Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 42 Teror


__ADS_3

Pagi datang dengan beberapa tetes air hujan yang sudah banyak membawa teman nya.


Hujan cukup deras menyambut pagi yang mengundang hawa malas para kaum manusia, seperti di Rumah yang megah nan mewah ini hampir para Tuan dan Nyonya nya masih mengurung diri di dalam kamar.


Begitupun dengan Andin, dia masih bergulung dengan selimut dan memeluk Revan cukup erat.


Sedangkan Revan sudah sejak tadi bangun namun enggan beranjak dari hangat nya pelukan sang Istri, dia bahkan sangat menikmati nya dengan menatap wajah lelap sang Istri.


"Ck, kau menggemaskan sekali sih sayang. Pasti susah ya mau meluk lebih erat lagi karena terhalang dengan perut buncit ini"


"Bagaimana bisa dulu Candra mengkhianati kamu sayang, meskipun awal nya dia ingin kamu dan Khansa hidup layak namun langkah yang dia ambil sangat salah"


Revan terus saja bergumam sambil menikmati wajah sang Istri yang ada di hadapannya.


Dia mengusap lembut pipi cuby sang Istri dan sesekali mengecup hidung nya dengan gemas.


'Eummmmm'


Lenguh Andin dengan menggeliatkan tubuh nya, lalu perlahan kelopak mata nya terbuka dan menatap sang Suami yang masih menatap nya dengan senyuman di wajah nya.


"Selamat pagi sayang-sayangku" sapa Revan dengan tersenyum.


Cup.


Dan, tak lupa juga ia mencium kening serta perut Andin dengan bergantian. Hal tersebut selalu saja membuat Andin tersipu dan bahagia, bahkan ia selalu menantikannya setiap pagi hari.


Tok.


Tok.


"Ayah, Bunda, bangun! Ayo kita bakar ikan dan ayam untuk sarapan pagi ini" teriakan dari Khansa membuat keduanya kaget dan langsung terkekeh geli.


"Ya sayang, tunggu sebentar lagi" balas Revan dengan berteriak pula.


Tok.

__ADS_1


Tok.


"Ayahhhh"


Andin sontak saja tertawa saat Revan langsung bangun dan berlari ke arah pintu, bagaimana bisa ia melupakan bahwa kamar mereka kedap suara dan pasti saja Khansa tidak akan mendengar teriakan sang Ayah.


Ceklek.


"Iya Kakak sebentar lagi Ayah dan Bunda ke halaman belakang" ucap Revan lembut seraya mengecup kening Khansa.


Ok!


Hanya itu yang Khansa keluarkan dari mulut mungil nya dan sontak saja membuat Revan menggelengkan kepala nya.


Dia lalu memilih untuk mengajak Andin mandi dan tentu saja dengan modus halus nya.


*


Dan disinilah keluarga Revan berada, di halaman belakang dengan nuansa yang sejuk apalagi di temani dengan hujan yang masih turun.


"Tara ini ayam dan ikan pesanan Ibunda ratu serta Tuan putri" ucap Revan membawa hasil panggangannya di hadapan ketiga wanita yang sangat dia cintai.


"Terimakasih Ayah"


"Makasih sayang"


"Makasih Nak"


Jawab mereka bertiga dengan kompak, dan mereka langsung saja melahap nya dengan tenang dan damai.


Sarapan kali ini di selingi dengan berbagai tawa dan canda dari Khansa serta sang Ayah.


Setelah selesai sarapan, mereka tetap bersantai disana dengan nyaman.


Bahkan beberapa pelayan dan penjaga bergantian melakukan sarapan dengan menu yang mereka buat sendiri, entah itu ayam bakar ataupun ikan bakar.

__ADS_1


Ting.


Ponsel Andin berdenting, namun di acuhkan oleh sang empu karena merasa gak penting.


Ting.


Ting.


"Siapa sih sayang, coba buka dulu siapa tau aja penting" ucap Revan yang merasa heran.


Dengan patuh Andin pun mengambil ponsel nya dan membuka pesan chat tersebut.


Deg.


Pyar.


"Sayang, ada apa?" tanya Revan saat gelas yang di pegang Andin pecah dan bahkan ponsel nya pun jatuh ke atas paha dirinya.


Tubuh Andin bergetar hebat dan hal itu membuat Ibu panik, dia memeluk nya dan membawa duduk agar tenang.


Sedangkan Revan, ia mengambil ponsel Andin dan melihat apa yang terjadi.


-*Halo sayang, aku datang dan kembali lagi. Tunggu aku yang akan merebut kalian lagi.


-Kau semakin cantik dengan perut besarmu sayang, tunggu aku untuk merebutmu dari pria itu.


-Andin sayang, kau tidak akan bisa lolos dan aku pastikan kau akan ikut bersamaku*.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2