Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 9 Kemarahan Orangtua Candra.


__ADS_3

Ketiga orang yang sedang bersitegang pun langsung berubah kaku saat ada orang yang masuk ke dalam Rumah dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Siapa wanita ini? Kenapa ada disini malam-malam?"


Pertanyaan itu begitu penuh selidik, apalagi saat tau tangan Marisa yang memeluk manja lengan Candra.


"Dia istri baru Mas Candra"


Deg.


"A apa, istri?".


Kedua orangtua Candra langsung tercengang, bahkan sang Bunda langsung terduduk lesu di sofa yang ada di samping Andin.


Sedangkan sang Ayah, dia sudah menahan amarah nya mengepalkan tangan dengan sangat kuat.


"Iya, sudah hampir 3 hari mereka menikah dan saat ini Marisa tengah hamil anak Mas Candra. Dan, hubungan keduanya sudah entah berapa lama di belakangku"


Memejamkan mata sejenak, menghela nafas perlahan dengan sesak yang begitu mendera dada nya.


Dengan menjeda beberapa kali, dan isak tangis yang menyertai cerita dari Andin pada kedua mertua nya.


Tak ada yang di sembunyikan ataupun di lebihkan, semua nya mengalir dengan apa adanya.


Bunda memeluk tubuh Andin yang sedang bergetar menahan tangis, dia bahkan tak sanggup menatap menantu yang selama ini menjadi kebanggaanya itu.


Hiks.


Hiks.


Andin meluruhkan semuanya di pelukan sang mertua, ia menangis mengeluarkan semua rasa sakit dan juga pertahanan yang selama ini ia tahan agar tetap kuat di hadapan madu dan suami nya.


Plak.


"Apa kau sudah melupakan jati dirimu selama ini, Candra? Kalau bukan karena kesabaran Andin kau tak akan mendapatkan semua ini, bahkan dia juga merelakan impiannya selama ini demi mendukung dan menemani mu yang sedang berjuang.


Kau melupakan semua itu demi obsesi mu ini? Buat apa Candra, buat apa kau berkedudukan tinggi tapi melukai hati seorang perempuan yang sangat bela-belain kamu selama ini hah"


Candra hanya mampu menundukan kepala nya, ia tak menyangka bahwa kedua orangtua nya akan tau secepat ini. Bukan ini rencananya, Candra merencanakan menjual nama Andin agar ia tak mendapatkan murkaan sang Ayah dan Bundanya.


"Dengarkan aku Candra, sekarang juga kau tentukan pilihan mu. Kau pilih dia atau kami? Jawab dengan tegas"


Deg.


Candra menatap Bunda nya dengan gelengan kepala, memilih? Itu tidak akan mungkin Candra lakukan, karena tak ingin ada yang ia pilih.


"Mas, kalau kamu memilih mereka maka kamu harus siap-siap keluar dari perusahaan dan mendapatkan amukan dari Daddy ku"


Arrghh, bagaimana ini? Aku tak ingin kehilangan semuanya!, jeritan Candra tertahan hanya di dalam hatinya saja.

__ADS_1


Bahkan Candra tak mampu menjawab, dia seakan kelu dan tak ingin menjawab.


Heh.


"Sudahlah Ayah, ku tau akan jawaban yang di berikan oleh Mas Candra. Dia bahkan merelakan hubungan ini demi jabatan itu, jadi gak akan mungkin dia meninggalkan wanita itu"


Deg.


"Aku tak akan memilih, karena kalian sama pentingnya Andin"


Candra dengan segera menimpali dan menggelengkan kepala nya, namun tak membuat Andin luluh dan tetap pada pendiriannya.


Dengan langkah lebar Andin masuk ke dalam kamar nya, dia akan keluar dari Rumah itu malam ini juga bersama dengan Khansa.


Hanya beberapa pakaian dan berkas penting milik dia dan Khansa yang di bawa Andin. Tak lupa juga dia membawa surat nikah dan yang lainnya untuk gugatan nanti.


"Mas, Bunda, Ayah, maafkan Andin. Andin akan pergi bersama dengan Khansa, maaf Andin tak kuat dengan semua ini dan juga tak akan ada wanita yang sanggup di madu, jadi Andin yang akan mundur"


Huh.


