DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI

DIAM-DIAM MENYUKAI IBU TIRI
BAB 46


__ADS_3

Di kediaman rumah utama Pras.


Setelah menyampaikan surat wasiat dan harta warisan di rumah mama Martha bersama dengan pengacara nya papa Waode yaitu Pak Antonius, Gabriel pulang ke rumah ayahnya, Pras. Saat masuk di pintu utama, Vero menghadangnya.


"Vero?!" gumam Gabriel. Vero tersenyum lebar menunjukkan gigi nya yang berderet dengan rapi putih bersih.


"Iya, aku Vero mama tiri kamu sekarang! Hehehe. Tumben kamu ke sini, Gabriel! Ada apa? Pasti kamu kangen aku yah?" sahut Vero. Gabriel menyipitkan bola matanya menatap Vero. Keduanya duduk di ruangan tamu.


"Di mana ayah?" tanya Gabriel.


"Kenapa mencari suamiku?" tanya Vero sewot. Namun itu berbeda dengan gayanya yang genit menggoda.


"Mas Pras lagi di luar kota. Mungkin satu minggu lagi baru pulang," terang Vero. Gabriel menyipit bola matanya.


"Lama banget! Kamu tidak kangen kalau ditinggal selama itu?" tanya Gabriel mulai iseng.


"Biasa saja tuh!" sahut Vero.


"Oke, deh! Aku balik dulu!" kata Gabriel.


"Eh, tunggu dulu! Duduklah dulu! Aku buatin kopi atau minuman segar dulu buat kamu," kata Vero sambil menahan lengan Gabriel untuk kembali duduk di ruangan tamu.


"Hah?" Gabriel terduduk kembali di kursi itu. Sedangkan Vero melenggang membuatkan minuman untuk Gabriel.


"Vero! Jangan kamu campuri minuman ku dengan obat-obatan gak jelas itu yah!" teriak Gabriel menuduh tanpa bukti. Vero membulat matanya lalu menjulurkan lidahnya ke arah Gabriel.


*****


"Ini minuman kamu!" kata Vero seraya memberikan satu gelas berisi minuman segar itu kepada Gabriel. Sedangkan satunya dia pegang dan minum sendiri.


"Terima kasih, Vero!" ucap Gabriel. Gabriel sedikit meminum minuman dengan rasa buah itu.

__ADS_1


"Bagaimana kabar istri almarhum tuan Waode?" tanya Vero mulai kepo.


"Baik dan sehat serta tidak kurang suatu apa. Ada apa? Tumben kamu bertanya tentang Natasha?" sahut Gabriel.


"Tidak, aku hanya kasihan saja. Diusianya yang masih muda sudah menjadi janda. Kamu carikan lagi dong, Natasha itu laki-laki baru atau suami baru," kata Vero. Gabriel melotot matanya dengan sempurna.


"Kenapa sih kamu sangat peduli dengan Natasha? Jangan-jangan kamu takut yah, kalau ayah Pras jadi melirik dan perhatian pada Natasha. Lalu ayah Pras kembali menikah lagi dengan Natasha. Kamu menjadi tersingkir karena ayah Pras lebih perhatian pada istri baru nya," sahut Gabriel tanpa kontrol. Vero menjulur kan lidahnya. Matanya melotot tajam ke arah Gabriel.


"Justru aku mengkhawatirkan kamu, Gabriel! Aku takut Natasha menggoda kamu. Dan kamu jadi tergoda akhirnya kalian kebablasan. Terus menikah," urai Vero. Gabriel cekikikan.


"Memangnya kenapa kalau Natasha menggoda ku? Aku ganteng dan tidak kalah dengan aktris Korea. Apa salah nya? Dia janda dan aku masih bujang. Janda dan bujang menikah kan boleh-boleh saja!" sahut Gabriel ceplas-ceplos.


"Ih pokoknya tidak boleh! Kamu tidak boleh dekat dengan Natasha. Apalagi menikah dengan janda muda itu. Natasha kan dulu mama tiri kamu. Apa kata orang dong!" kata Vero.


"Itu kan dulu! Sekarang kan lain lagi!" sahut Gabriel asal ngomong saja.


"Pokoknya itu jangan sampai terjadi! Kalau terjadi itu bisa memalukan sekali," ucap Vero.


"Pokoknya tidak boleh!" ucap Vero.


"Kasih alasan nya?!" kata Gabriel.


