Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 16 Saling Menyalahkan.


__ADS_3

Perjalanan yang mereka tempuh tinggal sebentar lagi sampai ke Rumah milik Candra yang baru, namun semuanya harus berbelok ke Rumah sakit karena Marisa mengaduh sakit perut dan di perkirakan akan melahirkan saat itu juga.


"Ck, kau tak pernah menurut padaku sih jadi gini nih, merepotkan" decak Candra kesal.


Sedangkan Marisa hanya diam dengan meringis sakit, dia mencoba tenang sesuai arahan Ibu mertuanya yang sedang mencoba mengusap pinggang serta perut nya yang selalu melonjat sakit.


"Tarik nafas perlahan lalu buang, coba begitu agar kontraksi nya tak terlalu terasa"


Marisa mencoba nya dan lumayan membuatnya lega, ia kemudian mengulangi nya lagi dan lagi agar tidak terlalu sakit.


Hingga pada akhirnya mobil yang membawa mereka pun sudah tiba di halaman Rumah sakit.


Marisa langsung saja di bawa ke ruangan bersalin bersama dengan Candra, karena Marisa sangat ingin di temani oleh sang Suami.


Sedangkan di luar, Ayah, Bunda dan Anton menunggu dengan harap cemas.


Mereka hanya bisa berdoa dan berdiam diri menunggu kabar bahagia dari dalam.


🐰


Setelah perjuangan yang cukup memakan waktu, akhirnya Marisa melahirkan dengan selamat, namun ada sesuatu hal yang terjadi pada sang bayi.


Candra merasa dunia nya runtuh, ia berjalan mundur dengan tatapan kosong dan gelengan kepala yang begitu kuat.


Tidak mungkin, ini pasti hanya mimpi, Candra terus saja bergumam dengan terus menggelengkan kepala nya kuat.


Ceklek.


"Nak, ada apa?"


Grep.


Hiks.


"Bun, kenapa ini terjadi padaku"

__ADS_1


Bunda yang mendapatkan pelukan dari sang Putra langsung kaget, pasalnya ia memeluk sang Bunda dengan begitu erat dan menangis di pelukan itu.


Hingga pada akhirnya mereka hanya bisa diam, mereka akan menunggu hingga Candra sendiri yang akan bercerita pada mereka.


Namun, mereka semua di kejutkan dengan pertanyaan suster yang baru keluar dari ruangan bersalin itu.


"Pak, Putra anda sudah saya bersihkan dan akan di makamkan dimana?"


Deg.


Jantung Bunda dan Ayah Candra berdetak kencang, keduanya saling berhadapan dengan tatapan bingung.


Suster yang melihat hal itupun langsung saja menceritakan semua nya dengan jelas, bahwa Putra Marisa dan Candra tidak tertolong karena sudah terkena racun dan benturan cukup kencang saat terjatuh. Dan, hal semacam itu tak pernah Marisa beritahu pada Candra sama sekali hingga akhirnya fatal.


"Bagaimana bisa Marisa begitu ceroboh dan tak bicara padaku Bun, dia begitu egois dan ke egoisannya kini membuat Putraku meninggal"


Dengan begitu terpukul dan juga menahan amarah Candra serta sang Ayah mengurus pemakaman Putra Candra. Sedangkan Anton dan Bunda menjaga Marisa yang masih belum sadarkan diri.


Ruangan Marisa di tempatkan di VIP, Candra sengaja menempatkannya disana agar ia leluasa dan tempatnya juga begitu luas.


Hampir 1 jam menunggu akhirnya Marisa sadar juga, ia membuka mata dan menatap kesekeliling nya dengan jantung yang cukup berdebar.


Tatapan mata tajam dari Candra begitu membuat Marisa takut, ia sadar apa dengan kesalahannya karena sebelum melahirkan tadi mendapatkan teguran dari Dokter dan diam nya Candra.


"Ada yang akan kamu bicarakan?"


Mulut Marisa serasa kelu, ia hanya memalingkan wajah dan membuang nafas kasar saat mendengar nada bicara dari Suami nya.


"Kenapa kamu sangat ceroboh, Marisa? Apa kamu sengaja diam dan menyebabkan anak kita meninggal? Se egois itukah kamu sebagai Ibu?"


"Aku tak percaya kau akan egois dan hanya mementingkan diri sendiri saja, kamu bahkan tak pernah meminum susu hamil dan vitamin yang sudah aku berikan padamu?"


Deg.


Marisa meremas selimut yang ada di tubuh nya, ia memejamkan mata sejenak dan membuka kembali dengan menatap Suami nya tajam.

__ADS_1


"Kenapa hanya aku yang salah, kau juga salah dan egois Mas. Kau tak pernah perhatian padaku dan bayi kita, aku pusing dan saat aku terjatuh aku tidak merasakan apapun selain hanya sakit pinggang"


"Diam" bentakan Candra yang sangat menggelegar itu membuat Marisa begitu kaget.


"Apa kamu tau Marisa? Aku tidak perhatian karena aku sibuk dengan perusahaan. Dan aku tidak percaya kau sempat menegak alkohol yang sama sekali aku tidak pernah percaya akan semua itu, namun aku melihat nya dan semakin membuatku marah adalah kau sengaja menegaknya, Marisa"


"Kau wanita yang gagal dengan membunuh seorang bayi tak berdosa"


Kepalan tangan terlihat jelas, disana mereka hanya di biarkan berdua oleh kedua orangtua Candra. Karena itu adalah masalah rumah tangga keduanya dan mereka tak perlu ikut campur lagi, Ayah Candra meninggalkan mereka tepat setelah Marisa sadar.


"Kau juga Ayah yang tak becus, hanya fokus pada perusahaan saja"


Marisa tak tinggal diam, dia membalas ucapan sang Suami dengan teriakan dan amarah yang cukup memuncak.


Heh.


Kekehan Candra membuat Marisa sangat merinding, dia memalingkan wajah dan tak berani menatap Candra.


"Kalau aku tak fokus pada perusahaan maka saat itu juga aku akan memberikan kamu uang 10 ribu untuk membeli sayuran saja. Jangan munafik jadi wanita, kau sangat munafik dan hanya mementingkan diri sendiri saja"


"Apa kau pernah membelikan calon bayi kita pakaian ataupun perlengkapan? Tidak bukan! Dan semua itu aku yang membeli nya Marisa"


Deg.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2