DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI

DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI
BAB 36


__ADS_3

Di kamar nyonya Martha.


Pras menatap tubuh lemah tidak berdaya itu di atas tempat tidur. Suster yang menjaga nyonya Martha masih terlihat sedang menggantikan pakaian nyonya Martha. Nyonya Martha seperti mayat hidup yang segala sesuatu nya bergantung pada orang di dekatnya. Bahkan mau mengganti pakaian nya pun dibantu suster perawat yang sengaja bekerja di rumah itu khusus untuk mengurus nyonya Martha.


Suster itu segera mempersilahkan Pras mendekat ke sisi nyonya Martha dengan memberikan kursi untuk duduk di samping nyonya Martha berbaring di atas ranjang. Setelah nya suster itu keluar kamar, sengaja memberikan kesempatan tuan Pras dengan nyonya Martha berbicara.


"Martha!" gumam Pras.


Martha melihat kedatangan Pras dengan sorot tidak percaya. Netra mereka bertemu. Sebagai seorang laki-laki, Pras sangat jarang menunjukkan kelemahan nya di depan seorang wanita. Apalagi istri-istrinya. Mata itu berkilat berkaca-kaca. Pras berusaha menahan supaya kristal bening di sudut matanya itu tidak jatuh. Pras menatap wajah pucat dan layu nyonya Martha. Itu sangat jauh berbeda ketika Martha masih sehat dan kuat.Dulu Martha selalu ceria. Bahkan tidak pernah menunjukkan tangis nya saat mereka sepakat untuk berpisah karena perjodohan itu. Setelah perpindahan itu, Pras bukan tidak tahu siapa suami dari Martha. Bahkan Pras ternyata sangat dekat dengan suami Martha yaitu Waode. Karena menilai Waode adalah suami yang baik dan setia, Pras berniat menjauhi Martha dan tidak ingin merusak rumah tangganya. Lebih baik seperti itu bukan?


Air mata itu tidak tertahankan lagi lolos sudah di sudut mata Pras. Martha meraih tangan Pras seraya ingin mengusapnya. Pras sendiri lah yang akhirnya menyentuh tangan itu. Tangisan sedih, haru dan mungkin rindu saat-saat dulu hadir bak rol film. Tapi bukankah roda itu akan terus berputar mengikuti sang surya.


"Kamu menangis Pras? Untuk apa?" ucap Martha. Bahu itu berguncang. Pras sangat pilu dengan keadaan Martha, kekasihnya dulu saat dirinya belum ingin melepaskan masa lajangnya. Setelah Martha menikah pun, Pras masih cukup lama berpetualang mencari cinta nya.


"Sejak kapan kamu seperti ini, Martha?" tanya Pras seraya mengusap air mata nya yang berderai.


"Belum lama!?" jawab Martha.


"Apakah Waode menyakiti kamu?" tanya Pras.


"Tidak, Pras! Justru akulah yang sering menyakiti dirinya," kata Martha. Pras menyipit bola matanya.


"Kenapa? Bukankah dengan suami kamu, kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan? Menjadi istri dan pengakuan dari anggota keluarga yang terhormat," sahut Pras.


"Entah lah, aku tidak tahu Pras! Semua mengalir begitu saja. Seringnya Waode perjalanan dinas dan jarang pulang, membuat aku mencari kesenangan sendiri," cerita Martha.


Pras masih menggenggam tangan Martha. Diusapnya punggung tangan itu yang tidak sesegar dulu. Tangan itu didekatkan di bibir Pras dan dikecup nya pelan.


"Jika aku tahu kamu tersakiti dan tidak bahagia bersama dengan teman dekat ku, Waode. Aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan nya, Martha," ucap Pras. Martha tersenyum sinis.

__ADS_1


"Laki-laki sama saja, Pras! Kamu, Waode juga sama, tidak jauh beda bukan? Kalian selalu sibuk dengan bisnis kalian dan mungkin saja sibuk dengan wanita-wanita di luar sana yang tentu saja lebih segar. Aku pun tidak bisa membayangkan apa jadinya jika aku menikah dengan kamu, Pras!" ucap Martha. Pras tersenyum getir. Kenyataannya sampai saat inipun jiwa muda dan petualangan nya selalu mencoba hal baru tidak juga disudahi. Walaupun dalam hatinya Pras ada sosok. wanita yang ia sayangi.


"Sudahlah, Pras! Kenapa kamu bisa datang ke rumah ini setelah sekian lama tidak berhubungan dengan suamiku," tanya Martha.


"Benar! Kemarin lusa aku bertandang di kantor nya berbincang-bincang, bercerita mengenai kabar kita masing-masing. Aku tentu menanyakan kabar kamu juga, Martha. Selain itu Waode juga bercerita kalau dia sudah menikah lagi. Dan katanya kamu sakit. Waode mengundang ku makan malam di rumah ini dan mengenalkan istri baru nya. Aku pikir, bagaimana dengan kamu jika Waode menikah lagi?" ucap Pras.


"Justru aku lega Waode menikah lagi. Natasha sangat baik selain bisa menyenangkan suaminya. Bagaimana dengan kamu? Kamu datang dengan istri yang mana?" ujar Martha.


"Hahaha, astaga Martha! Istri yang mana sih? Kamu masih saja menilai aku laki-laki brengsek sejak dari dulu," sahut Pras.