"Karena aku tidak rela jika itu sampai terjadi. Karena, karena aku tidak suka kalau Natasha deket-dekat dengan kamu," ucap Vero.


"Hem, iya tidak suka kenapa?" desak Gabriel.


"Aku cemburu, Gabriel!" kata Vero pelan.


"Hahaha," Gabriel tertawa terbahak-bahak mendengar nya.


*****

__ADS_1


Malam itu Gabriel menginap di rumah kediaman utama tuan Pras. Dia berada di kamar tamu yang kosong. Namun tidak bisa juga memejamkan matanya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Mungkin saja Gabriel tidak terbiasa tidur di sana. Berbeda saat dirinya pulang ke rumah kediaman papa Waode.


Tiba-tiba saja ada seseorang membuka pintu kamarnya. Gabriel pura-pura tidur dan memejamkan mata. Seseorang itu adalah Vero yang saat ini hanya mengenakan lingerie dengan warna hitam. Terlihat kini Vero mendekati Gabriel yang saat ini memejamkan matanya dan pura-pura sudah tidur. Vero kini mengusap lembut pipi Gabriel lalu mulai memainkan bibir seksi dan tebal milik Gabriel.


"Gila! Ngapain Vero mengusap bibir dan juga wajahku? Bagaimana kalau aku tergoda?" batin Gabriel.


"Gabriel, kamu tahu? Sebenarnya aku masih mencintai kamu. Sebenarnya aku menikah dengan ayah kamu, Pras hanyalah ingin hidup senang dan bergelimang harta serta kemewahan saja. Aku tidak mungkin mencintai pria yang sudah berumur. Yang mungkin usianya sama dengan papa ku. Aku ingin kembali dengan kamu, Gabriel!" gumam Vero. Tentu saja Gabriel mendengar ucapan Vero yang membuat Gabriel ingin tertawa.


"Kamu tampan sekali sih, Gabriel! Berbeda banget dengan mas Pras yang sudah keriput dan tua. Badan kamu juga bagus dan kekar. Kamu lebih hebat dari mas Pras. Bukankah dulu kita pernah melakukan itu? Tentu dibandingkan dengan mas Pras, kamu tetap lebih unggul. Apakah kamu tidak ingin melakukan itu lagi dengan aku? Apakah kamu tidak rindu saat-saat indah dulu dengan aku?" gumam Vero. Gabriel tentu mendengar dengan jelas. Rasanya dia ingin cekikikan mendengar Vero berbicara soal masa lalu.


"Aku kangen kamu, Gabriel!" ucap lirih Vero yang kini mulai berbaring di sebelah Gabriel.


"Ngapain nenek lampir ini tidur di sini sih? Jangan sampai membangunkan singa yang sedang tidur," batin Gabriel. Sampai akhirnya Gabriel tertidur pulas di atas peraduan kamar itu.


*****


Pagi tiba, Gabriel terbangun dan membuka matanya. Dia sudah tidak mendapati Vero tidur di sebelah nya dan berada di kamar itu. Gabriel meraba bagian celana nya sendiri ternyata sudah basah. Gabriel segera mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor. Memang di rumah itu sudah tersedia baju-baju dan pakaian nya yang letaknya di kamar atas. Namun karena Gabriel semalam malas naik ke atas dan tidur di kamarnya di lantai atas, maka dirinya memutuskan tidur di kamar tamu.


Saat Gabriel hendak keluar dari pintu utama, Vero meneriaki dirinya.


"Gabriel! Kamu mau kemana? Ayo kita sarapan bersama-sama dulu!" ajak Vero.


"Maaf, aku buru-buru!" sahut Gabriel yang teringat akan kejadian semalam di mana Vero masuk di dalam kamar nya. Tiba-tiba Vero mendekati telinga Gabriel dan membisikkan sesuatu.


"Kamu pasti lapar, baby! Bukankah tadi malam kamu mengalami mimpi basah?" ucap Vero. Sukses membuat Gabriel wajahnya bersemu merah.


"Aku menjadi penasaran, sebenarnya tadi malam kamu sedang bermimpi atau memang pura-pura bermimpi melakukan itu, sehingga jadi basah," bisik Vero dengan tersenyum menggoda.


"Vero!? Kamu?! Awas jika kamu menggoda aku lagi!" ancam Gabriel.


"Tapi kamu sebenarnya suka kan?" sindir Vero dengan gaya nya yang nakal.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Gabriel seraya meninggalkan rumah itu.


__ADS_2