DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI

DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI
BAB 44


__ADS_3

Di rumah sakit, duduk menunduk Natasha dengan wajahnya yang kusut. Di sebelah nya Gabriel tidak kalah kacaunya. Walaupun demikian Gabriel lah yang selalu membuat tenang Natasha saat tiba-tiba menangis histeris jika suaminya, Waode tidak juga sadar. Kondisi Waode kritis dan itu kenyataannya.


Keluar seorang laki-laki dengan berpakaian putih dengan satu orang suster cantik di sebelah nya. Gabriel langsung berlari kecil mendekati laki-laki dan wanita yang berjas putih.


"Dokter?!" ucap Gabriel.


"Maaf, tuan Gabriel! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Tuan besar Waode tidak bisa kami tolong!" ucap dokter itu dengan wajah yang menunduk lesu. Dokter itu berjalan meninggalkan Gabriel yang masih diam mematung, tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.


Beberapa suster keluar dari ruangan UGD dengan mendorong brankar di mana di atas nya ada tubuh orang yang ditutupi selimut sampai menutupi kepala.Gabriel segera mendekati tubuh yang sudah terbujur kaki itu. Dan membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Papa! Papa!" gumam Gabriel. Tangis nya tertahan melihat papa Waode sudah tidak bernafas lagi. Natasha segera berlari kecil dari kursi tunggu dan melihat siapa yang berbaring dah sudah tidak bernafas itu.


"Mas Waode! Mas!" Natasha histeris menangis. Apa yang dikhawatirkan dan mungkin firasatnya telah benar-benar menjadi kenyataan. Natasha histeris menangis sampai lupa akan sekitar. Orang-orang memperhatikan dirinya yang menangis tanpa tangga nada yang teratur. Gabriel meraih tubuh lemah itu dalam dekapan nya. Sampai akhirnya tubuh Natasha lunglai tidak sadarkan diri.


"Natasha! Natasha! Suster tolong!" ucap Gabriel yang ikut panik dengan situasi itu di mana mama tiri nya pingsan karena mendapati suaminya telah meninggal dunia.


*****


Kesedihan kini dirasakan oleh Natasha karena kehilangan suami tercinta nya. Dia harus menjadi janda diusianya yang masih terbilang muda. Usia dua puluh tiga tahun menyandang status janda dan tidak memiliki anak.

__ADS_1


Martha ikut meratapi kepergian suaminya, Waode. Walaupun selama ini dirinya yang sakit-sakitan namun kenapa Waode lah yang lebih dahulu di panggil oleh Nya. Sedangkan dirinya sudah sangat putus asa karena setiap hari harus mengandalkan obat.


"Mas Waode! Selamat jalan mas! Kamu orang baik mas. Suami yang bertanggungjawab dan pandai menyenangkan istri. Kamu pasti akan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Nya," gumam Martha.


Di tentu ikut merasakan kehilangan. Berapa tahun menjadi istrinya. Walaupun dia lah yang suka membuat ulah. Namun setitik dia juga masih memiliki rasa sayang pada Waode.


Suster perawat yang menjaga nyonya Martha mengusap pundak nyonya Martha dengan lembut. Dia berusaha membuat tenang nyonya Martha yang terlihat menangis hingga kedua bahunya berguncang.


"Seandainya aku tidak mengungkapkan kebenarannya, mungkin mas Waode dalam keadaan baik-baik saja. Dia memiliki riwayat jantung yang lemah. Penyakit jantung nya sudah lama dideritanya. Hanya aku yang tahu kalau sebenarnya dia sakit parah. Aku rasa Gabriel dan istri muda nya, Natasha tidak menyadari dan mengetahui itu. Kalau Mas Waode masih suka mengkonsumsi obat-obatan. Dia ingin terlihat baik-baik saja di depan putraku dan Natasha. Padahal dia tidak jauh berbeda dengan aku. Beda dengan aku yang tergantung dengan insulin di mana aku penderita diabetes," kata Nyonya Martha.


"Semua sudah jalan tuan besar Waode, nyonya Martha. Masa hidup di dunia serta ajal seseorang siapa yang tahu. Kita tidak akan pernah tahu, kapan kematian akan mendatangi kita," ucap suster yang menjaga nyonya Martha.


"Nyonya Martha, sabar nyonya!" sahut suster itu.


