
Marisa menunggu Candra pulang sampai larut malam, namun yang di tunggu tak kunjung datang dan bahkan batang hidungnya pun tak terlihat.
Hingga kemudian Marisa memutuskan untuk tidur saja dan esok hari ia akan memarahi Cabdra karena telah meninggalkannya di Rumah sendirian begini.
*
Tepat jam 1 dini hari Candra pulang dengan mengendap-endap, ia masuk lewat garasi yang memang jarang sekali di kunci oleh Marisa.
"Huh aman, aku akan tidur di kamar tamu dulu"
Langkah nya langsung ngacrit dan masuk ke dalam kamar tamu, dia sudah ingin merebahkan tubuh nya yang cukup kekenyangan selepas makan enak.
...****************...
Pagi ini adalah weekend, dengan sengaja Candra malas-malasan dan telat bangun pagi.
Bahkan Candra juga melupakan janji nya pada sang Istri yang akan membawa nya jalan-jalan atau shoping ke Mall.
Hampir jam 10 pagi Candra baru membuka mata nya, ia meregangkan otot nya dan berlalu ke kamar mandi setelah nya.
Setelah selesai semuanya, Candra keluar dari kamar yang sengaja ia kunci rapat dari dalam.
"Bagus, kau pulang malam dan membiarkan aku disini kelaparan dan pulang-pulang malah tidur di kamar tamu"
Huh.
Candra membuang nafas kasar, dia menatap malas pada sang istri yang sudah bermuka masam tersebut.
"Marisa, bisa tidak kau diam dan siapkan saja kebutuhanku? Aku lelah seharian bekerja di perusahaan dan saat pulang ke rumah bukannya mendapatkan ketenangan malah di ajak ribut'
" Kau sangat jauh berbeda sekali dengan Andin, dia akan menyambutku dengan senyuman dan ketenangan yang sangat meneduhkan ak-
Brak.
"Diam, Andin Andin dan Andin saja. Aku ini Marisa dan aku sangat berbeda dengan mantan istrimu itu, jangan bandingkan aku"
Deg.
Dada Candra seakan bergemuruh saat mendengar ucapan dan bentakan dari Marisa, dia menatap pada Marisa dengan tatapan tajam yang sangat menusuk.
"YA KAU DAN ANDIN BERBEDA, SANGAT JAUH DAN BAGAIKAN BUMI DAN LANGIT. ANDIN ITU TERBAIK, DAN KAU? ENTAHLAH"
Dengan perasaan yang campur aduk, marah, kesal dan juga lelah akhirnya Candra mengeluarkan bentakan yang sangat keras. Bahkan setiap ucapannya penuh tekanan yang mana membuat Marisa terdiam kaget.
__ADS_1
Pada akhirnya Candra segera bersiap dan pergi ke perusahaan, mood nya sangat buruk saat ini.
Mobil melaju cukup kencang, emosi Candra masih naik dan beberapa kali Candra membuang nafas kasar agar tenang.
*
Di perusahaan Cahaya Gemilang, semua karyawan di buat bungkam dengan mood Candra yang sangat jelek.
Beberapa kali teguran sapa dari mereka hanya di balas anggukan saja, biasanya mereka akan mendapatkan balasan yang cukup ramah.
"Selamat datang kembali Tuan Gilang"
"Hmmm"
Ya, Ayah dari Marisa datang untuk mengecek perusahaan dan kerja dari sang menantunya. Apalagi pagi ini dia di kejutkan dengan aduan sang Putri yang menangis karena di bentak oleh Candra.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Tuan Gilang pun langsung menuju ke ruangan dimana Candra sedang berada saat ini.
"Apakah Candra ada?"
"Ada Tuan, silahkan masuk"
Ceklek.
"Ayah"
Tuan Gilang mengangguk saja, ia kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Candra saat ini.
Tatapan tajam serta intimidasi itu Candra dapatkan dari Ayah mertua nya, namun semua itu sudah bisa di tebak apa salah nya.
"Ini laporan keuangan dan hasil kerja ku selama menjabat jadi Direktur Ayah, lihatlah dulu dan setelah itu mari kita berbincang berdua"
Candra memberikan beberapa berkas kepada sang mertua, ia sendiri memilih menyelesaikan pekerjaan yang hanya sedikit lagi selagi sang mertua memeriksa berkas tersebut.
Tak lupa juga Candra memesan beberapa camilan dan juga minuman untuk menemani mereka mengobrol nanti nya.
*
Kini keduanya sudah duduk berhadapan, Candra hanya diam saja dan menunggu sang mertua berucap.
"Apa ada masalah sama kalian? Sehingga Marisa mengadu pada saya?"
__ADS_1
Tepat dugaan Candra, bahwa sang mertua datang karena aduan Istri nya yang sejak kemarin berdebat dan mencari gara-gara dengannya.
Huh.
"Tidak ada Ayah, aku hanya memberinya saran dan masukan agar dia mau melakukan apa yang aku inginkan, apa itu salah?"
"Aku hanya ingin dia menyambutku dengan senyuman dan setidaknya makan malam di Rumah bersama walaupun dia tidak pandai memasak"
Tuan Gilang mengangguk-anggukan kepala nya, dia mendengarkan cerita sang menantu dengan santai dan Candra pun tidak melebihkan atau mengurangi cerita pada sang mertua.
"Tapi tidak seharusnya kau membandingkan dia juga Candra, aku tak mau tau kau harus meminta maaf dan jangan membuat Putri ku bersedih"
Huh.
Candra membuang nafas dengan kasar, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
Dia memejamkan matanya sejenak setelah kepergian sang mertua yang membuat mood nya semakin turun.
Hingga pada akhirnya Candra memilih istirahat sebentar sebelum mengerjakan beberapa pekerjaan yang masih tertunda karena kedatangan sang mertua.
🐰
Tepat jam 7 malam Candra pulang dari perusahaan, dia melihat istrinya yang sedang duduk santai dengan memakan beberapa camilan yang sudah tersedia di depannya.
Tanpa menghiraukan sang Istri, Candra pun masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri yang sudah lengket.
Ceklek.
"Mas, mau makan malam?"
"Aku sudah kenyang, aku makan di warteg"
Candra masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Marisa yang kesal saat ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1