"Maaf jika selama ini Andin merepotkan ataupun membuat kalian kesal, marah dan juga malu. Andin pamit, semoga kamu bahagia Mas"


Andin membawa Khansa yang terlelap di sofa, dia menggeret koper nya dan keluar dari Rumah itu.


Sedangkan Bunda dan Ayah begitu terpukul, tapi mereka juga menyetujui keinginan Andin untuk berpisah dari Candra, Putra mereka.


"Andin, Khansa"


Langkah kaki Candra terhenti karena Marisa terus saja menahan dan bahkan dia beberapa kali mengancam dengan menggunakan nama sang Daddy nya.


'Arreggghhhhhh'


Candra berteriak karena kesal, marah dan tak bisa berkutik sama sekali.


Bugh.


Bugh.


Pukulan telak Ayah berikan pada Candra, dia menatap Putra nya dengan tatapan tajam dan menghunus.


"Kau sangat menjijikan Candra, dan Ayah menyetujui keingan Andin pisah dari kamu. Kamu adalah pria paling egois dan Ayab sangat malu mengakui mu anak Ayah, dan sekarang nikmati semuanya jangan pernah mencari kami"


Bunda mendekati Candra yang terduduk lemas di atas lantai, tak ada tatapan sendu ataupun iba untuk sang Putra dan hanya tatapan kecewa saja yang terlihat di sorot mata Bunda, itulah yang Candra lihat.


"Kenapa kamu tega menyakiti Andin, dia bahkan sudah menjadi istri penurut dan juga sangat baik, Nak. Apa kamu lupa bahwa kamu juga labir dari seorang wanita, apa kamu lupa bahwa Ibu dan Putrimu juga perempuan? Bagaimana jika semua ini menimpa Bunda dan Khansa?"


Candra menggeleng dengan sangat kuat.


"Maka dengan itu, pikirkan semua lebih dulu sebelum bertindak. Bunda sangat kecewa padamu, Candra"

__ADS_1


Heh.


Marisa cuek dan membuang wajah saat sang mertua menatap nya dengan lekat.


"Kau wanita cantik, pintar dan juga kaya. Namun sayang, semua igu percuma karena kamu dengan tega nya merebut dan menghancurkan kebahagian wanita lain demi kebahagian mu sendiri"


"Semoga saja Allah tidak memberikan karma buruk pada kalian suatu saat nanti"


Setelah mengeluarkan kekecewaannya, Bunda dan Ayah melenggang pergi dengan sejuta amarah dan kekecewaan pada Putra semata wayangnya itu.


Langkah keduanya tetap lurus pada jalanan yang sudah ada taxi online yang sedang menunggu keduanya.


Ya, mereka meninggalkan mobil pemberian Candra disana dan memilih pulang dengan menggunakan taxi.


Aku gagal mendidik Putra ku ini, bagaimana bisa dia begitu gila jabatan dan harta hingga menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya.


Bahkan, dengan sangat tega nya Candra menyakiti hati perempuan yang sangat baik, Andin.


Selama perjalanan itu, baik Ayah maupun Bunda hanya diam dengan pikiran dan kekecawaan masing-masing.


Bahkan Ayah baru mengingat bahwa Andin pergi dan entah akan kemana.


Hingga.


Ting.


-*Anakku, Andin.


Ayah, maafkan Andin tak pamit dengan benar pada kalian. Andin dan Khansa akan pergi, entah kemanapun itu dan Andin mohon doakan kami dimana pun kami berada.


Jaga diri Ayah dan Bunda baik-baik, suatu saat aku akan pulang dan menemui kalian. Jadi, Andin mohon baik-baik lah kalian agar nanti Andin bertemu kembali dengan kalian.


Andin sayang kalian, maafkan Andin*.


Ayah dan Bunda hanya mampu menghela nafas kasar, mau melarang tetapi mereka tak akan mampu.


Andin memutuskan hal itu pasti sudah dengan pemikiran yang sangat matang.


Mereka hanya akan mendukung, karena dengan begitu Andin serta Khansa akan baik-baik saja dan mungkin akan lebih bahagia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2