
"Natasha, tinggallah di rumah ini. Jangan kamu pergi dan meninggalkan rumah ini, Natasha! Kamulah istri mas Waode yang sebenarnya. Bukan aku! Mas Waode sangat menyayangi kamu. Dia pasti tidak ingin kamu pergi meninggalkan rumah ini," ucap Natasha saat Natasha sudah hendak pergi meninggalkan rumah itu dengan membawa koper-koper nya. Natasha memeluk nyonya Martha.
"Tidak, bunda Martha. Kehadiran ku disini hanyalah sebagai pelengkap saja. Aku datang ke rumah ini hanya untuk mas Waode. Ketika mas Waode sudah meninggal dunia. Keberadaan aku di rumah ini sudah tidak ada artinya. Dan nyonya lah ratu sebenarnya di rumah ini, bukan aku bunda Martha," sahut Natasha.
"Tidak, Natasha! Aku mohon, kamu jangan pergi! Ini rumah kamu, rumah ini untuk kamu bukan aku yang mewarisinya," kata nyonya Martha menahan tangan Natasha supaya tidak jadi pergi dari rumahnya.
Datang tiba-tiba dari pintu utama Gabriel yang datang bersama pengacara Waode. Di mana pengacara itu akan menyampaikan surat wasiat dari tuan besar Waode.
"Ada apa ini? Kamu mau kemana Natasha? Kenapa koper-koper ini ada di sini? Kamu mau pergi kemana?" tanya Gabriel.
"Gabriel! Natasha mau pergi dari rumah ini. Katanya dia sudah tidak berhak berada di rumah ini. Tolong Gabriel! Tahan Natasha supaya tidak keluar dari rumah ini. Karena Natasha berhak memiliki rumah ini, bukan mama," ucap nyonya Martha.
"Sekarang duduk lah dulu Natasha! Ini pengacara papa Waode akan menyampaikan surat wasiat dari papa. Di sana disebutkan pembagian harta waris untuk kita semua nya," jelas Gabriel.
"Benar, nyonya muda Natasha! Duduk lah dengan tenang. Saya akan menyampaikan surat wasiat dari tuan besar Waode mengenai pembagian harta warisannya untuk istri pertama, istri kedua dan juga Gabriel, selaku putra nya," ucap pengacara itu yang bernama Pak Antonius.
Nyonya Martha kini yang masih duduk di kursi roda yang ditemani suster perawat nya bisa bernafas dengan lega. Karena Natasha kini sudah duduk bersama dengan Gabriel mendengarkan surat wasiat yang dibacakan oleh pak Antonius. Nyonya Martha tersenyum lebar saat mendengar bahwa Natasha berhak mendapatkan kepemilikan rumah yang saat ini ditempati oleh nyonya Martha dan juga Natasha. Sedangkan beberapa perusahaan yang dimiliki oleh tuan besar Waode juga telah dijelaskan pemilikan nya dan pembagian nya. Masing-masing sudah dibagikan secara rata,
__ADS_1
"Sekarang sudah jelas bukan, Natasha! Rumah ini nantinya akan menjadi milik kamu. Balik nama akan segera diurus semuanya oleh pak Antonius.Dan beberapa saham pemilihan dari perusahaan itu kamu pun mendapatkan pembagian nya," jelas Gabriel.
"Tapi aku ingin kembali pulang ke rumah orang tua ku! Karena jika aku di rumah ini akan teringat selalu dengan suamiku, Waode! Aku sedih dan aku pasti akan kesepian," kata Natasha.
"Natasha, bagaimana dengan aku jika kamu pergi? Aku juga akan seorang diri di rumah ini. Walaupun banyak pelayan di rumah ini. Sedangkan Gabriel sudah memiliki rumah sendiri dan juga apartemen nya. Tolong Natasha! Anggap saja kamu menemani aku di. rumah ini sebelum aku menemui ajal ku," sahut nyonya Martha.
"Bunda Martha jangan bicara soal kematian dong, bun! Aku jadi takut!" kata Natasha.
"Mama, selalu bicara soal ajal! Bikin eneg saja!" protes Gabriel.
