhianatan dengan papa?" kata Gabriel.


Plak.


Plak.


Plak.


Nyonya Martha serta merta menampar pipi Gabriel. Walaupun tamparan itu tidak sakit dan kurang memiliki tenaga, bagi Gabriel itu menyakitkan. Karena mama nya memang dari dulu seperti tidak memiliki aturan dan bahkan sulit diatur oleh papa Waode.


"Maafkan, mama Gabriel! Mama tidak bermaksud menyakiti kamu," ucap nyonya Martha gemetaran.


"Tidak apa-apa.ma! Tamparan Ini tidak membuat aku sakit. Namun aku malu jika menyadari bahwasanya aku adalah anak haram dari hubungan gelap diluar nikah. Bagaimana kalau papa Waode mengetahui hal ini, ma?" tanya Gabriel.


Tiba-tiba saja Waode masuk ke dalam kamar nyonya Martha. Karena di luar mendengar keributan suara Gabriel yang keras tidak terkontrol.

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut?" ucap Waode yang masuk ke kamar nyonya Martha bersama dengan Natasha. Waode dan Natasha pun masih mengenakan pakaian tidurnya.


Gabriel dan nyonya Martha saling pandang. Mereka terkejut karena Waode dan Natasha tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu.


"Jelaskan, Gabriel! Apa yang diributkan oleh kalian?" tanya Gabriel. Gabriel segera mengenakan jaketnya dan menyambar kunci mobilnya. Gabriel tidak ingin menjelaskan sesuatu yang membuat dirinya sangat kecewa dengan mama nya.


"Gabriel! Jangan pergi kamu! Jelaskan dulu pada papa? Ada apa ini?" teriak Waode. Natasha berusaha menenangkan suami nya. Namun Gabriel segera berlalu dari kamar itu dan meninggalkan rumah itu.


Waode kini menatap ke arah nyonya Martha yang kini sudah menangis sesenggukan. Natasha mendekati nyonya Martha dan mencoba menenangkan nya.


"Maafkan aku, Mas Waode! Sebenarnya Gabriel bukan lah anak mas Waode!" ucap Martha.


Waode dan Natasha yang mendengar nya menjadi sangat terkejut dengan kebenaran itu. Waode tentu saja tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan nyonya Martha.


"Martha! Jangan bercanda kamu!" sahut Waode tidak percaya dengan semua yang disampaikan oleh Martha. Waode memegangi dada nya. Tiba-tiba saja Waode merasakan nyeri di bagian dada nya tepat nya di letak jantung nya. Natasha yang melihat Waode meringis menahan sakit segera memapahnya keluar dari kamar nyonya Martha.


"Bibi Mariati! Tolong buatkan air hangat untuk tuan Waode," perintah Natasha.


"Baik, nyonya muda!" sahut bibi Mariati. Dia. langsung menyiapkan minuman hangat yang diminta oleh Natasha untuk suaminya.


"Ke rumah sakit saja yah, mas! Kita periksakan lagi kondisi, mas! Aku takut mas kenapa-napa lagi seperti kemarin," ucap Natasha.


"Tidak usah! Aku hanya kurang istirahat saja! Kamu tahu kan, semalam aku begadang dengan Pras sampai menjelang subuh. Dan ini tadi bangun pagi-pagi juga," kata Waode. Dia keras kepala.


"Kalau begitu hari ini tidak usah ke kantor dulu, mas! Lebih baik mas Waode istirahat dan tidur sepuasnya. Bagaimana?" saran Natasha.


"Tidak, sayang! Hari ini ada jadwal meeting dan juga beberapa kerjaan dan urusan harus diselesaikan cepat. Gabriel sekarang ini banyak mengurusi bagian anak cabang. Sedangkan aku di Pusat dibantu dengan asisten pribadi ku, Roni," kata Waode.


"Tapi mas! Nanti kalau kamu kecapean dan kurang istirahat seperti kemarin-kemarin. Tiba-tiba pingsan dan lemah. Nanti aku jadi bingung mas kalau kamu seperti itu," ucap Natasha. Waode tersenyum saat melihat wajah Natasha penuh kekhawatiran dan juga perhatian.

__ADS_1


"Kamu kenapa ingin sekali supaya aku istirahat di rumah dan tidak pergi ke kantor? Pasti kamu ingin sama aku terus yah, sayang! Dan ngajak gituan yah???!" ucap Waode yang membuat Natasha cemberut sebal.


"Ih, mas Waode ini. Selalu saja pikirannya ke sana saja. Ya sudah deh! Sekarang sudah lebih baik apa belum? Kalau belum enak kan lebih baik periksa ke rumah sakit," kata Natasha.


"Sudah lebih baik! Terimakasih, sayang atas perhatian nya," ucap Waode.


"Ya sudah, ini diminum air hangat nya!" kata Natasha akhirnya sambil menyodorkan gelas yang berisi air hangat yang sudah disiapkan oleh bibi Mariati.


Waode segera meminum air hangat itu dan menghabiskan nya. Setelah itu, mengajak Natasha naik ke atas menuju ke kamarnya. Waode kini mulai masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh nya.


"Aku harus memastikan sendiri kalau Gabriel adalah anak kandung Pras sesuai pengakuan dari Martha. Aku sungguh-sungguh tidak menyangka jika sudah bertahun-tahun aku dibohongi oleh istriku sendiri. Bahkan dia hamil saat sebelum kami menikah. Astaga, Martha! Apakah karena dia tidak pernah mencintai aku sehingga dia tega menyakiti aku. Bahkan perjodohan itupun bukan kemauan aku. Aku juga belajar mencintai Martha saat itu. Tapi kenapa Martha selalu membuat aku kecewa?" gumam Waode saat sudah berada di dalam kamar mandi.


Tok.


Tok.


"Mas, kamu di dalam tidak kenapa-kenapa kan, mas? Cepat mandinya dong! Nanti masuk. angin loh mas!" teriak Natasha yang mendapati Waode sudah terlalu lama di dalam kamar mandi.


"Iya, sayang! Ini. sudah mau selesai kok," sahut Waode dengan teriakan nya dari dalam kamar mandi.


"Mas, buka pintu nya. Kamu yakin tidak apa-apa kan, mas?" Natasha panik.


"Tidak sayang! Jangan khawatir! Aku baik-baik saja!" sahut Waode yang kini sudah membuka pintu nya. Natasha menghambur memeluk Waode.


"Aku tidak apa-apa sayang! Kok kamu yang menangis sih, sayang?" tanya Waode seraya mengusap air mata Natasha.


"Aku pikir dengan berita yang mengejutkan itu, Mas Waode tiba-tiba pingsan seperti dulu," kata Natasha.


"Kamu memang istriku yang sangat peduli dengan aku," sahut Waode seraya merangkum kedua pipi Natasha lalu mengecup keningnya.

__ADS_1


__ADS_2