*****


"Ya Tuhan! Baru kemarin kita berbincang-bincang dan ngobrol bersama. Baru kemarin kita tertawa bercanda bersama. Kini aku harus menyaksikan kamu terbujur kaku. Kamu lebih dulu meninggal dunia. Meninggalkan kesenangan duniawi yang sesaat dan tidak kekal abadi," ucap Pras.


"Waode, Waode kamu meninggal dunia dan tidak akan menikmati istri kamu yang cantik dan seksi lagi. Kamu yakin mau mati? Lihat Waode! Bangun lah! Kalau tidak bangun, aku akan gangguin Natasha, istri muda kamu," ancam Pras saat di dekat jenazah Waode yang sudah di dandani dengan setelan jas kesukaannya. Wajahnya pun sudah di make up menjadi tambah ganteng.

__ADS_1


"Bangun Waode! Ucapan ku ini tidak sekedar menakuti kamu! Kalau kamu tidak mau bangun, aku akan mengganggu istri kamu! Bangun Waode! Apakah kamu lupa caranya bernafas? Apakah kamu lupa caranya membuka kedua mata kamu itu, hah? Bangun Waode! Lihatlah istri-istri kamu semua nya pada menangis karena kehilanganmu," gumam Pras dengan pundaknya berguncang dengan hebat. Dia sangat kehilangan teman dekatnya. Dia sangat kehilangan teman akrab nya.


"Tuan Pras! Tenangkan diri anda! Mari tuan Pras! Lebih baik anda duduk di sana. Karena semua orang akan menunggu gilirannya," ucap sang asisten pribadi yang menenangkan tuan nya.


Pras berjalan lesu duduk bergabung dengan orang-orang yang berduka. Berbeda dengan Vero yang menemani suaminya. Sesekali Vero melirik ke arah Gabriel yang duduk di dekat mama tiri nya Natasha. Ada rasa cemburu tiba-tiba hadir di mata Vero. Namun kembali dia melihat ke arah Pras, suaminya. Dia akan kembali menundukkan kepala nya.


"Kamu yang sabar yah! Setelah papa ku pergi dari dunia ini, kamu boleh kok nyari laki-laki baru lagi untuk kamu jadikan sebagai suami. Mengingat kamu masih sangat muda dan cantik. Soal harta warisan untuk kamu, kamu akan mendapatkan pembagian nya," ucap Gabriel.


Natasha melebarkan kedua matanya. Sorot matanya tajam menatap Gabriel. Gabriel menganggap dirinya seperti istri-istri muda pada umumnya yang hanya mengincar harta dan kekayaan saja. Natasha benar-benar kehilangan sosok Waode yang seperti bapaknya, mengayomi dan melindungi nya. Namun demikian Waode lah yang bisa menyenangkan dirinya.


"Belum dikubur suamiku, Gabriel. Belum juga papa kamu dikebumikan. Kamu sudah bicara seperti itu. Menyuruh aku untuk mencari pengganti mas Waode. Apa kamu tidak menghormati jasad papa kamu? Boleh saja kamu selalu menghina dan merendahkan aku. Tapi hargailah papa kamu. Yah, walaupun mas Waode bukan lah ayah kandung kamu," ucap Natasha.


"Sekarang aku jadi tahu! Kamu tidak benar-benar tulus menyayangi mas Waode! Jangan-jangan kamu dengan sengaja membuat mas Waode terkena serangan jantung dan kamu sengaja membuat nya kritis hingga tujuan kamu tercapai. Yaitu supaya mas Waode meninggal," tuduh Natasha.


Natasha kembali menangis. Gabriel sangat terkejut dengan tuduhan itu. Saat itu dirinya lah yang mengabarkan bahwa hasil tes DNA itu. Apakah semua karena dirinya? Gabriel segera merengkuh tubuh Natasha yang kembali menangis terisak-isak.


"Maaf, maafkan aku! Aku tidak sengaja! Aku tidak membunuh papa. Aku mencintai papa," ucap Gabriel ikut menangis sambil memeluk Natasha. Di tempat lain di sudut ruangan Vero menyaksikan adegan antara Gabriel yang memeluk Natasha. Ada kecemburuan di sana.


"Sialan! Natasha ingin menggoda Gabriel!" batin Vero.

__ADS_1


__ADS_2