"Nah, Natasha! Kamu sekarang menjadi janda kaya Natasha!" sahut Gabriel. Sukses mendapatkan jewer dari nyonya Martha. Gabriel meringis saja menahan pedih.
"Ayo sekarang, bawa koper-koper kamu lagi di dalam kamar kamu!" kata Gabriel.
*****
Di dalam kamar Natasha. Natasha memandangi foto Waode saat bersama dengan dirinya. Natasha tidak pernah menyangka jika hanya beberapa tahun saja dirinya menjadi istri Waode dan mendampingi nya. Jika waktu boleh berputar kembali. Natasha tidak ingin membuat Waode marah. Natasha pernah membuat Waode marah saat Natasha terjebak dalam permainan Gabriel yang berusaha memisahkan dirinya dengan Waode. Natasha malu jika mengingat hal itu.
__ADS_1
"Mas Waode! Aku baru menyadari kalau kamu selama ini sangat menyayangi aku. Buktinya kamu memberikan rumah ini dan juga beberapa aset berharga yang kamu miliki. Dan semua itu lebih banyak dari nyonya Martha. Bersyukur nyonya Martha tidak mempermasalahkan hal itu. Nyonya Martha seperti sudah tidak memiliki semangat hidup dan kesenangan dalam harta dunia ini. Yang aku sesalkan kenapa aku tidak memiliki anak dari kamu, mas Waode! Jika dulu aku tidak keguguran, pasti kita akan memiliki anak buah hati kita, mas!" gumam Natasha seraya mengusap foto Waode yang seolah hidup menatap dirinya.
"Mas, baru satu minggu tanpa kamu di sini. Aku sudah merasakan kangen sekali. Kangen saat-saat indah itu. Apakah di alam lain kamu juga kangen aku? Apakah di sana kamu juga bertemu dengan wanita cantik dan seksi? Awas saja kalau kamu selingkuh, yah mas!" gumam Natasha.
Natasha merebahkan tubuh nya sambil memeluk foto Waode. Natasha rindu dengan aroma tubuh Waode dan kegenitannya. Sekarang Natasha benar-benar merasakan kesepian. Tidak ada lagi yang memeluk dirinya setiap malam-malam nya. Tidak ada lagi yang mengajaknya bermain odong-odong di setiap waktu.
"Mas Waode! Aku sekarang kesepian! Aku sekarang menjadi janda! Janda muda dan kaya. Semua itu karena kamu tega meninggalkan aku dengan memberikan aku banyak harta. Kamu menukar jiwa kamu di dunia ini dengan harta warisan ini. Aku hanya butuh kamu mas Waode! Kembalilah! Aku lebih memilih kamu daripada warisan yang banyak ini. Karena kamu bisa membuat aku bahagia dan nyaman. Kamu bisa mendamaikan aku dengan pelukan kamu," gumam Natasha seraya memejamkan matanya sambil memeluk foto Waode.
*****
Gabriel pelan-pelan membuka pintu kamar Natasha. Dia melihat mama tiri nya itu sembab matanya. Natasha terlihat memeluk foto papa Waode seolah merindukan pelukan nya.
"Dia sudah menjadi janda! Dia masih sangat muda tanpa suami. Kasihan dia. Papa! Kenapa kamu meninggal dunia dengan meninggalkan istri papa yang masih muda belia itu. Tidak kah papa menunda kematian itu? Sedangkan Natasha masih memerlukan papa," gumam Gabriel sambil mengambil foto Waode yang dipeluk oleh Natasha.
"Seharusnya papa tidak cepat meninggal dunia. Apakah di sana papa sudah ada wanita lain yang lebih cantik dan seksi dari istri mudanya, hah? Papa jahat sekali! Meninggal dengan tiba-tiba tanpa perencanaan," gumam Gabriel seraya meneteskan air matanya.
Bagaimana pun juga Gabriel sangat menyayangi papa nya Waode. Terlepas mereka sering adu mulut dan berantem. Namun sejatinya Gabriel lebih menyayangi papa Waode daripada ayahnya sendiri, Pras. Walaupun Pras juga memberikan banyak harta warisan kepada dirinya.
__ADS_1