
Setelah mendengar kabar bahagia itu, Andin dan Revan berencana melakukan pemeriksaan ke Rumah sakit yang berada di bawah naungan perusahaan Revan.
Keduanya berangkat pagi, sedangkan Khansa akan di antarkan oleh sang Nenek bahkan akan di tunggu oleh Nenek nya sendiri.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Revan melajukan mobil nya sendiri tanpa ada sang Asisten yang memang di tugaskan menghandle dulu di perusahaan.
Lambat laun kendaraan roda empat itu pun sampai juga di pekarangan Rumah sakit, keduanya keluar dan langsung menuju ke ruangan obgyn.
Di sana Dokter sudah menunggu nya, karena memang Revan sudah membaut janji terlebih dulu sebelum datang.
"Mari Nona muda, Tuan muda"
Keduanya masuk ke dalam ruangan, dan Andin langsung saja berbincang dengan Dokter. Sedangkan Revan, ia hanya diam dengan menyimak semua percakapan kedua nya saja.
"Silahkan Nona berbaring terlebih dahulu, kita akan melakukan USG"
Andin dengan patuh mengikuti langkah suster, begitupun dengan Revan yang sangat antusias.
"Semoga saja twins ya, sayang"
Eh.
Andin kaget saat mendengar penuturan Revan, namun ia juga menganggukan kepala nya dengan senyuman indah di wajah nya.
Kemudian Dokter melakukan Usg, ia dengan penuh sabar dan ketelitian menjelaskan apa saja pada pasangan di hadapannya.
Dan, saat Dokter menyebutkan ada kemungkinan bayi yang di kandung Andin adalah kembar maka saat itu juga Revan terlonjat bahagia.
Setelah selesai, mereka tak langsung ke perusahaan karena Andin menginginkan makan bubur ayam di pinggir jalan bersama dengan Revan.
Drrtt.
__ADS_1
"Ya halo"
"......."
"Nanti siang atur saja, saat ini saya sedang sibuk"
Tut.
Revan menatap kesal ke arah ponsel nya, sang Asisten mengabarkan bahwa ada salah satu klien yang ingin bertemu khusus dengannya saat ini.
*
Bubur yang di hadapan Andin sangat menggugah selera, meskipun di pinggir jalan namun kebersihan dan rasanya yang lezat bisa menambahkan poin plus bagi pedagang nya.
"Hemm enak, berarti benar kata orang-orang ya Mas"
Andin terpekik senang saat sesuap demi sesuap bubur masuk ke dalam mulut nya. Bukan hanya nikmat, namun rasanya sangat pas di lidah.
Andin diam dengan kekenyangan dan juga sedikit lelah karena ia ingin jalan-jalan di taman sebelum pulang.
Dan saat sampai di perusahaan Revan, keduanya di buat terkejut karena disana ada Marisa dan Candra yang sedang membuat keributan dengan karyawan Revan.
"Ada apa ini"
Suara bariton yang baru saja tiba itu menghentikan cekcok antara Candra dan beberapa security serta resepsionis disana.
Para karyawan Revan mengangguk sopan saat sang Tuan nya sudah tiba, mereka bernafas lega karena Revan datang tepat waktu.
Andin memeluk lengan Revan manja, ia bahkan tak bereaksi apapun saat melihat Candra yang berbinar bahagia mengetahui ada dirinya disana.
"Andin, kamu disini sayang? Kenapa kamu melarang aku bertemu dengan Khansa. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku akan membuat kamu dan khansa kembali lagi"
__ADS_1
"Massss"
Marisa berteriak tak terima, bagaimana bisa Candra memanggil Andin sayang di hadapannya.
Apalagi ini, Candra begitu semangat saat menyebutkan akan merebut Andin kembali.
"Dengarkan ini Tuan Candra, jika memang kamu ingin bertemu Putri mu silahkan dengan cara baik-baik dan jangan membuatnya takut"
"Dan apa kau bilang, kau akan membuat aku kembali lagi padamu? Jangan harap, karena aku tidak akan pernah kembali padamu sampai kapanpun.
Aku dan Khansa sudah bahagia bersama dengan Mas Revan, dan kamu tak perlu lagi berobsesi merebutku"
Revan tersenyum tipis, dia merangkul manja pinggang Andin dan membawa nya masuk ke dalam perusahaan.
"Satu lagi, aku tidak akan kembali lagi padamu karena Mas Revan sudah jauh lebih segalanya dari kamu, Mas"
Cup.
Andin dengan sengaja mengecup bibir Revan tipis, dan hal itu sontak membuat Candra semakin emosi karena terbakar cemburu.
Sedangkan karyawan lainnya hanya menahan nafas dan berlalu dari sana, mereka tak akan kuat mendapatkan live dari sang Nona muda.
.
.
.
.
.
__ADS_1