
Setelah perdebatan hari itu, Candra sama sekali tidak pernah menegur Marisa sama sekali.
Bahkan Candra memutuskan pisah kamar bersama Marisa, ia merasakan kecewa yang amat sangat kecewa saat itu dan sampai sekarang.
Sudah terbilang 1 minggu sejak tragedi itu, dimana Candra menerima kekecewaan dari sang Istri yang amat sangat ia sayangi dengan sangat tulus.
Hari hari Candra bahkan terlihat semakin sibuk, ia menyibukan diri dan memperluas lagi perusahaannya.
Kedua mertua nya belum pernah datang, entah apa yang membuat mereka selalu saja banyak alasan untuk menjenguk Putri mereke, namun Candra sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya.
*
Hari ini adalah wekeend, Candra memutuskan istirahat di Rumah bersama orangtua nya yang memang ia paksa tinggal disana.
Tak.
Tak.
"Mas, minta uang buat shoping?"
Tangan lentik itu terulur di depan wajah Candra, namun dengan secepat kilat Candra menepis nya dengan wajah datar.
"Kemarin aku sudah mentransfer uang bulanan Rumah dan dirimu, jadi tak ada jatah lagi sampai 1 bulan kedepan"
Mata Marisa melotot tajam saat mendengar ucapan Candra, ia kira Suami nya akan lupa jika sudah memberikan uang bulanan dan uang itu sudah habis ia pakai membeli tas branded.
Bunda dan Ayah pergi dari sana, keduanya memutuskan untuk santai pagi di halaman belakang yang sudah beberapa hari ini mereka tanami dengan bunga.
Sedangkan di ruang keluarga, Marisa merasakan kesal yang luar biasa dan menghentakan kaki nya akibat begitu kesal.
"Apa susah nya sih Mas beri aku uang kembali-"
"Kau seharusnya diam di Rumah, jangan keluar dulu dan jangan hamburkan uangku"
Perkataan Marisa di potong lebih dulu oleh Candra, bahkan kini Candra memberikan tatapan tajam pada Marisa dengan tangan mengepal.
Huh.
Brak.
Pintu kamar di tutup dengan sangat kasar oleh Marisa, ia mengurung diri dengan kesal karena Candra yang sudah berubah sejak saat itu.
Aku harus mencari cara agar Mas Candra bisa luluh kembali padaku, hanya dengan hamil lagi maka ia akan luluh dan memenuhi keinginan ku lagi.
Ck, gara-gara setres saat itu hingga aku menegak minuman hara* itu dan mengakibatkan aku pusing hingga terjatuh di wc.
🐰
Sedangkan di ruang kerja, Candra duduk dengan menatap lurus ke arah jendela.
Helaan demi helaan ia keluarkan dengan begitu kasar, ia menatap foto kedua wanita yang berbeda usia di genggamannya.
"Kalian dimana? Aku sungguh merindukan kalian. Maafkan aku yang selalu saja egois, maafkan aku Andin"
Entah kenapa Candra merasakan rindu yang amat sangat rindu pada sosok Andin dan Putri nya, ia merasa begitu menyesal telah melepaskan keduanya hanya demi Marisa.
"Marisa, aku sudah belajar mencintaimu dengan sangat tulus dan cinta itu hadir saat aku tau kau mengandung anakku. Namun, hari demi hari kau selalu banyak tingkah dan seolah melupakan bayi dalam kandungan itu, hingga tragedi kemarin terjadi dan aku sangat kecewa padamu"
"Aku tak tau harus apa lagi sekarang Marisa, bertahan atau melepaskanmu yang sudah sangat susah aku bentuk? Ah entahlah aku sangat pusing dan kekecewaan masih melanda hatiku saat ini"
__ADS_1
Candra terus saja menatap foto tersebut, ia bahkan masih menyimpan banyak foto Andin dan Khansa di ruang kerja nya tanpa sepengetahuan dari Marisa tentu nya.
...****************...
Sedangkan di waktu yang sama namun berbeda lokasi, saat ini Andin sedang menyusun beberapa box makanan yang akan di kirimkan ke sebuah perusahaan besar.
Ya, Andin membuka jasa catering dari Rumah milik nya dengan sederhana. Namun, beberapa bulan terakhir ini usahanya melesat karena cita rasa dalam masakan itu sangat nikmat.
Resto Khansa'
Outlet pertama yang Andin buka di Kota Makasar, saat pembukaan Restoran itu nampak sangat banyak yang antusias dan hadir.
Hingga hari demi hari Resto tersebut banyak yang mengenal dan sampai saat ini Andin selalu mendapatkan pesanan dari beberapa orang untuk acara tertentu.
