Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 25 Pertemuan Kembali.


__ADS_3

Andin menghabiskan beberapa saat di dalam supermarket, hingga Revan merasa sangat pegal dan tentu saja tanpa protes apapun pada sang Istri.


Dan, pada troli yang entah ke tiga atau keberapa belanjaan Andin sudah selesai semua tanpa ada yang terlewatkan sama sekali.


Revan hanya membayar nya dan anak buah dia yang akan membawa nya ke Rumah. Sedangkan Andin dan Revan memilih menjemput Khansa yang sebentar lagi akan segera pulang.


"Mas, bagaimana kalau makan siang nya di luar saja?"


Usulan Andin tentu saja akan diterima Revan dengan senang hati, dan ia akan membawa ke sebuah Restoran sederhana yang mana menjadi favorit nya karena masakannya sangat enak.


"Tapi tak apa kalau makan siang nya di Restoran sederhana? Namun enak kok masakannya"


"Aku tidak apa Mas, mau makan pinggir jalan pun tidak apa. Benar kan Khansa?"


"Huumm"


Khansa menganggukan kepala nya, ia memang tidak mempermasalahkan apapun itu. Karena dari dulu Khansa di didik sederhana oleh Andin.


Sehingga tak perlu waktu lama mereka sampai juga di Restoran yang Revan ceritakan tadi.


Ketiganya masuk dan duduk dengan lesehan, mereka memesan banyak makanan karena memang sangat menggugah selera mereka semua.


"Ya ampun Ayah, ini makanan kesukaan Kakak dan Bunda loh"


Dengan berdecak dan antusias Khansa mengutarakannya pada Revan, ia bahkan terlihat sangat berbinar dan juga enggan mengalihkan hidangan yang sudah di siapkan oleh pelayan.


Perlahan namun pasti, Khansa mengambil beberapa lauk dan juga nasi yang tak pernah di lupakannya. Ia sangat menikmati moment makan siang ini, sudah sangat lama sekali ia ingin menikmati hal begini dengan Ayah dan Bunda nya.

__ADS_1


🐰


Setelah selesai dengan makan siang, Khansa menginginkan main lebih dulu ke Mall yang memang tak jauh dari Restoran itu.


Dan dengan senang hati di setujui oleh Revan, bahkan dia langsung membawa nya ke lantai khusus permainan anak-anak.


"Bunda duduk saja disini, biar aku di temani oleh Ayah saja ya"


Ehh.


Andin mengerutkan kening nya, dia cukup heran dengan ucapan ambigu dari Putri nya.


"Kenapa begitu, Nak?"


Khansa tersenyum, dia lalu duduk di samping Andin dengan berucap yang membuat Andin serta Revan terkekeh kecil.


"Kata Nenek, kalau aku mau adik aku jangan membuat Bunda lelah kerepotan dan aku harus di panggil Kakak mulai sekarang"


Andin sendiri hanya menggelengkan kepala saja, ia bahagia karena Revan mampu membuat Khansa merasakan bagaimana kasih sayang dari Ayah nya.


*


Mereka bermain tak terlalu lama karena Andin takut Khansa kelelahan, hingga mereka memutuskan pulang saja dan di saat akan keluar dari Mall mereka bertemu dengan Marisa dan juga Candra.


"Ehh Mbak Andin, kenapa sudah disini saja? Apa mau menggoda Mas Candra kembali ya?"


Deg.

__ADS_1


Dengan tak tau malu nya Marisa berucap demekian, Candra sendiri hanya diam dan menatap Andin penuh minat.


"Buat apa aku memungut apa yang sudah aku buang"


Ehh.


"Sombong sekali kamu Mbak, apa ini memang trik kamu mendapatkan lelaki kaya dan mapan?"


"Murahan sekali"


Haha.


Andin tertawa geli, dia lalu menatap Marisa dari atas sampai bawah.


"Ck, itu sebutan yang pantas untukmu Marisa. Ah atau lebih jelas nya kau kan pelakor"


"Upss"


Tangan Marisa sudah melayang, namun terhenti kala sebuah tangan yang kekar memegang nya dengan kencang.


"Jangan pernah kau menyakiti Istri ku seujung kuku saja"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2