
Ibu mertua nya melongo melihat kelakuan sang menantu, bagaimana bisa ia menginginkan rujak mangga muda pagi ini dan di tambah cake lagi.
Namun, setelah itu Ibu tersenyum bahagia dan mengabulkan keinginan menantunya yang masih menunggu dengan berbinar.
"Biar sopir yang membeli mangga muda nya dan kita buat bumbu rujak nya, kalau cake kan udah ada di dalam kulkas"
Dengan semangat 45 Andin mengangguk, ia langsung mengikuti Ibu mertua nya dan duduk di kursi makan dengan damai.
Revan? Dia masih berada di luar Kota dan hari ini akan pulang setelah 3 hari di luar kota.
Dia terpaksa meninggalkan Andin dan Khansa karena memang ini sangat urgent, dan untung saja disana masih ada sang Ibu yang akan menginap lebih lama.
*
Acara makan rujak dan cake pun sudah terlewati, dan Andin saat ini tengah menunggu Revan yang katanya akan sampai namun tak sampai-sampai hingga detik ini juga.
Ini kemana sih, gumam Andin dengan kesal.
Andin memilih duduk di depan, dia menghirup udara dengan segar walaupun hari sudah beranjak siang.
Walaupun tak bisa melihat lalu lalang, tapi ia bisa melihat tanaman bunga yang memang sengaja ia tanam sudah tumbuh dan bahkan ada yang berbunga.
Lalu netra nya menatap sebuah mobil yang tak asing masuk ke halaman, Andin lansung berdiri dengan wajah bahagia nya.
"Sayang"
Khansa dan Revan pun mendekat ke arah Andin, keduanya sama-sama memeluk Andin dengan hangat.
"Bunda sudah enakan?"
Hah.
__ADS_1
Revan menatap Khansa dan Andin bergantian, lalu menatao Andin karena takut jika ia sedang sakit.
"Aku tidak apa, Mas. Ayo masuk"
Khansa memeluk lengan Andin dengan manja, ia lalu izin untuk mengganti pakaian dan istirahat sebentar sebelum nanti makan siang.
"Ibu dimana sayang?"
"Ibu lagi masak nasi liwet dengan ayam bakar, hehe"
Hah.
Lagi dan lagi Revan di buat melongo dengan tingkah dan ucapan dari sang Istri.
Namun, dia nanti akan bertanya pada sang Ibu apa yang telah terjadi selama ia pergi.
Andin mengerutkan kening kala menghirup bau yang membuat perut nya bergejolak mual, dan akhirnya Andin berlari ke arah wastafel di dapur dengan segera karena sudah tak sanggup menahan nya.
Ohek
"Sayang, kamu tidak apa?"
Revan memijat tengkuk Andin dengan telaten, ia sangat khawatir dan kebingungan saat melihat Istri nya begini.
Ibu datang dan memberikan air pada Andin, dia juga memberikannya tisu serta mengajaknya duduk lebih dulu.
"Mas, aku tak kuat bau pengharum ruangan di ruang keluarga. Tolong ganti dengan rasa jambu"
Pelayan yang mendengar hal itu pun langsung bergerak meski tanpa di perintah, dia lalu mengganti hampir semua pengharum ruangan.
*
__ADS_1
Andin terkulai lemas di atas ranjang, setelah muntah hebat ia kembali muntah saat ada pelayan yang membawa alat vacum namun ada wangi jeruk.
Dia kembali muntah hebat dan Revan memutuskan untuk memanggil Dokter saja.
"Nak, bagaimana perasaanmu?"
"Mual banget Bu, rasanya aku ingin ngemil mangga muda"
Ibu menganggukan kepala dengan cepat, lalu ia sendiri yang turun tangan mengambil nya dan memberikan pada sang menantu.
Dan tak lama setelah itu, Dokter pun tiba dan segera saja memeriksa Andin.
Sedangkan Revan, ia kebingungan dan juga khawatir dengan Andin saat ini.
"Bagaimana Dokter?"
"Anda tidak perlu khawatir Tuan, Nona saat ini baik-baik saja dan bahkan ia sedang hamil"
Hah.
"Ye aku punya adik bayi"
.
.
.
.
.
__ADS_1