Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 10 Perginya Andin


__ADS_3

Malam itu, malam dimana semuanya hancur dan berbekas. Dimana Candra melihat kekecewaan itu dengan jelas, kekecewaan Andin dan kedua orangtua nya yang sangat ia sayangi.


Hingga pada malam itu, Candra memilih untuk tidur sendiri tanpa adanya Marisa. Sontak saja hal itu membuat Marisa marah dan kesal, namun ia juga hanya bisa pasrah dan membiarkan Candra termenung.


Saat ini, Candra berdiam diri di kamar utama yang dulu dia tempati dengan Andin, berbagai kenangan pernah ia lewati dengan suka cita dan canda bahagia.


Bahkan, saat pertama kali Andin menginjakan kaki di rumah ini saja Candra mengingatnya, bagaimana ekspresi bahagia, haru dan penuh kebahagian tergambar jelas disana.


Namun, semuanya sudah pupus dan hilang dengan ke egoisan yang sudah Candra lakukan saat ini, dia bahkan tak bisa berkutik apapun saat melihat orangtua nya pergi.


Huh.


Candra menatap sekeliling kamar itu dengan helaan nafas lemah, ia merebahkan tubuh nya di atas ranjang.


"Kenapa kamu bebal sekali sih, Andin. Padahal aku melakukan ini demi masa depan kamu dan Khansa, apa susah nya berbagi suami dengan wanita lain"


Ck,


Berdecak kesal dengan wajah yang sudah menahan kekesalan mendalam, dia kira Andin akan tetap bertahan agar kehidupan nya mewah dan terjamin.


...****************...


Pagi menyapa, kicauan burung begitu indah di pendengaran semua orang yang akan melakukan aktivitas di pagi yang sangat cerah ini.


Namun, beda hal nya dengan Candra yang sejak bangun sudah memanggil dan mencari Andin yang memang akan selalu menyiapkan semua keperluan milik nya.


"Berisik sekali kamu, Mas. Mbak Andin itu sudah pergi dan entah kemana"


Seakan tersadar dari semuanya, Candra pun menghela nafas kasar dan berlalu kembali ke kamar.


Sedangkan Marisa sendiri sudah menyiapkan sarapan untuk sang Suami dan juga dirinya.


Hingga keduanya pun sarapan dengan tenang dan damai, bahkan Candra pun seolah lupa bahwa Andin dan Khansa sudah tak lagi bersama dirinya.


🐰


Candra melangkahkan kaki nya dengan tegap dan penuh wibawa, dia terus saja melenggang dengan asistennya yang memang sudah di sediakan pihak perusahaan untuk nya.


"Pak, ada rapat bersama kepala divisi"


"Atur saja semuanya"


Candra masuk ke dalam ruangannya dengan senyum tersungging kecil, dia duduk dengan pongah nya dan meraba meja kerja yang begitu indah di depan mata.

__ADS_1


Kau sangat bodoh karena sudah memilih pergi dari sampingku, Andin. Padahal aku akan membuatmu termanjakan oleh uang dan kedudukan.


Ya, Candra masih saja merutuki tingkah Andin yang memilih pergi dari dirinya di bandingkan bertahan.


Namun, Candra tidak tau saja bahwa semua kebahagian tidak harus dengan uang dan jabatan, apalagi harus membagi suami dengan wanita lain.


Satu persatu pekerjaan pun Candra kerjakan, dia begitu serius dan juga sangat teliti akan segala hal sesuatu yang menyangkut perusahaan dan keungan.


Hingga pekerjaannya terhenti kala pintu terbuka dan masuklah sang sahabat, Leo.


Alis Candra menukik kala melihat Leo berjalan perlahan ke arsh nya.


"Ck, bapak direktur sombong sekali"


Leo terkekeh dengan duduk di kursi di hadapan Candra, dia menatap Candra yang sedang sibuk dengan berbgai pekerjaan.


"Bini lo tau gak kalau lo udah naik jabatan, soalnya kemarin aja dia gak tau kalau lo udah naik jabatan beberapa bulan yang lalu"


Heh.