"Bukan aku tidak mencari tahu tentang kamu, Pras! Namun kabar kamu di media sosial bikin aku mengetahui nya. Sebelum aku sakit aku sudah mendengar kamu yang menjadi laki-laki Casanova. Hehehe. Saat itu aku merasa beruntung cepat-cepat menjauh dari kamu dan menikah dengan Waode. Menerima perjodohan bisnis itu," kata Martha.


"Astaga, Martha! Jika kamu tidak memutuskan hubungan dengan ku, mungkin saja cerita hidup ku tidak seperti ini, Martha. Mungkin saja aku akan menjadi laki-laki setia seperti Waode yang hanya berpulang pada istrinya saja di rumah. Walaupun sekarang ini Waode memiliki dua istri dan itu membuat kamu kecewa atau tersakiti. Yah, biar pun bibir kamu berkata ikhlas kalau suami kamu menikah lagi dengan Natasha," kata Pras.


Kini percakapan Pras dan Martha sudah mengalir begitu saja. Percakapan yang apa. adanya yang ceplas-ceplos. Kini Martha mulai teringat rahasia besar yang selama ini dia pendam dan simpan. Mungkin inilah saatnya bagi Martha untuk menyampaikan kebenaran nya pada Pras.


"Rahasia? Apa itu, Martha?" sahut Pras.


"Tapi, kamu harus berjanji terlebih dahulu dengan ku, untuk sementara ini kamu jangan memberitahukan dengan yang lain, termasuk Waode dan juga Gabriel, putra ku," kata Martha.


"Oke, oke baiklah! Aku akan menyimpan nya sendiri untuk aku. Nah, kamu bisa lega sekarang. Sekarang, katakan rahasia besar apa itu!" ucap Pras.


"Pras, kamu ingat bukan? Saat malam itu kita di puncak villa? Di sana kita pertama kalinya melakukan itu," cerita Martha.


"Tentu aku ingat, Martha. Dari awal itulah kamu merenggut perjaka ku kan?? Hehehe. Dan aku pun merenggut kesucian kamu. Kamu tahu, mulai saat itu aku menjadi ketagihan dan ingin melakukan hal itu lagi. Jadi gara-gara kamu, aku menjadi pria Casanova, Martha," ucap Pras.


"Pras! setelah berhubungan badan dengan kamu itu, aku sebenarnya hamil dan mengandung anak kamu, Pras!?" ucap Martha penuh kejujuran.


"Hah? Apa?? Martha?! Apa yang kamu katakan? Lalu di mana anakku sekarang ini, Martha?" sahut Pras mulai tidak terkendali.

__ADS_1


"Pras!??? Tenangkan diri kamu, Pras! Kamu selalu saja seperti anak kecil dari dulu. Aku lanjutkan ceritanya atau kamu lanjutkan sendiri?" ucap Martha. Bisa-bisa nya Martha bisa cemberut ngambek.


"Hehe tentu kamu yang melanjutkan ceritanya dong! Ayo lanjutkan!" kata Pras. Dalam hati Pras paling dalam dia sangat bahagia ternyata bisa memiliki anak.


"Saat aku menikah dengan Waode, dan di malam pertama itu aku sudah telat lima minggu, Pras! Sebelumnya aku sudah cerita dengan Waode kalau aku sudah tidak perawan lagi dan semua karena gaya berpacaran dengan pacarku. Waode tidak mempermasalahkan hal itu," cerita Martha.


"Lalu? Apakah suami kamu tahu kalau kamu hamil saat itu?" tanya Pras.


"Tidak! Itu aku tidak menceritakan keterlambatan aku datang bulan dan ternyata memang aku sudah hamil anak kamu, Pras!?" jelas Martha. Pras melebarkan bola matanya menatap ke arah Martha.


"Lalu, di mana anakku sekarang, Martha?!" tanya Pras.


"Apakah dia masih hidup dan tumbuh besar?" tanya Pras. Martha kembali berkaca-kaca.


"Dia tumbuh sehat dan dewasa seperti kamu, Pras! Anak kita, Pras! Bahkan kenalan kamu sudah menurun pada anak kita," ujar Martha.


"Astaga, kenapa harus yang jelek-jelek yang mengikuti aku, Martha? Tidak kah dia memiliki kemampuan berbisnis yang cerdas seperti aku?" ucap Pras. Martha terkekeh-kekeh. Benar di saat bertemu dengan Pras, Martha lebih sering tertawa dengan candaannya. Itu sangat mirip dengan Gabriel, putra nya.


"Tentu dia sangat cerdas seperti kamu, Pras!" sahut Martha dengan tersenyum.


"Martha, jangan bikin aku menebak-nebak. Katakan siapa anakku dan di mana sekarang?"tanya Pras.


" Mungkin kamu sudah bertemu dengan nya, Pras? Kamu sudah mengenalnya," sahut Martha. Pras menyipitkan bola matanya.


"Gabriel?!" gumam Pras. Martha menganggukkan kepalanya pelan.


"Gabriel, putraku? Pantas saja kegilaan dan kenakalan nya sama persis dengan aku," ucap Pras. Spontan Martha mendengar itu memukul lengan Pras dengan keras. Tapi pukulan itu tidak ada tenaganya sama sekali. Pras merasakan kebahagiaan, terkejut, tidak pernah menyangka kalau Gabriel adalah darah daging nya.


"Gabriel!!" gumam Pras dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


__ADS_2