Seperti saat ini, dia akan mengirimkan hampir satu mobil box kecil untuk acara perusahaan yang terkenal dan paling besar. Perusahaan tersebut memang sudah beberapa kali menggunakan jasa nya dan kali ini Andin akan ikut serta karena Bos mereka ingin bertemu.
"Bi, aku akan sedikit lama di perusahaan itu dan jika Bibi lapar bisa minta ke pelayan ya"
"Nak, Bunda pergi dulu ya dan ingat jangan nakal"
Andin berpamitan pada Putri dan juga pengasuhnya, keduanya memang selalu ikut Andin ke Resto dan akan menunggu di ruangan yang di buat khusus untuk sang Putri oleh Andin.
Andin pergi bersama dengan salah satu karyawannya, ia menggunakan sendiri mobil nya dan karyawan lainnya menggunakan mobil box tadi.
"Bu, nanti kami akan menurunkan pesanan dan anda akan di antar oleh resepsionis ke ruangan Bos nya"
Penjelasan sang karyawan hanya mendapatkan anggukan dari Andin yang sedang fokus menyetir.
Hingga tak lama kemudian mobil yang membawa mereka pun tiba di halaman perusahaan yang sangat menjulang tinggi.
"Mbak Andin dari Resto Khansa?" sapa seseorang wanita yang begitu anggun.
Wanita tersebut tersenyum dan mengajak Andin untuk mengikuti nya, karena sang Bos sudah menunggu di ruangannya.
Ting.
Lift terbuka dan sampailah mereka di lantai paling tinggi perusahaan tersebut, Andin terus saja mengikuti kemana wanita di depannya melangkah.
Hingga sampailah mereka di ruangan Presedir, dan Andin pun di persilahkan masuk oleh wanita tadi.
Ceklek.
"Tuan, Nona Andin sudah tiba"
"Hmmm"
"Silahkan Nona duduk, saya permisi dulu"
Andin menganggukan kepala dengan tersenyum ramah, setelah nya ia duduk di sofa yang memang sudah ada disana.
Sedangkan sang presedir masih fokus pada layar di depannya dengan beberapa berkas yang menemani.
"Sudah ku duga pasti itu dirimu, Andin"
Hah.
Andin menatap pria di depannya dengan bingung, ia mencoba mengingat nya namun sama sekali tidak pernah bertemu ataupun kenal.
"Maaf Tuan, apa kita saling kenal?"
__ADS_1
Ehemm.
"Apa kau tak mengenaliku Andini?"
Deg.
Andini, Andin bergumam dengan jantung berdegup kencang. Dia mencoba mengingat siapa yang selalu memanggilnya dengan sebutan Andini.
Ahh.
"Revan"
Pria yang bernama Revan pun tersenyum bahagia, hingga tanpa sadar ia memeluk Andin dengan erat dan wajah penuh kebahagian.
Ehh.
Andin begitu kaget saat mendapatkan pelukan dari Revan, ia mencoba biasa saja namun tetap saja tegang dan agak tak nyaman.
"Maaf, aku terlalu bahagia hingga memelukmu dengan spontan"
"Apa kabarmu, Andin?"
"Bagaimana kehidupanmu sekarang? Ah dan dimana Candra?"
Pertanyaan beruntun Andin dapatkan dan ia hanya bisa menghela nafas kasar, ia kemudian mendengus kesal pada Revan yang ada di hadapannya.
"Aku baik-baik saja dan Candra ada di Rumah nya mungkin dengan Istri nya"
Deg.
Revan membulatkan mata nya dan senyum tipis tersungging jelas di bibir nya.
Namun Andin sama sekali tidak menyadari hal itu dan terus menundukan kepala nya.
"Apa kalian tak jadi menikah?"
Heh.
"Bisakah kita bahas masalah pekerjaan dulu Tuan Revan? Aku masih banyak pekerjaan dan belum lagi akan ada masuk bahan-bahan ke Resto nanti jam 11 siang"
Keluh Andin dengan wajah yang sangat kesal, namun Revan sangat suka dan terlihat menggemaskan.
Hingga pada akhirnya mereka membahas pekerjaan dan beberapa hal yang memang ingin Revan diskusikan, karena perusahaannya akan melakukan pesta sebentar lagi dan sudah pasti Resto Andin yang akan di pilih oleh Revan kembali.
Tepat jam 10 siang mereka menyelesaikan pembahasannya, dan setelah itu Andin berpamitan setelah memberikan kartu nama nya pada Revan.
"Andin, aku kembali dan sudah pasti akan merebut hatimu dengan seluruh perjuanganku"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1