Candra terkekeh dan menyimpan pensil yang sedang dia gunakan, ia lalu menatap Leo dengan tajam.


"Pergilah bekerja dan jangan ganggu aku lagi"


Leo tertawa kecil dan ia bangkit dari duduk nya, Leo menatap Candra dengan pandangan yang sangat sulit di artikan.


"Jangan terlalu sombong dan arogant, karena dunia ini berputar"


Setelah mengucapkan hal itu Leo langsung pergi dari ruangan Candra, ia sungguh kecewa karena sahabatnya begitu arogant dan berubah.


🐸


Sedangkan di sudut Kota yang lainnya seorang wanita baru saja tiba disana bersama Putri cantik nya.


Dia akan menetap disana tanpa ada yang tau seorang pun, bahkan kedua mertua dan sahabat nya pun tak ia beritahu.


Pandangan mata tajam itu menatap sekitaran halaman belakang, tak ada bising kendaraan dan juga tak terlalu banyak folusi udara. Di sana sangatlah sejuk dan juga begitu asri dengan ke indahan yang sangat alami.


Helaan nafas terdengar begitu berat, dia bahkan beberapa kali terdengar membuang nafas kasar untuk meredakan sesak di dadanya.


Lihat saja Mas, aku akan berdiri dan bangkit di atas kaki ku sendiri.


Aku akan buktikan padamu bahwa aku akan lebih dari apa yang kamu bayangkan, kebahagianku hanya sederhana dan tak seribet pikiran mu yang tentang harta saja.

__ADS_1


Andin Prasetya, wanita sebatang kara dan sekarang hanya berdua dengan Putri nya yang begitu sangat ia cintai.


Ia pernah berjanji akan setia bersama dengan sang Suami hingga maut memisahkan, bahkan ia juga memberikan suport dan segala macam dukungan agar sang Suami lebih giat dan sampai pada akhir nya mereka menikmati hasil jerih payah nya.


Namun siapa sangka, semuanya tergelimcir dan tak berbekas dengan obsesi serta godaan yang datang pada hiruk biduk rumah tangga nya.


Andin kalah, ya dia kalah dengan orang baru dan dia juga memilih untuk mundur karena tak ingin terus menerus di sakiti.


Pergi.


Itulah pilihan Andin saat ini, dia pergi sejauh mungkin dari kehidupan Suami dan madu nya.


Tak ada yang tau bahwa dia pergi kemana dan apakah akan bertahan karena selama ini Andin sendiri hanya mengandalkan Candra, sang Suami.


"Di kota ini aku akan memulai semuanya, memulai membangun kebahagian kembali dan semuanya dengan hanya berdua bersama dengan Khansa"


"Aku akan lebih bahagia tanpa kamu, Mas. Lihatlah nanti aku akan bangkit dan lebih dari apa yang kamu bayangkan"


Andin melangkah ke arah ranjang, dia merebahkan tubuh nya di samping Khansa dan memeluknya dengan sayang.


Cup.


kamu adalah penguat dan pelipur lara Bunda, Nak.


Tubuh yang lelah tidak juga membuat mata indah Andin terpejam, bahkan ia bangun kembali dan memilih membereskan Rumah yang minimalis itu.


Ck, untung aku gak bodoh-bodoh amat dalam mengatur uang, gumam Andin dengan terkekeh kecil.


Ya, Andin memang pergi dengan membawa tabungan dan uang hasil kerja kerasnya selama ini. Bahkan Candra saja tidak tau bahwa Andin bekerja dari Rumah dan sudah menghasilkan uang banyak.


Semuanya Andin lakukan demi membantu ekonomi keluarganya yang kadang tak tertutup dari uang bulanan sang Suami, dia memutar otak agar semuanya cukup dan tidak sampai meminjam pada yang lain.


*


Hampir beberapa saat Andin menyelesaikan pekerjaannya, ia istirahat sebentar untuk meregangkan otot nya yang pegal dan sedikit kaku.


"Besok aku akan memulai usaha kecil-kecilan dulu dan akan mencari seseorang untuk menjaga Khansa"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2